THIS IS TRUE LOVE

THIS IS TRUE LOVE
BAB 6 Manis



Berjalannya waktu, Jevin sudah paham akan semua pekerjaan dia di kantor.


Hari-harinya di kantor, ia lalui dengan senang hati.


Saat ini Jevin sedang bersama Miko dan Tania di kantin, mereka satu divisi pekerjaan.


Sedangkan Aldo beda divisi dan terkadang ia makan siang diluar kantor bersama teman sedivisinya.


**


"Kau ini lama sekali, aku seperti supir yang sedang menunggu tuan besarnya selesai bekerja" Aldo kesal karna menunggu Jevin diparkiran dari tadi, padahal jam pulang sudah berlalu setengah jam yang lalu.


"Maaf Do, kerjaanku tadi belum selesai. Aku ingin menghubungimu tidak bisa karna ponselku mati dan Tania juga tak mempunyai nomer ponselmu. Aku ingin pulang naik bus saja bersama Tania. Kasian dia pulang sendirian." Jevin menunjuk Tania yang ada disebelahnya.


"Apa??? Aku sudah menunggu dari tadi lalu kau ingin pulang naik bus" Aldo menjeda sejenak ucapannya dan berfikir.


"Aku akan mengantarkanmu juga, cepatlah masuk" Aldo melihat kearah Tania sekilas.


Tania tersenyum senang tapi hanya sebentar karna ia tau, Aldo terpaksa mengantarkan dirinya.


"Tidak usah repot-repot kak Aldo, aku bisa naik bus saja. Jev, kau pulanglah bersama Kak Aldo. Aku sudah biasa naik bus sendirian. " Tania tersenyum terpaksa.


Jevin melihatnya merasa iba, ia paham akan perasaan Tania saat ini.


"Do, mulai besok kau tak perlu mengantar jemputku lagi. Aku akan beli motor saja nanti yang second. Kau tolong bantu cari info tentang motor second yang murah. Hmm.. Tania kau hati-hati, kalau ada apa-apa segera hubungi aku."


Tania berlalu pergi dari sana setelah mengiyakan perkataan Jevin.


"Kau kenapa?Apa aku berbuat kesalahan sehingga kau tak mau berangkat kerja bersamaku lagi? Kau ini aneh-aneh saja, kapan lagi ada teman yang se.. " Perkataan Aldo terpotong. Saat jevin memotong ucapannya.


"Diam kau... " Jevin merasa kesal akan ketidakpekaannya.


Tania merasa diacuhkan, karna selama ini Aldo tak pernah memberinya tumpangan untuk pulang walaupun selalu bertemu saat diparkiran dan juga arah jalan pulang mereka sama.


Jevin sudah berulang kali bilang untuk memberinya tumpangan, tapi Aldo beralasan Tania bisa pulang sendiri dan sudah terbiasa.


Dan tadi pun saat Aldo menawari Tania tumpangan juga terkesan terpaksa sekali.


Jevin merasakan itu.


Sepanjang perjalanan Jevin hanya diam sambil menatap kesembarang arah.


Walaupun Jevin baru mengenal beberapa hari dengan Tania, tapi sungguh Tania orangnya tulus dan baik sekali.


Tania selalu membantu pekerjaannya jika Jevin kesusahan.


Bukan hanya Jevin saja, temannya yang lain juga ia perlakukan sama seperti Miko juga.


"Haloo.... Hey... Jev... Jevin.. "


Jevin yang dipanggil tidak mendengar karna masih melamun.


Tepukan bahu dari Aldo membuat Jevin berjingkat.


"Apa???" Jevin masih merasa kesal.


"Kau kenapa si, PMS?" tanya Aldo yang mengernyit bingung karna Jevin seperti sedang kesal.


"Terima kasih atas tumpangan kamu selama ini, mulai besok tak perlu kau menjemputku lagi atau mengantarku pulang. Sekali lagi terima kasih semoga kamu segera diberi hidayah" lalu Jevin turun dari mobil


"Maksud kau apa? Kau kira aku sedang dijalan yang tidak benar??" Jevin yang mendengarnya malah pura-pura tidak mendengar dan segera masuk kedalam kostannya.


**


Bremmm.. Bremmm... tittt.. titt. ..tittttt


Suara dari bunyi motor yang baru saja Jevin beli, akhirnya ia mendapatkan motor second dengan harga murah.


Sebenarnya di Semarang Jevin mempunyai sepeda motor tapi sudah ia berikan kepada Alesya dan Vika untuk mereka berangkat sekolah.


