
Hujan yang tak biasa di hari itu membasahi seluruh bajuku, tanpa kusadari air mataku jatuh sampai lupa cara tuk berhenti. Hati yang sedih, tubuh yang tidak bisa bergerak, diam dan hanya bisa menerima kenyataan. Engkau pergi jauh meninggalkanku untuk selamanya .
"Pagi yang cerah dengan angin yang berhembus pada tirai jendela kamarku, membuat mataku ingin terus tertutup dan mengingat semua kenangan denganmu," ucap Keenan dalam hati dengan tubuh yang terbaring dan mata yang tertutup.
"Tok!tok!tok!" suara mengetuk pintu
"Nan... bangunlah, ayo sarapan." panggil Kirey.
"Iya," jawab Keenan.
Keenan Kanaka, atau yang biasa di panggil Nan, adalah Seorang pemuda yang pendiam dan rendah hati. Nan yang saat ini berusia 21 tahun adalah anak dari seorang presdir perusahan, dan sedang berkuliah pada salah satu universitas yang ada ditempat tinggalnya, ia tinggal bersama dengan kedua kakaknya yaitu, Ezequiel Kanaka atau Eze, yang berumur 29 tahun dan Kirey Kanaka, yang berumur 25 tahun.
Eze adalah seorang Direktur dari salah satu perusahan keluarga mereka dan Kirey adalah seorang Dokter di salah satu rumah sakit yang di pimpin paman mereka. Eze seseorang yang perhatian, dan Kirey adalah seseorang yang ramah.
Mereka berdua selalu menjadi orang tua untuk Keenan, karena orang tua mereka tinggal dan bekerja di luar negri. walaupun mereka tergolong keluarga yang sangat kaya raya, tetapi mereka bertiga lebih memilih untuk hidup sederhana.
"Kenapa Keenan belum turun?" tanya Eze. "Dahlahhh ... nanti juga turun," Kirey menyiapkan sarapan.
Keenan turun menuruni tangga dengan wajah yang masih mengantuk, dan langsung menuju ke meja makan.
"Cuci muka dulu, Nan," ucap Eze.
Tanpa berkata, Keenan langsung ke kamar mandi dan mencuci mukanya, setelah itu kembali ke meja makan dan sarapan.
"Kuliahmu gimana?." tanya Eze.
"Baik." jawab Keenan.
"Terus ... skripsimu gimana?." tanya Kirey.
"Baik." jawab Keenan.
Saling bertatapan antara Eze dan Kirey sambil bertanya dengan bahasa isyarat.
"Dia kenapa sih?" lirih Eze
"Gak tau." balas bahasa isyarat Kirey mengangkat bahu
Selesai sarapan sekitar jam enam lewat tiga puluh, Eze dan Kirey pergi berangkat kerja. Keenan pun masuk ke kamarnya, membakar sebatang rokok dan menghidupkan laptop untuk mengerjakan skripsinya.
Rambut panjang, senyum yang manis dengan gigi yang tersusun rapi, foto Ansiera pacar Keenan yang telah meninggal dua tahun lalu terpasang di layar depan laptop Keenan. Ansiera adalah Gadis cantik, periang dan baik hati yang meninggal karena sakit kanker yang dialaminya.
Setiap dia melihat foto Ansiera, ia selalu tersenyum mengingat kenangan bersama Ansiera dulu. Tawa dan canda ansiera masih selalu tertanam di benak Keenan.
Sangat sulit bagi Keenan untuk melupakan Ansiera, karena Keenan sangat mencintai Ansiera. Dengan tersenyum melihat foto Ansiera, Keenan berkata, "Cintamu selalu abadi bersamaku, Ansiera."
Waktu jam makan siang pun telah tiba. Perut yang kosong, rokok yang telah habis membuat Keenan tidak fokus lagi mengerjakan skripsinya. HP nya bergetar nada telfon pun berdering, Gabriel nama yang menelpon adalah sahabat Keenan.
"Nan, teman-teman lagi kumpul nihh, ikut gak?" tanya Gabriel.
"Jemput." Keenan bergegas mandi.
"OK!" balas Gabriel dengan nada tegas.
