
Terdengar deringan ponsel yang cukup memekakan telinga, entah sudah keberapa kali ponsel itu mengeluarkan suara. Namun sang empunya ponsel tidak bangun juga.
"Hoaaammm... nyenyak sekali tidurku kali ini."
Jevin menguap sebentar lalu tiba-tiba tersenyum.
Dengan langkah cepat, lelaki itu meraih handuk dan segera mandi untuk berangkat ke kantor.
Tidak sempat sarapan ataupun memasukkan sedikit makanan ke dalam perutnya, karna ini sudah lumayan siang. Walaupun Jevin agak kesiangan namun ia santai-santai saja karna jarak kost ke kantornya dekat.
"Jevin..." terdengar suara wanita memanggilnya dari belakang.
"Tania" Jevin menoleh ke arah belakang, ia melihat temannya ini berlari menghampirinya.
"Heii.. santai saja, tidak usah berlari-lari, seperti sedang lomba saja." Jevin mengernyit heran melihat teman wanitanya ini berlari.
"Bagaimana aku bisa santai, ini liat jam berapa." Tania menyodorkan jam tangannya yang kini terlihat jam masuk kantor tinggal 5 menit lagi.
"Ohhh... ayoo buruan lari, nanti saat finger print kita telat, bisa potong gaji ." Jevin tanpa aba-aba langsung berlari kencang meninggalkan Tania yang sedang mengatur nafas, karna dari sejak turun dari bis, wanita itu sudah berlari.
"Kurang ajar tuh anak, aku hampiri malah lari duluan." Tania mendengus kesal.
Sesampainya mereka di meja kerja masing-masing, Tania langsung mengambil air minum dan ditenggaklah botol minuman yang ia ambil sampai tersisa setengah.
"Tumben kamu berangkat hampir telat." tanya Jevin kepada Tania. Wanita itu sedang sibuk mengelap dahinya yang penuh keringat dengan tisu yang tersedia di mejanya. Sejenak Tania mengatur nafasnya yang masih tersengal-sengal.
"Tadi bisnya mogok, mau gak mau aku harus nunggu, daripada naik angkot lebih lama sampainya dan harus naik turun ,bis lain juga gak ada yang lewat." keluhnya dengan mimik muka yang kesal.
Jevin melihat Tania dengan iba. Kehidupan Tania memang terlihat cukup menyedihkan, ia sudah ditinggal orang tuanya sejak kecil. Dan akhirnya diasuh oleh saudara ibunya, namun sekarang sudah pisah. Tania ingin mandiri dan mencari rumah sendiri dengan satu adiknya laki-laki. Walaupun masih mengontrak.
Mereka hanya hidup berdua di rumah kontrakan yang tidaklah terlalu luas. Adiknya yang bernama Derin saat ini duduk di bangku SMP kelas 3. Dan hanya Melly sahabat terbaiknya yang selalu membantu Tania saat ia sedang susah.
"Gimana kalau setiap hari aku jemput aja." Miko tiba-tiba ikut menimpali percakapan mereka berdua, lelaki itu menawarkan untuk menjemput Tania berangkat ke kantor bareng dia.
"Jalan kita kan gak searah Mik, gak usah lah. Makasih tawarannya." Tania tersenyum berusaha menolak tawaran Miko.
"Gak apa-apa, aku bisa ambil jalan dari arah utara." bujuk Miko kembali.
"Kejauhan Mik, malah kamu jadi muter jauh banget." tolak Tania kembali, wanita itu tidak enak jika merepotkan temannya tersebut.
Jevin yang hanya diam, tapi ternyata sudah menemukan solusi untuk Tania. Ia tersenyum berharap rencananya kali ini bisa berhasil.
***
Padatnya manusia yang ada di kantin ini, tak membuat lelaki berambut cepak itu menyerah untuk mencari seseorang yang sedang ia cari. Hatinya tak tenang jika harus berdiam-diaman dengan seseorang itu. Ia seperti sudah merasa klop jika berteman dengannya.
Dia semakin semangat melangkah tatkala melihat orang yang ia cari sedang duduk di meja yang berada dipojok. Satu meja yang tidak terlalu besar dan terdapat empat kursi di setiap sisinya, membuat lelaki ini bernafas lega karna melihat ada kursi yang kosong.
Jevin masih sibuk mengunyah sisa makanannya di mulut tanpa menoleh ke arah Aldo yang memanggilnya.
