
"Jevin" panggil wanita itu yang tak lain adalah Tania.
"Tania, rumahmu disini?" Jevin merasa kaget melihat Tania keluar dari rumah sederhana itu.
"Kalian berdua sudah saling mengenal?" tanya Nenek ke mereka berdua.
Tania pun menyuruh Jevin untuk masuk ke dalam rumah begitupun sang Nenek.
"Nak, pemuda tampan ini yang tadi menolong Nenek sewaktu dijalan."
"Makasih ya Jevin." Tania berterima kasih kepada Jevin, dan lelaki itupun mengangguk.
"Nenek kemana saja? kenapa bawa barang belanjaan sebanyak ini." Tania mengalihkan pandangannya ke Nenek yang bernama Marsiah. Nenek Marsiah ini sebenarnya bukan Nenek kandung Tania, beliau hanyalah saudara almarhumah ibunya dari jauh. Karna beliau hidup sebatang kara, akhirnya Tania mengajak Nenek Marsiah untuk tinggal bersamanya di Jakarta.
"Nenek beli ini untuk perlengkapan sekolah Derin dan kebutuhan kita untuk kehidupan sehari-hari." Nenek Marsiah memberikan barang belanjaannya kepadanya Tania.
"Nenek kenapa repot-repot seperti ini. Nenek harusnya nunggu Tania pulang, jangan pergi sendirian seperti ini." Tania terlihat sangat khawatir. Ia memegang erat tangan sang Nenek, menyalurkan rasa kecemasan yang besar. Sedangkan Nenek Marsiah hanya bisa mengusap lembut lengan Tania yang sudah ia anggap sebagai cucu kandungnya.
"Nenek tidak apa-apa, Nak. Nenek tau jalan pulang, namun Nenek mencari ojek tidak ada disana."
"Nak Jevin kasian, kamu buatin minum dulu sana." Nenek Marsiah menyuruh Tania untuk membuat minuman untuk Jevin. Tania dengan segera menuju dapur.
"Tidak perlu repot-repot, Nek. Sebentar lagi Jevin akan pulang." Jevin terlihat lelah, badannya terasa pegal-pegal. Dari sepulang kantor, ia belum mengistirahatkan tubuhnya.
"Kau terlihat lelah, istirahat dulu disini ya Nak Jevin."
Tania membawa sebuah nampan yang berisikan segelas minuman dan cemilan.
"Diminum dulu Jev." Tania mendudukkan tubuhnya di depan Jevin. Wanita itu mengamati penampilan Jevin.
"Kau dari sepulang kantor belum pulang ke kost?" tanya Tania yang menyadari bahwa Jevin masih mengenakan pakaian kantor.
Nenek Marsiah berpamitan untuk ke kamarnya untuk beristirahat. Beliau menyuruh mereka berdua untuk mengobrol dahulu.
"Iya aku belum pulang, aku tadi... " Jevin hampir kelepasan kalau ia baru saja mengantarkan Melly pulang. Menurutnya tak perlu lah sampai bercerita kepada Tania, nanti Tania malah bertanya panjang lebar. Jevin malas jika harus menjelaskannya.
"Tadi apa?" Tania merasa penasaran, apa yang menyebabkan Jevin hingga sampai petang ini belum juga pulang ke kost padahal jarak dari kantor dan kost juga dekat. Kenapa ia bisa bertemu Nenek di jalan.
"Aku tadi ada keperluan sebentar." Jevin meminum segelas teh hangat yang dibuat oleh Tania.
"Oh begitu"
"Nia, aku pulang dulu ya. Aku sudah sangat lelah, ingin segera mandi dan istirahat." Setelah menghabiskan minumannya, Jevin pun berpamitan untuk segera pulang. Tania pun mengantarkan Jevin sampai ke depan.
***
Mentari yang bersinar terang diatas awan, seperti memberi semangat kepada lelaki tampan yang baru saja menghentikan motornya diparkiran kantor.
Sinar mentari pada pagi hari yang mempunyai banyak manfaat lantas tak ia sia-siakan untuk sebentar saja berjemur dibawahnya.
Tettt.. Tettt...
Terdengar suara klakson mobil yang baru saja sampai. Jevin mengamati mobil tersebut sampai ada salah dua orang yang turun dari mobil itu. Senyumannya mengembang saat melihat siapa yang turun dari mobil itu.
"Jev, kau baru saja sampai?" tanya Tania setelah turun dari mobil dan disusul Aldo.
