
Sekolah
"Tengtengtengteng," bunyi lonceng pulang sekolah.
"Gabi ...Gabi tunggu," Ansiera berlari menghampiri Gabi. "Jangan bilang kalau kamu mau tanya tentang temanku itu, Hadehhhh, sudahlah dia itu orangnya suka pendiam." tebak Gabi yang sudah tau maksud Ansiera.
"Ihh, sok tau kamu,"
"Yaiyalahhh, terus untuk apa panggil-panggil aku?"
"Ya, kitakan teman, salah aku manggil kamu?" yaudah, aku pulang sendiri," Ansiera meninggalkan Gabi.
"Yaudah sana, jangan telfon aku kalau susah di jalan ya, dadahh Ansiera," ucap Gabi mengejek Ansiera.
Dengan wajah marah, kesal dan cemberut Ansiera pergi meninggalkan Gabi. Ansiera pulang ke rumah dengan menaiki bus kota, biasanya Gabriel mengantar dia pulang, tapi karena mereka berdua hari ini tidak akur berujung Ansiera pulang sendiri.
Sebelum menaiki bus, ia harus berjalan ke halte terlebih dahulu, haltenya cukup jauh dari lingkungan sekolah mereka, dengan rasa lelah dan letih, tiba-tiba bunyi motor berhenti di belakangnya. Ansiera menengok kebelakang untuk melihat orang itu dan ternyata orang itu ialah laki-laki yang dia ingin temui selama ini, yang setiap hari ia tanyakan dari Gabi yaitu Keenan.
"Permisi," Ansiera ya?"
"I-ya, aaaaaad-aaa aap-aaaa," gagap Ansiera terlihat gugup di depan Keenan. "Gabi memintaku untuk mengembalikan buku yang dia pinjam darimu, katanya dia ada urusan penting, jadi dia tidak sempat memulangkannya," ungkap Keenan sambil tersenyum dan mengembalikan buku Ansiera.
"Maaf, bukan Gabi yang memulangkannya," maafkan temanku," lanjut Keenan menunduk.
"T-idak a-pa-apa, tidak apa-apa" gagap Ansiera dengan tangan yang menerima bukunya "Gabriel tolooooooollllllllllll, sejak kapan dia meminjam buku dariku?." sambung Ansiera dalam hati terlihat kebingungan.
"Ayo, aku antar pulang," ucap Keenan.
"Hah!!!!" Ansiera dengan wajah yang kaget.
"Aku antar pulang!" jelas Keenan dengan wajah serius meyakinkan Ansiera.
"Gak apa-apa, rumahku sudah dekat dari sini, hehe," balas Ansiera malu-malu.
"Ya, lebih baguskan?" pikir Keenan.
"Gak-gak, hari ini aku lagi suka jalan kaki, hehehe," ucap Ansiera.
"Yasudah, sampai jumpa," balas Keenan.
"Iya, sampai jumpa," balas Ansiera.
Keenan pergi menancap gas motornya melaju meninggalkan Ansiera yang berjalan kaki ke halte untuk menunggu bus.
"Arrrrrggggghhhh, bodohnya akuuuuuuu," ungkap penyesalan Ansiera. "Kenapa kamu menolak sih Ansieraaaaaaaaaa," sambung Ansiera pada dirinya
"Bodoh, bodoh, bodohhhh," Ansiera memarahi dirinya sendiri.
"Gabi telah membantuku, tapi, aaaarrrggghhhhhhhhh, sudahlah." lanjut Ansiera sangat menyesal.
Kesempatan yang cuma datang satu kali itu di sia-siakanya begitu saja karena rasa gugup dan malu yang berlebihan membuat dia berbicara tanpa berpikir terlebih dahulu. Ya, Ansiera pulang dengan tubuh yang tidak bersemangat.
...Keesokan Harinya....
- Sekolah ( Kelas ).
"Nan, kemarin buku Ansiera sudah di kembalikan kan?" tanya Gabi. "Sudah, buku itu punyamu kan?" tebak Keenan membuat Gabi kaget. "Kamu bohong kan, supaya aku bisa bertemu dengan dia? Makasih bro, akhirnya aku bisa bertemu dengan wanita yang aku suka," ungkap Keenan tersenyum.
"Hadehhhhh, yaudah kalian pacaran aja sana, kenapa libatkan aku," ucap Gabi.
"Dia yang libatkan kamu," balas Keenan.
"Kalian berdua sama," balas Gabi.
"Gabi, kok dia gak datang kesekolah ya?" tanya Keenan. "Siapa?" balas Gabi. "Ya Ansiera, siapa lagi?" jawab Keenan.
"Kata teman-temannya dia sakit," ucap Gabi.
"Serius kamu?" tanya Keenan. "Iya, tadi aku ke kelasnya, mau mengejeknya, tapi dia gak masuk sekolah, kata teman-temannya dia sedang sakit," ungkap Gabi.
