Waiting for Love

Waiting for Love
LULUS



**1 Tahun kemudian


Di kelas pagi hari**


Aku dan Chika satu kelas lagi.


"Harumi, kamu sudah mengejarkan PR yang dikasih kemarin? (tanya Chika)


"Sudah Chika. Kenapa memangnya?" (jawab Harumi)


"Boleh aku lihat? Aku belum mengerjakannya sama sekali." (kata Chika dengan wajah murung)


"Boleh kok. Ini...." (kata Harumi sambil memberikan bukunya ke Chika)


"Thank u Harumi." (kata Chika dan langsung mengejarkannya)


Dan pelajaran dimulai selama 2 jam.


(ting ting ting bel berbunyi)


Waktunya Istirahat


Di tempat biasanya


"Mulai sekarang apa yang kamu lakukan?" (tanya Chika)


"Entahlah. Aku juga bosan. Kita kan sudah kelas 3 dan sebentar lagi Ujian akan dimulai. Fokus dulu ke ujian Chika." (kata Harumi sambil memikirkan sesuatu)


"Iya Harumi. Oh iya kamu SMA masuk kemana?" (tanya Chika)


"Kalau bisa di SMA TOKYO juga. Tapi tergantung ujian besok kita. Kalau kamu dimana?" (tanya Harumi balik)


"Kalau itu aku juga gak tau. Semoga kita bisa satu sekolah lagi." (kata Chika dengan tersenyum)


"Iya. Ngomong - ngomong Gion juga bakal di SMA TOKYO gak yah?" (tanya Harumi dengan wajah murung)


"Nah kalau itu aku gak tau juga Harumi. Kenapa emangnya?" (kata Chika dengan melihat wajah Harumi)


"Semoga dia gak sekolah di SMA TOKYO." (kata Harumi dengan penuh harapan)


"Iya, tapi kata gosip yang beredar dia bakalan sekolah di luar kota Harumi." (kata Chika)


"Oh iya? Kalau gitu syukurlah." (kata Harumi dengan menghela nafas)


"Tapi aku gak tau lagi yah itu gosip beneran atau enggak." (kata Chika)


"Iya Chika. Semoga saja beneran." (kata Harumi dengan perasaan lega)


Sekian lama mengobrol tidak terasa jam istirahatpun berakhir. Dan pelajaranpun kembali dimulai sekitar 2 jam dan akhirnya pulang.


10 Bulan kemudian.


Siswa Siswi SMP TOKYO sekarang sedang menghadapi ujian untuk menentukan akan masuk ke sekolah mana.


Harumi, Chika, Amaya, Gion sedang menghadapi ujian dengan sangat serius.


2 bulan kemudian.


"Para Siswa Siswi kelas 3 SMP TOKYO akan dipanggil satu persatu. Namanya dipanggil silahkan maju ke depan untuk pengambilan Ijazah dan Kertas berisi Tidak Lulusnya siswa siswi SMP TOKYO dan harap menunggu siswa siswi dipanggil hingga selesai lalu membuka kertasnya bersama - sama." (kata kepala sekolah SMP TOKYO)


Sekian banyak siswa siswi yang dipanggil nama Harumipun dipanggil,  kemudian Chika, Amaya, teman kelas lainnya, Juga Gionpun dipanggil.


Semuanya telah dipanggil sekitar 2 jam.


"Siswa siswi SMP TOKYO kelas 3 harap bersiap mempersiapkan kertas yang diberi tadi dan aku hitung 1 2 3 kertas di buka yah." (kata kepala sekolah)


"Iya bapak kepala sekolah." (jawab serentak siswa siswi)


"Aku mulai.  1............2...................3.... BUKA KERTASNYA." (kata kepala sekolah)


Siswa siswi membuka kertasnya dan........


"AAAAAHHHHH.......  AKU LULUS........." (kata siswa siswi dengan serempak sambil berdiri melemparkan kertas tulisan lulus ke atas)


"Kamu Lulus Harumi?" (tanya Chika dengan sangat senang?)


"Lulus Chika. Kamu lulus juga kah?" (tanya balik Harumi dengan sangat senang)


"Aku juga lulus Harumi." (jawab Chika dengan sangat senang juga)


Harumi dan Chika berpelukan dan menangis bahagia karena mereka berdua lulus. Siswa siswi lainnya pun juga begitu.


Hari besoknya sekolah sudah libur. Dan akhirnya Harumi dan Chika menjadi Lulusan dari alumni SMP TOKYO.


Di taman dekat rumah Harumi.


"Ada apa Chika kamu memanggilku kesini?" (tanya Harumi)


"Harumi aku minta maaf sebelumnya kalau aku punya salah ke kamu." (jawab Chika dengan wajah sedih)


"Kenapa Chika?  Ada apa?"  (tanya Harumi dengan wajah oenuh kebingungan)


"Kita tidak bisa satu sekolah di SMA TOKYO." (jawab Chika dengan menangis)


"Loh?  Kenapa Chika? Apa kamu membenciku sehingga kamu tidak mau satu sekolah denganku?" (tanya Harumi dengan wajah sedih)


"Tidak. Tidak Harumi. Aku tidak membencimu." (jawab Chika dengan memegang tangan Harumi)


"Terus kenapa?" (tanya Harumi dengan wajah hampir menangis)


"Orang tuaku pekerjaannya dipindah ke luar kota jadi mau gak mau aku harus ikut makanya aku tidak bisa satu sekolah denganmu. Maaf yah Harumi." (jawab Chika dengan menangis dan memeluk Harumi)


"Hmm ya sudah Chika kalau orang tuamu pekerjaannya dipindah juga gak apa apa. Tapi kita kan tetap sahabat selamanya kan?" (jawab Harumi dengan terharu dan menangis)


"Iya kita bakal akan jadi sahabat walau jauh namun dekat dihati." (kata Chika dengan menangis dan tersenyum)


"Ahh bisa saja kamu Chika. Aku kira kamu membenciku atau gimana. Kaget tau aku." (kata Harumi dengan tersenyum)


"Hahaha maaf yah Harumi telah mengagetkan kamu." (kata Chika dengan tersenyum)


To Be Continued