Karna motor dirumah cuma ada dua, dan satunya dipakai bapak berangkat bekerja.


Hari ini ia akan berangkat kuliah naik motor.


Jaket jeans, masker dan sarung tangan tak lupa ia pakai agar terhindar dari debu dan panasnya sinar matahari.


Sekitar 20 menit Jevin baru sampai di kampus lalu ia menuju kantin karna masih 25menit lagi kelasnya akan dimulai.


Ia sengaja berangkat awal karna ingin sarapan terlebih dahulu.


"Jus alpukatnya kosong mba ,tinggal jus jeruk saja" jawab pelayan yang sedang melayani seorang wanita.


"Hmm.. es teh aja deh mas" jawab wanita itu sambil memainkan ponselnya.


Sayup-sayup Jevin mendengar suara yang tidak asing. Saat ini Jevin masih memandangi wanita itu dari kejauhan.


"Dia tampak manis sekali hari ini, andai.... "


"Jev, kau sudah datang? " seketika lamunan Jevin memudar tatkala teman barunya ini mengagetkannya.


"Ahhhh kau ini.. merusak suasana saja." Jevin merasa kesal.


"Kau menyukai Melly?" Jevin mengalihkan pandangannya kepada Romi.


"Kau mengenalnya?" tanya Jevin seksama.


"Hanya kenal namanya saja ,semua wanita cantik dikampus ini aku tau" jawab Romi bangga.


**


Kelas pun selesai , Jevin segera keparkiran untuk mengambil motornya.


"Hai manis... " Jevin menghampiri Melly yang berada di halte dekat kampusnya, mungkin ia sedang menunggu jemputan.


"Namaku Melly bukan manis" ketus Melly.


"Baiklah, kau sedang apa Mel disini?"


"Menunggu jemputan"


"Kekasihmu? "


"Iya"


"Kekasihmu setiap hari menjemput?"


"Tidak"


"Pulanglah bersamaku, jika kau tidak ada yang menjemput"


Tanpa mendengar jawaban Melly, Jevin segera melajukan motornya.


🎶Kurasa 'ku sedang jatuh cinta


Karena rasanya ini berbeda


Oh, apakah ini memang cinta?


Selalu berbeda saat menatapnya (hu)


Mengapa aku begini?


Hilang berani dekat denganmu


Ingin 'ku memilikimu


Tapi aku tak tahu


Bagaimana caranya?


Tolong katakan pada dirinya


Lagu ini kutuliskan untuknya


Namanya selalu kusebut dalam doa


Sampai aku mampu


Ucap maukah denganku🎶


(Tolong, Budi doremi)


Saat Jevin sedang melewati lorong kostannya, ia mendengar lagu yang sangat mewakili perasaannya saat ini.


Ia tak pernah menyangka bisa menaruh hati kepada wanita yang sudah memiliki kekasih.


Ia melihat Melly sosok wanita yang berbeda dengan wanita-wanita yang pernah ia jumpai sebelumnya.


Ia tidak berniat untuk merusak hubungan orang, tapi tidak ada salahnya jika ia mencintainya.


Jevin baru saja merebahkan badannya diatas kasur namun suara ketokan pintu membuatnya harus bangkit kembali karna pintunya ia kunci.


"Haii.... " senyuman Aldo yang sangat menggelikan itu disambut tatapan tajam dari Jevin.


"Kau lagi, kau lagiii... " Jevin ingin menutup pintunya kembali namun Aldo dengan sigap langsung menahan dengan tangannya, membuat Jevin mengalah dan mempersilahkan temannya itu untuk masuk.


"Kau kenapa si ,seperti perempuan saja suka marah-marah. Jika aku punya salah tolong maafkanlah, Jev. "


"Kau tak perlu meminta maaf kepadaku, minta maaflah kepada Tania. Kau harus bertanggung jawab atas apa yang telah kau lakukan selama ini terhadapnya." Jevin berbicara sambil melototkan kedua matanya, membuat Aldo beringsut mundur karna takut.


"Aku??? Aku melakukan apa terhadapnya?" tanya Aldo karna bingung.


"Selama ini kau memperlakukannya tidak baik, okelah kalau kau tak menerima cintanya tapi apa salahnya jika kau masih berteman dan memperlakukannya seperti teman yang lain."


Jevin merasa kesal karna Aldo tidak menyadari kesalahannya selama ini terhadap Tania.


.


.


Selamat membacaaaaa.....