"Jev, kau seperti perempuan saja yang merajuk, apa salahku Jev?" rengek Aldo tanpa malu. Tania dan Miko hanya bisa saling pandang melihat drama pria berdua ini di depan mereka.
Aldo yang merasa diperhatikan oleh mereka berdua, seketika memalingkan wajahnya bergantian ke arah mereka. Tatapan tajam ia layangkan ke arah Tania. Entah kenapa, ia jadi semakin tidak suka dengan Tania. Karna gara-gara Tania, menurutnya yang menyebabkan Jevin mendiamkannya.
Tania hanya bisa menunduk saat Aldo memberi tatapan dingin kepadanya. Tania tak berani bertanya kenapa Aldo selalu menatapnya seperti itu. Walaupun Tania bukan anak yang pendiam sekali, tetapi kalau berurusan dengan Aldo, Tania tidak berani. Dia lemah saat berhadapan dengan pria yang ia sukai.
"Kita perlu bicara." kata Jevin singkat dan segera pergi dari tempat duduknya.
Aldo bernafas lega karna Jevin mau bicara dengannya. Sewaktu di kost-an pada saat itu, hingga Aldo pulang pun Jevin tidak mau berbicara dengannya.
Bangku panjang yang terdapat di pinggir kantor menjadi tujuan Jevin saat ini. Tak berlama-lama lagi Jevin langsung mendudukkan bokongnya diatas bangku itu.
"Maaf Jev, jika aku ada salah. Tapi sungguh aku..." Aldo bingung meneruskan kalimatnya,karna Jevin menginginkan ia memperlakukan Tania selayaknya teman, namun ia bingung dan takut jika Tania semakin menaruh hati padanya.
"Sungguh aku apa?" tanya Jevin masih sedikit ada rasa kesal diperkataannya.
Lelaki berambut cepak itu semakin menggarukkan kepalanya yang tidak gatal. Ia sebenarnya kesal, kenapa Jevin membela Tania sampai seperti ini, seharusnya entah perlakuannya terhadap siapapun, itu adalah hak masing-masing orang.
"Aku harus bagaimana menurutmu?" tanya Aldo pasrah, daripada ia harus didiamkan temannya seperti ini. Aldo sudah hafal betul dengan sikap Jevin dari jaman sekolah dulu, Jevin akan menjauhi temannya yang menurutnya tidak bisa menghargai temannya yang lain. Dan karna mungkin sekarang Tania merupakan teman terbaiknya di kantor, jadi ia membela jika Tania merasa tersakiti. Sebenarnya ini perbuatan mulia, tetapi kenapa terkesan berlebihan? Padahal kita tidak boleh memaksakan orang lain harus melakukan apa yang kita mau. Tapi itulah Jevin.
"Kau harus bersikap baik dengan Tania sebagai teman dan...." Jevin menjeda ucapannya sebentar.
"Dan apa? kenapa banyak sekali." keluh Aldo.
"Hanya dua kok, dan kamu mulai besok jemput Tania untuk berangkat ke kantor bareng. Hmm, untuk pulangnya terserah saja. Karna kasian Tania, tadi pagi dia hampir telat." ucap Jevin panjang lebar, membuat Aldo membuka mulutnya tidak percaya akan apa yang diucapkan Jevin barusan.
"Dia yang hampir telat kenapa harus aku yang jadi jemput dia?? Apa istimewa dia Jevin?" Aldo mendengus kesal.
"Bukan jemput sih pastinya, kau hanya perlu berhenti di depan rumahnya dia sewaktu kau berangkat ke kantor, kan searah." ucap Jevin kembali.
"Tidak, tidak mau." tegas Aldo dan hampir melangkahkan kakinya untuk pergi.
"Aku kenalin sama temenku yang cantik, mau gak?" Jevin mencoba merayu Aldo. Jevin hanya tidak tega dengan Tania, kehidupannya sudah susah, ia hanya ingin meringankan bebannya sedikit saja. Lagipula arah ke kantor dari rumah Aldo juga melewati rumah Tania. Ia paham, Tania setiap pagi harus mengurus adiknya terlebih dahulu jadi terkadang ia ke kantor sangat mepet waktunya, apalagi jika menjumpai kasus bis mogok, sudah tentu akan telat.
.
.
.
Selamat membaca....