"Ohh," ucap Keenan. Wajah murung terlihat jelas di raut wajah Keenan saat mendengar Ansiera sakit. "Kalau mau, setelah pulang sekolah kita kerumahnya," tawar Gabi mengetahui perasaan Keenan."Kamu tau rumahnya? Baiklahh," balas Keenan meneriman tawarannya dengan senang. "Hmmmm," balas Gabi.
-
Ingatanku lima tahun yang lalu, saat pertama kali aku bertemu denganmu dan saling bertatapan melihat satu sama lain. Hari itu, aku sangat bahagia bisa melihatmu dari jarak yang begitu dekat.
Pagi yang cerah kembali lagi menunjukan keindahannya, tibalah waktu dimana universitas mereka untuk melaksanakan proses wisuda, semua terlihat bahagia, seluruh keluarga dari masing-masing mahasiswa datang memenuhi gedung tempat wisuda.
Ibu dan Ayah Keenan datang dari Kanada untuk menyaksikan proses wisuda. Keenan telah bersiap-siap untuk pergi berangkat pakaian yang rapih telah ia kenakan, tak lupa dengan dasi hitam.
"Toktoktoktok!" suara ketuk pintu.
"Nan, ayo semua sudah siap," ucap Ibu Keenan.
"Iya, Bu," jawab Keenan.
"Sayangku, hari ini aku akan menerima gelar sarjana, apa kau bahagia? aku juga." ucap Keenan tersenyum melihat foto Ansiera.
Keenan turun menghampiri keluarganya yang sudah menunggunya di depan rumah, setibanya Keenan, mereka langsung pergi berangkat ke universitasnya.
Acara wisuda yang di laksanakan oleh universitasnya berjalan dengan sangat baik, nama-nama mahasiswa di panggil satu per satu dari berbagai macam fakultas dan jurusan mereka masing-masing. Keenan dan Anabella mendapat predikat Cumlaude, Cumlaude diberikan kepada mahasiswa yang berprestasi dibidangnya.
Setelah sekian lama acara wisuda di universitasnya berlangsung akhirnya selesai. Sesi foto-foto telah mereka lakukan dengan kedua orang tua mereka, Ibu Gabriel yang sakit juga berkesempatan hadir di tempat itu ditemani Ayahnya, tak lupa juga mereka berlima berfoto kece, keren, dan lucu.
Foto-foto telah selesai, mereka berlima berkumpul di kantin tempat mereka biasa duduk makan. "Yeeee, hahahahahaa, akhirnyaaaaa," rasa bahagia Zarah. "Gabi, mukamu kok cemberut gitu? kan kita semua sudah wisuda, senang dong," ucap Enzo.
"Hahaha, dia lagi sedih, kitakan udah mau pergi, cup cup cup," ejek Bella pada Gabi.
"Malas, ngomong sama kalian," ungkap Gabi yang terlihat marah.
"Hahahahahaha." tawa mereka berempat.
"Jangan sedih Bro, telfon aku kalau lagi sepi," ucap Keenan sambil memegang pundak Gabi.
"Nzo, tumben kamu gak main game?" tanya Zarah.
"Cerewet," balas Enzo.
"Abis ini kalian kemana?" tanya Bella. "Aku minggu depan sudah ke Inggris dengan ayahku, sebentar malam kita kumpul yuk, Gabi kita kumpul ya?" ungkap Bella. Gabi yang sedang tidak ingin berbicara mengacuhkan pertanyaan Bella.
"Boleh, sebentar aku akan meluangkan waktu untuk sahabatku Gabriel tercinta, hahaha," ucap Enzo dengan senang. "Oke, sebentar kita kumpul di ibu Yeni kan?" tanya Zarah.
"Ya mau dimana lagi, Ra?" ucap Enzo.
"Nan, bisakan?" tanya Bella.
"Iya, apasih yang gak buat Gabi," balas Keenan yang ingin membuat hati Gabi senang.
"Nan, kapan berangkat ke Kanada?" tanya Zarah.
"Minggu depan," jawab Keenan.
"Nan, kok kamu pergi secepat itu Nan?" ungkap Gabi dengan wajah yang sedih.
"Kamu kira cuma kamu yang sedih?" ucap tegas Enzo, Zarah, Bella dan Keenan pada Gabi.
Gabi langsung terdiam mendengar perkataan sahabat-sahabatnya itu. "Kita semua juga sendirian, jadi kalau ada yang rindu jangan lupa untuk video call, oke?" ucap Bella. "Oke!" sahut mereka berempat.
Sampai malam berlalu, mereka menepati janji mereka pada Gabriel untuk berkumpul. Malam yang indah itu mereka habiskan untuk bertemu satu sama lain. Sampai hari dimana mereka semua berpisah, mereka selalu menjadi sahabat.