"Berisik!" Keenan membukakan pintu rumah. Mereka berangkat pergi ke tempat makan yang sering di kunjungi dengan memggunakan motor milik Gabi, disana sudah ada Anabella, Enzo dan Zarah. mereka bertiga juga teman dekat Keenan.
Gabriel adalah seseorang yang suka bercanda, dia yang sering mengerjai teman temannya, Anabella adalah wanita yang perhatian dan selalu memarahi Gabi kalau dia mengerjai mereka, Enzo seseorang yang sangat cuek dan menyukai game, kemudian Zarah seseorang wanita yang baik hati dan suka makan. mereka semua berumur 21 tahun dan mereka berada pada tingkat akhir kuliah mereka.
Zarah yang tidak tahan lagi langsung memesan makanan setelah melihat mereka berdua datang.
"Bu Yen, kami pesan lima ya." ucap Zarah mengangkat tangan
"Makannya seperti biasakan?" tanya ibu Yeni memastikan.
"Iya, Bu," jawab mereka berlima.
Sambil menunggu makanan datang mereka bercerita mengenai kuliah yang tinggal beberapa bulan lagi akan selesai.
"Makanan datang, maaf ya soalnya banyak yang pesan juga," Ibu Yeni membawa makanan.
"Gak apa apa kok, Bu" sahut Bella.
"Huh, Akhirnya." ucap Zarah lelah menunggu.
"Nih, bagi dua punyaku Ra," ucap Enzo.
"Makasihhhh, Nzooo," balas Zarah merasa senang.
"Pacar kamu mana, Nzo?" tanya Bella. "Emang dia punya pacar ya?" sahut Gabi yang terlihat kebingungan
Enzo yang sedang asik main game tidak memperdulikan pembicaraan mereka berdua. "Nzo, makan dulu baru main lagi," ucap Bella. "Percuma ngomong sama orang mati Bell." sahut Gabi.
Seketika semuanya diam, Zarah dan Bella berhenti mengunyah makanan mereka serta mata mereka tertuju pada Gabi, Enzo yang sedang asik main game ikut menatap Gabi, hanya Keenan yang masih melahap makanannya dengan santai.
"Arrrggghhhhhh, sakitt sakittttt sakittttt," jerit Gabi kesakitan dicubit Bella.
"Ya Mmm- maaf," ucap Gabi tertunduk.
Mereka sangat paham rasa sedih yang di rasakan Keenan setelah kepergian Ansiera. Sudah banyak hal yang mereka lakukan untuk membuat Keenan melupakan ansiera, pernah sekali mereka mengenalkan seorang perempuan pada Keenan untuk menjalin hubungannya, namun ia tidak menghiraukan mereka. Ya, semua itu percuma.
Berbagai cerita telah mereka diskusikan hari itu, matahari telah terbenam hingga malam datang di kota itu.
Suasana yang sunyi di tempat kumpul mereka, membuat suara kendaraan di jalan semakin terdengar. Waktu tepat jam delapan malam, semuanya bersiap untuk pulang kerumah mereka masing-masing. Enzo dan Gabi sepakat untuk mengantar Zarah dan Bella pulang kerumah, dengan catatan Gabi harus kembali untuk mengantar Keenan pulang kerumahnya.
"Duluan ya, Nan," ucap Bella, Zarah dan Enzo.
"Balik dulu ya, Nan," sahut Gabi mengejek Keenan.
"Iya, nanti aku jalan kaki kerumah," Keenan mencari tempat duduk. Semuanya tertawa mendengarnya.
"Hati-hati di jalan teman-teman," ucap Keenan dengan senyum kepada teman-temannya. Keenan duduk sendiri, sambil menunggu Gabi datang tuk menjeputnya di emperan dekat tempat makan mereka.
Sebatang rokok diambil dari bungkusannya, menyalakan korek api untuk membakarnya. Terlintas wajah cantik Ansiera di pikirannya, membuat dirinya menarik napas panjang dan menghembuskannya. "Sangat Cantik," ungkap Keenan yang berbicara sendiri.
Dua batang rokok telah habis di hisap Keenan, bunyi motor Gabi terdengar jelas di telinga Keenan, pertanda kalau Gabi telah dekat. "Ayo brooo," ucap Gabi yang telah sampai. Setelah Keenan naik Gabriel langsung menancap gas motornya dengan kencang.