THIS IS TRUE LOVE

THIS IS TRUE LOVE
BAB 5 Tania



Cuaca yang panas serta suara bising kendaraan yang melintas dan juga banyaknya debu yang bertebaran membuat Jevin sangat tidak nyaman sekali berlama-lama di halte ini.


Walaupun di Semarang juga sering menjumpai hal macam ini di jalan, tapi sungguh cuaca di Jakarta berkali-kali lipat dibanding disana.


Saat ini bukan hanya dirinya saja yang sedang menunggu kedatangan bus, namun banyak mahasiswa ataupun orang pekerja yang juga sedang menunggu bus.


Setelah selesai mata kuliahnya, ia berniat untuk segera pulang saja.


Walaupun tadi teman barunya mengajaknya untuk nongkrong dulu dikantin, tapi ia menolak.


Dia ingin pulang saja beristirahat di kostannya.


Sesampainya dikost, ia melihat ada seorang wanita sedang memunggunginya.


Sepertinya ia kenal, wanita itu nampaknya sedang bercakap-cakap dengan wanita penghuni kostan juga yang berada disitu.


Kost-an yang ditinggali Jevin memanglah kost-an umum, hanya berbeda letak.


Khusus laki-laki berada disebelah barat dan perempuan disebelah timur.


"Wah... jodoh kali ya kita. Ketemu lagi, tadi kan udah di kampus. Kok kamu muncul lagi disini" Jevin berbicara dengan pedenya membuat wanita itu mengernyitkan dahi akan ketidaksengajaan ini.


"Kau jangan asal bicara, aku kemari karna ada perlu dengan temanku ini" tunjuk Melly ke arah teman yang ada didepannya.


"Dan itu takdir" Jevin tersenyum lebar.


"Aku sudah mempunyai kekasih, jangan lagi menggangguku." tegas Melly merasa lelaki dihadapannya saat ini seperti berusaha menggodanya.


"Bersenang-senanglah dulu dengan kekasihmu itu, sambil menunggu aku ada uang untuk melamarmu" Jevin berlalu pergi darisana dan lagi-lagi tak lupa mengedipkan matanya.


Teman Melly yang bernama Sasa merasa heran dengan dua manusia itu.


Ada hubungan apa mereka berdua.


"Mel, dia siapa? kau kenal?" tanya Sasa akan rasa penasarannya.


"Dia orang gilaa.. Aku sangat sial bertemunya 2 kali hari ini. Aku mau pulang, Dahhh" Melly segera masuk mobil.


**


"Apa posisiku sekarang seperti lelaki yang menjadi selingkuhan Maura, yang mungkin saja ia mengejar Maura, padahal sudah mempunyai kekasih. Dan pada akhirnya Maura mau. Ah... tidak tidak mereka berdua emang sama-sama suka dari awal. Jelas beda dengan Melly, dia tak pernah meresponku malahan wajahnya seperti membenciku. Hahaha"


Tok.. tok... tok


Bunyi ketukan pintu dari luar.


"Siapa? masuk.." jawab Jevin dengan segera bangkit karna tadi ia sedang merebahkan badannya dikasur.


"Aku.... kau pasti kaget kan?" Aldo menyengir membuat Jevin bergidik ngeri.


"Kau kenapa kemari?" tanya Jevin.


"Aku membawakan makanan untukmu. Aku takut kau kelaparan, kau tak punya saudara disini dan teman pun hanya aku. Hahahaha"


"Menyebalkan.. kau segeralah memiliki kekasih, agar kau tak memberi perhatian kepadaku terus. Aku gelii tauuu" Jevin menatap temannya dengan tajam.


"Cih.... menjijikan. Kau kira aku tidak normal? Baiklah akan ku bawa makanan ini lagi" Aldo hampir meraih bungkus makanan itu.


Namun suara Jevin menghentikannya.


"Eh... jangan jangan. Kau ini pamali sudah memberi tapi ingin mengambilnya lagi. Baiklah, aku sangat-sangat berterima kasih kepada teman baikku ini. Dan aku mendoakan supaya... "


"Supaya aku segera mendapatkan kekasih. Aamiin" Aldo mengamini dirinya sendiri membuat Jevin tertawa terbahak-bahak.


Mereka berdua akhirnya makan bersama, karna sebenarnya Aldo membeli dua makanan sekaligus untuk makan dengan temannya.


Jevin tersenyum sebelum menjawab "Kau pandai mencarikan aku kampus, aku sangat nyaman kuliah disitu karna bisa bertemu dengan bidadari cantik."


