THIS IS TRUE LOVE

THIS IS TRUE LOVE
BAB 8 Wanita Cantik



"Jev, kau serius kan dengan perkataanmu tadi siang?" Aldo menghampiri Jevin yang sedang menstarter motornya.


Sudah tiba jam pulang kantor. Aldo yang masih tak percaya dengan ucapan Jevin tadi siang, akhirnya mencoba bertanya kembali.


"Kau ini takut tidak laku apa bagaimana?" ejek Jevin sambil menggeleng-gelengkan kepala.


"Aku laku kok, tapi wanita yang suka sama aku pasti bukan type-ku." keluh Aldo yang sering disukai wanita, namun bukan typekalnya dan salah satunya adalah Tania.


"Lalu type-mu yang seperti apa?" tanya Jevin.


"Kau lupa? kita pernah mencintai wanita yang sama, sudah jelas seleraku ya yang sepertimu" Aldo memukul bahu Jevin dengan bebasnya, membuat Jevin mendengus kesal.


"Tania bukan type-mu?" Jevin menatap Aldo menunggu sebuah jawaban, walaupun ia sudah tahu akan jawabannya.


"Dia seleramu bukan? bukan kan? jadi kita sama-sama tidak suka wanita sepertinya." Aldo tersenyum kecut, merasa malas jika membahas tentang Tania. Dan Aldo membalikkan tubuhnya untuk menuju ke mobilnya.


"Tania..." Aldo kaget saat melihat Tania berada persis dibelakangnya dan Jevin. Jevin langsung turun dari motor untuk lebih leluasa melihat ke arah belakang.


"Jev, ini kunci punyamu atau bukan?" Tania menyodorkan kunci yang ia temukan di depan meja kerja Jevin tadi. Ia pikir itu mungkin kunci kost-annya. Dengan langkah cepat ia berjalan menuju parkiran berharap Jevin belum pulang.


"Ohh.. astaga, iya benar ini kunci kost-anku. Terima kasih Tania." ucapnya kemudian setelah menyadari jika itu memang benar kunci kost-annya.


"Iya sama-sama" Tania menjawab sambil berlalu pergi dari sana.


Jevin menyenggol-nyenggol lengan Aldo, memberi isyarat. Aldo yang tidak paham, menatap Jevin dengan heran.


"Nia.... tunggu." Jevin akhirnya yang bersuara.


"Kata Aldo, mulai besok Aldo akan menjemputmu setiap pagi agar ke kantor barsama. Iya kan Do?"


"Hah apa?" Jevin menatap tajam Aldo.


"Oh ya ya, besok aku akan menjemputmu setiap pagi." jawab Aldo terpaksa, masih ada rasa malas jika harus berhubungan dengan Tania. Demi mendapatkan kenalan wanita, Aldo pun mengiyakan permintaan temannya. Ia tak sabar, wanita seperti apa yang akan dikenalkan oleh Jevin kepadanya. Ia tak meragukan pesona Jevin yang sering mendapatkan teman wanita yang cantik-cantik.


Tania mengalihkan pandangan ke Aldo. Namun tetap saja Aldo menatapnya dengan pandangan yang tidak hangat. Walaupun saat ini ia sedang tersenyum kepadanya, namun matanya seperti menyirat kebencian yang mendalam.


"Aku bisa berangkat sendiri kok, Kak Aldo" tolaknya kemudian. Tania tidak tahu apa yang menyebabkan Aldo mau menjemputnya nanti. Walaupun hatinya merasakan senang, namun jika melihat mata lelaki itu hatinya merasa sakit. Tak ada ketulusan yang terpancar dari matanya. Walaupun Aldo selalu bersikap dingin padanya, namun hingga saat ini ia masih menyimpan perasaan yang dalam kepada Aldo.


"Aldo butuh teman katanya, sudahlah terima saja Tania. Dia suka cerita katanya kesepian di mobil. Karna sekarang aku kan naik motor, gak nebeng dia lagi" rayu Jevin. Sedangkan Aldo membelalakan matanya tidak percaya atas ucapan Jevin barusan. Jevin ini terlalu mengada-ngada.


"Tapi aku----"


"Besok tunggu saja didepan rumahmu, aku kan menjemput. Awas saja kalau kau sudah berangkat duluan" ancam Aldo setelah mengacungkan jari telunjuknya ke arah Tania.Dan Tania pun akhirnya mengangguk patuh.


