
Melly menatap heran akan sosok lelaki yang ada dihadapannya saat ini. Dipandangnya lekat-lekat lelaki dengan jaket jeans berwarna hitam, celana bahan berwarna hitam pula serta sepatu pantofel yang menghiasi kakinya dan tak lupa sarung tangan dan masker yang menempel ditubuhnya.
Melly mengingat-ingat akan sosok lelaki ini yang menurutnya tidaklah asing. Ia hanya diam tanpa mau bertanya akan siapa yang memanggilnya dengan sebutan manis.
"Mel, ini aku Jevin. Temannya Aldo." Melly baru menyadari bahwa benar ia tak asing dengannya, ternyata dia adalah Jevin. Lelaki yang beberapa kali ia jumpai disaat yang tidak terduga.
"Kau masih mengingatku kan?" tanya Jevin kembali. Jevin seperti mengajak berbicara kepada patung yang tak pernah mendapat jawaban.
"Iya." Melly menjawab singkat. Ia menatap ke arah jalan dengan cemas seperti sedang menunggu sesuatu.
"Kau sedang apa disini?" Jevin kali ini menepikan motornya dan turun dari motornya. Ia berjalan kearah Melly yang duduk dibangku halte. Dengan perlahan ia mendudukkan bokongnya persis disampingnya, hanya diberi jarak mungkin sekitar 15cm.
"Aku sedang menunggu supirku." jawab Melly tanpa melihatnya. Wanita itu terlihat menggerakan tangannya untuk menelfon seseorang.
"Pak, sudah dimana?" Melly berdiri dan berjalan agak menjauh darinya. Namun Jevin masih bisa mendengar percakapan Melly.
"Terus saya gimana, Pak?" terdengar suara Melly yang sedikit keras.
Wanita itu terlihat menghentakkan kakinya merasa sebal. Wajahnya berubah menjadi cemberut.
Jevin pun menghampiri Melly.
"Kau kenapa Mel?" Jevin bertanya selembut mungkin, mengingat wanita itu sedang dalam mood yang tidak baik.
"Tidak, tidak apa-apa."
Lalu Melly menelfon seseorang lagi.
"Hallo Kak Aldo, kakak lagi sibuk tidak?"
Jevin merasa bahwa Melly sedang menelfon Aldo temannya, yang adalah sepupu dari Melly.
"Kakak bisa jemput aku? Kakak sudah pulang dari kantor kan? Posisiku ada didekat kantor kok."
"Aldo, Aldo ini aku Jevin. Aku lagi disini sama Melly." Jevin teriak berharap Aldo mendengar suaranya. Ia berharap Aldo tidak bisa menjemput Melly dan biar dia saja yang mengantarkan Melly pulang.
"Kau bisa diam tidak" bentak Melly yang sudah merasa kesal akan lelaki yang ada dihadapannya. Ia merasa lelaki ini selalu mengganggu dirinya.
"Apa? Tidak mau." Melly tiba-tiba mematikan panggilannya dengan Aldo.
Suara dering ponsel milik Jevin berbunyi, nama Aldo tertera dilayar ponselnya.
"Hallo Do" Jevin tersenyum senang, setelah mendengar apa yang diucapkan Aldo.
"Kau sudah tau kan, Mel?"
"Ayo kita pulang" ajak Jevin. Aldo berpesan agar Jevin mengantarkan Melly pulang. Karna ia baru saja tiba di rumahnya, merasa malas jika harus balik lagi ke arah kantornya.
"Tidak mau, aku akan naik taxi saja."
"Mana ada taxi? Kau sepertinya sudah tahu, kalau disini jarang lewat taxi."
Melly pun melihat ke arah Jevin dan beralih ke motornya.
"Naik motor?" tanya Melly.
"Iya, kau anti naik motor?" Jevin merasa kalau Melly sedang mengejeknya.
"Bukan itu, maksudku aku kan gak ada helm."
Jevin pun baru tersadar, ia hanya mempunyai satu helm. Bagaimana mungkin Melly membonceng dirinya tanpa menggunakan helm.
Saat ia sedang memikirkan bagaimana caranya agar ia bisa mengantarkan Melly pulang, terlihat dari jauh ada toko yang sepertinya menjual helm.
Jevin berpesan kepada Melly agar tak kemana-mana, ia mengatakan akan membelikan helm untuknya.
Tidak butuh waktu lama, Jevin kembali dengan membawa sebuah helm berwarna coklat. Warna yang klasik namun tetap trendy.