"Kau ini ingin mencari jodoh atau mencari ilmu " Aldo mendengus kesal karna walaupun mereka sama-sama jomblo, tapi pasti Jevin akan mudahnya mendapatkan kekasih. Karna Jevin juga bercerita perihal mantan kekasihnya yang bernama Maura masih mengejarnya, membuat Aldo iri.


Apalagi setelah melihat foto Maura, menurut Aldo mantannya Jevin itu sangat cantik.


"Dua-duanya... " Jevin menjawab dengan bangganya.


Aldo pun diam ,malas untuk meladeni temannya yang menyebalkan itu.


"Oh ya Do, kenapa kau tidak mendekati Tania saja si. Aku liat sepertinya ia menyukaimu"


"Dia memang menyukaiku" jawab Aldo dengan datar.


"Kau sudah tau sejak kapan?"


"Sejak ia mengirimkan surat kepadaku 2 tahun yang lalu" Aldo menjeda ucapannya sebentar dan menarik nafas.


"Dia menyukaiku dari dulu, aku sama dia dulu akrab sekali karna setiap aku menjemput Melly disekolah pasti juga sekalian mengantarkan pulang Tania. Aku hanya kasian kepadanya karna tak mempunyai kendaraan, hanya mengandalkan transportasi umum. Dan aku sering mengajaknya makan siang dulu bersama Melly. Karna Melly selalu bersama Tania, mau tak mau harus mengajaknya sekalian. Aku sering menolongnya jikalau dia meminta pertolongan, karna aku anggap seperti adikku sendiri. Entah kenapa, mungkin dia baper atas kebaikanku. Dia mengirimiku surat 2 tahun lalu, yang isinya tentang perasaannya kepadaku. Aku shock, dan isinya sangat lebay sekali. Aku jadi merasa risih, dan aku semakin menjauhinya karna takut kebaikanku malah disalahartikan lagi"


Aldo menjawab dengan panjang kali lebar membuatnya merasa haus dan segera mengambil minum.


Jevin hanya mengangguk-anggukan kepalanya.


"Kau tidak menyukai Tania?"


"Tidak.. aku dulu hanya menganggapnya adik dan tipe wanitaku bukan sepertinya."


"Kau mencari yang bagaimana, Tania juga cantik hanya kurang dandan aja sih" Jevin mengingat-ingat Tania yang sangat apa adanya, tanpa polesan make up hanya liptint yang menghiasi bibirnya juga penampilan yang sangat sederhana.


"Pokoknya aku tidak suka" tegas Aldo sambil memalingkan mukanya.


"Aku doakan semoga Tania bisa jadi pacarmu. Aamiin...... " dengan lantangnya Jevin berucap.


Membuat Aldo seketika tidak tahan lagi untuk memukuli temannya.


Jevin menghindar dengan berlindung bantal didepan dadanya, ia senang sekali menjahili temannya.


"Dan bisa jadi kau jomblo sampai sekarang, karna kau telah menyia-nyiakan wanita yang sangat mencintaimu. Kau tak diberi kesempatan untuk menemukan wanita lain, hanya Tania yang selalu ada didepanmu. Tapi kau tak pernah mau membuka hati untuknya. Hati-hati akan ucapan yang menyatakan kau tak menyukainya, bisa jadi itu akan..." belum sempat Jevin melanjutkan kata-katanya ,satu lemparan botol kosong mendarat dikepalanya membuat Jevin kesal dan langsung bergulat diatas kasur dengan Aldo.


Setelah pergulatan itu, akhirnya mereka kelelahan akan tingkah konyol yang mereka perbuat. Seperti anak kecil saja, yang berguling kesana kemari sambil memukuli temannya.


Seketika mereka tertawa terbahak-bahak menyadari seperti tingkah anak kecil.


"Kau seperti anak kecil.... Dasar " Jevin mendengus kesal.


"Kau........ " teriak Aldo.


Menjelang sore akhirnya Aldo pulang. Setelah kepulangan Aldo, Jevin segera mandi.


Tak butuh waktu lama Jevin keluar dari kamar mandi, dan dia merasa lapar.


Mungkin karna tenaganya terkuras karna perkelahian ala anak kecil tadi dengan Aldo.


Jevin berencana untuk mencari makanan diluar dengan meminjam sepeda motor kepada pemilik kost.


.


.


Selamat membaca, like, coment yaaa kalau kalian suka....