***


Jevin menghentikan sepeda motornya didepan minimarket yang tidaklah jauh dari kantornya. Ia masuk kedalam dan membeli sebotol minuman segar. Ia jenuh jika harus langsung pulang ke kost, akhirnya ia memilih untuk duduk sebentar disini sambil memikirkan wanita mana yang harus ia kenalkan ke Aldo.


Sebenarnya ia tak mempunyai teman wanita selain Tania, untuk saat ini. Di kampus juga ia tak populer, banyak lelaki tampan yang levelnya berada diatasnya. Lelaki tampan dan tajir lebih tepatnya. Walaupun wajah Jevin tidak jelek-jelek amat, namun ia kalah jauh famous dari lelaki tajir yang ada di kampusnya.


Ia mengambil ponsel yang berada disakunya.Terlihat ada 7 panggilan tak terjawab yang tertera dilayar ponselnya. Sungguh ia tak tahu jika tadi pagi ada yang menelfonnya.


"Aku ini manusia purba atau apa sih. Kenapa seharian ini aku tidak membuka ponsel sama sekali. Ya Tuhan... untung saja bukan Ibu yang menelfon, jika Ibu yang menelfon lalu tidak aku angkat ,bisa dicoret aku dari Kartu Keluarga."


"Nomer siapa ini?" tertera nomer ponsel yang asing untuknya, namun ia berusaha mengacuhkannya walaupun sedikit penasaran.


"*Apa jangan-jangan ini nomer wanita cantik? yang pernah mengejar aku dulu. Hahahaa bisa saja, Maura kan yang dulu sempat menghapusi nomer wanita diponselku."


"Coba aku telfon kali ya, barangkali penting sampai menelfon sebanyak ini. Dan jika benar wanita, aku kenalin sajalah dengan Aldo*."


Tangan Jevin tergerak untuk menelfon balik nomer tersebut, tak butuh waktu lama panggilannya terjawab dari sebrang sana.


"Halo, kamu siapa ya? tadi pagi menelfonku berkali-kali?" tanya Jevin beruntun saat mengetahui panggilannya sudah terjawab.


"Akhirnya kau mau menelfonku juga, aku kangen sama kamu Jevin. Aku tadi pagi menelfonmu karna ingin memberitahu kalau besok aku ke Jakarta. Tunggu kedatanganku ya" suara centil terdengar cukup menggelikan ditelinga Jevin. Ia merutuki kebodohannya yang dengan gegabah menelfon balik nomer yang tak dikenalnya.


"Kau... kenapa menelfonku dengan nomer baru. Aku kira dari Ibu makanya aku telfon balik, jika tahu itu kau, aku tak kan menelfonmu." Jevin terpaksa berbohong karna sudah terlanjur malu.


"Ponselku hilang, jadi aku beli kartu lagi. Btw makasih ya sudah mau menelfon balik, akhirnya aku bisa mendengar suaramu lagi." ucap Maura kegirangan.


"Aku masih ada di dunia ini, suaraku masih bisa terdengar kapan pun." jawab Jevin ketus.


"Oh maksudnya kau ingin aku selalu mendengar suaramu?" goda Maura.


"Eh.. bukan seperti itu. Sudahlah aku sibuk." Jevin mematikan panggilannya sepihak. Membuat Maura semakin gemas dengan tingkah Jevin.


"Hmm tunggu.. apa aku kenalkan saja Maura dengan Aldo? agar Maura tidak mengejar-ngejarku lagi. Lagipula kata Aldo, saat melihat foto Maura waktu itu, ia bilang sangat cantik. Tapi apa mungkin ia mau aku kenalkan dengan mantan pacarku. Hahaha"


Jevin segera menjalankan motornya menuju kost-annya. Ia ingin segera mandi untuk membersihkan badannya yang terasa lengket dan bau.


Namun saat ia sedang dipertengahan jalan, dari arah jauh ia melihat sosok wanita yang yang tak asing sedang duduk dihalte.


"Itu kan Melly, kenapa dia bisa ada disitu?"


Dengan cepat ia putar balik dan menghampiri wanita itu.


"Hai.. manis" panggil Jevin tanpa turun dari motornya.


.


.


.


Selamat membaca....