"Berapa ini? aku ganti aja uangnya" Melly merogoh tasnya untuk mengambil dompet tapi dicegah oleh Jevin.
"Gak usah, anggap aja ini awal dari cara aku nafkahin kamu, dengan membeli barang yang sedang kamu butuhkan." Jevin tertawa dalam hatinya.
"Bicara apa sih aku ini. Aku benar-benar nervous sekarang. Ya Tuhan..."
Melly tak mempedulikan ocehan dari lelaki dihadapannya ini. Wanita itu segera menaiki motor milik Jevin. Walaupun motornya tidak terlalu mewah, namun cukup nyaman.
"Kau harus jawab beberapa pertanyaanku terlebih dahulu, baru aku akan membawa motor ini agar cepat sampai di rumahmu." Jevin menggunakan kesempatan ini untuk mengetahui lebih jauh dari wanita yang ia bonceng saat ini.
"Kau mengancamku?" Melly semakin kesal dan memukul bahu Jevin beberapa kali, membuat lelaki itu mengaduh kesakitan.
"Kau mau menganiayaku?"
"Tinggal jawab saja apa susahnya." Jevin semakin membuat Melly terpojok.
"Iya apa?" Melly pun menyerah, ia tak ada pilihan lain.
"Kau tadi kenapa bisa ada di halte tadi? Sendirian pula."
"Aku sengaja turun disitu dari mobil temanku untuk menunggu sopir. Tapi ternyata mobilnya lagi di bengkel."
"Oh... kau habis darimana?"
"Dari cafe."
"Kenapa kau tak minta jemput sama kekasihmu?"
Melly pun mendengus kesal, lelaki ini seperti sedang mengintrogasinya.
"Dia sibuk sedang bekerja"
"Apa kau sudah menghubunginya?"
"Belum, tapi aku tak mau mengganggunya saja."
"Kenapa?"
"Kau antara bertanya dan kepo sama hidup orang ya?"
"Hehehe.. baiklah. Ini pertanyaan terakhir, buah apa yang tidak kau sukai?"
"Buah yang tidak ku sukai? Hmm.. jeruk."
Setelah mendengar jawaban Melly, Jevin pun langsung melajukan motornya dengan cepat.
Tiba di rumah Melly, hari sudah semakin petang. Tanpa berlama-lama, Jevin pun langsung pulang menuju kost-annya setelah menunggu Melly masuk ke dalam rumah dengan selamat.
Sepanjang perjalanan Jevin terus memikirkan Melly. Entah mengapa bayang-bayang Melly selalu terlintas dipikirannya. Sosoknya yang anggun namun jutek menjadi nilai plus tersendiri.
Disaat sedang berhenti dilampu merah, Jevin melihat seorang Nenek disebrang jalan sedang kesusahan membawa barang-barang yang berada ditangannya. Dengan sigap Jevin menghampiri Nenek tua itu untuk membantunya. Dikarenakan jalanan yang lumayan sepi, jadi tidak banyak orang yang melintasi jalan itu.
"Nenek mau kemana? Mari saya antar" Jevin memberikan tumpangan kepada Nenek tersebut.
"Aduh... baik sekali kamu anak ganteng, siapa nama kamu?" Nenek itu melepaskan barang belanjaannya dan menatap sang pemuda itu.
"Jevin, Nek. Nenek mau kemana?" Jevin bertanya kembali ke Nenek tersebut.
"Saya mau ke arah sana, namun saya tidak tahu harus naik kendaraan apa. Karna saya baru saja datang ke Jakarta kemarin." Nenek itu merasa kebingungan. Terlihat tubuhnya yang ringkih dan banyak peluh yang menempel membuat Jevin tidak tega melihatnya.
"Waktu berangkatnya Nenek naik apa?" tanya Jevin lagi.
"Naik ojek, terus saya cari-cari tidak ada ojek disini." keluh sang Nenek.
"Ya udah,mari saya antar Nenek pulang." Jevin mengambil barang belanjaan sang Nenek untuk ia taruh dimotornya.
Karna sudah petang, Jevin pun tidak khawatir adanya razia karna Nenek tidak memakai helm. Jevin melajukan motornya dengan kecepatan sedang.
Tepat didepan sebuah rumah yang sangat sederhana namun terlihat rapi dari luar, sang Nenek menyuruh untuk berhenti.
Seorang wanita terlihat keluar dari rumah tersebut dan langsung menghampiri sang Nenek. Wanita itu menatap Jevin dengan heran.
.
.
.
Selamat membaca......