"Iya Nia, cieeee berangkat bareng." Jevin pun menggoda mereka berdua. Tetapi Aldo malah pergi masuk ke dalam kantor, tanpa mempedulikan mereka berdua.
Tania tak mengalihkan pandangannya ke arah Aldo yang berjalan meninggalkannya. Tatapan sendu selalu ia perlihatkan saat melihat Aldo mengacuhkannya.
"Kau tanya saja sendiri." Jevin berjalan meninggalkan Tania, lelaki itu tidak mau Tania bertanya macam-macam lagi kepadanya. Walaupun Jevin menyuruh agar ia menanyakan sendiri kepada Aldo, namun Tania tidak berani. Berada didalam mobil berdua seperti tadi juga tak ada obrolan sama sekali.
"Sudahlah Tania, kau tak perlu tahu alasan Kak Aldo mau menjemputku. Anggap saja ini hadiah dari Tuhan."
Tania pun menyusul Jevin yang sudah masuk kedalam kantor.
***
Jam menunjukkan pukul 9 pagi, wanita yang sudah bangun sedari tadi ,tidak beranjak juga turun dari ranjangnya. Hari sudah semakin siang, namun wanita itu tidak segera membersihkan tubuhnya. Piyama bermotif bunga-bunga kecil, masih betah melekat di tubuhnya.
Wanita itu yang tak lain adalah Melly. Anak tunggal yang selalu kesepian di rumah, tak ada yang menemaninya kecuali hanya bibi pembantu. Karna itulah ia tak mempedulikan jika bermalas-malasan seperti kali ini. Apalagi hari ini tidak ada jadwal kelas kuliah. Seperti biasanya, orang tua Melly sudah berangkat ke kantor tadi pagi sekali. Papa dan Mamanya memang sama-sama bekerja.
Suara ketokan pintu dan suara lembut yang setiap hari ia dengar sudah mendarah daging difikirannya.
Melly pun beranjak turun dan membuka pintu kamarnya.
"Ada apa, Bi?" tanya Melly dengan sedikit menguap.
"Ada Mas Andrew diluar, Non." Bi Aminah yang sudah menjadi pembantu di rumahnya selama puluhan tahun, sudah hafal betul dengan sifat anak majikannya ini.
"Suruh masuk terus buatin minum ya,Bi. Melly mau mandi dulu." ucap Melly lembut dan Bi Aminah pun mengiyakan.
Setelah selesai mandi, Melly pun menghampiri kekasihnya Andrew diruang tamu. Melly merasa bahagia karna disaat kesepian, Andrew selalu membawa sejuta kebahagiaan untuknya.
"Andrew, kau tak ke kantor?" tanya Melly setelah mendudukkan tubuhnya disamping Andrew.
"Tidak sayang, hari ini pekerjaanku tidak banyak. Jadi aku ijin sebentar untuk mengajak kamu jalan-jalan." Lelaki yang sudah menjadi kekasihnya selama 3 tahun ini, memang sangat romantis. Andrew sering memberikannya kejutan ataupun hal-hal kecil yang menurut Melly sangatlah sweet.
"Kau jangan selalu ijin terus, nanti ka---"
"Sssttt...." Andrew menempelkan jari telunjuknya ke arah bibir Melly. Andrew tidak suka jika Melly selalu mengkhawatirkan sesuatu yang tak perlu dikhawatirkan.
"Baiklah, ayo kita mau kemana?" tanya Melly sambil menatap lekat Andrew.
"Hmmm..." Andrew pun berfikir sejenak. Tiba-tiba Andrew teringat sesuatu.
"Sayang.. kemarin kamu bilang kalau dianterin pulang sama temannya Aldo, memang siapa?" Andrew penasaran saat Melly kemarin mengatakan kalau dijalan ia bertemu temannya Aldo dan akhirnya dianterkan pulang karna supirnya tidak bisa menjemput.
"Oh itu, Jevin."
"Lain kali kalau ada apa-apa, telfon aku aja ya sayang. Aku gak mau kamu kenapa-kenapa."
"Aku ingin telfon kamu, tapi aku takut kamu sibuk dan mengganggu pekerjaan kamu."
"Sudah berapa kali aku bilang, jangan selalu mengkhawatirkan apa yang tidak perlu dikhawatirkan."
Melly menatap kekasihnya dengan pandangan sendu. Ia tak mengerti lagi, Tuhan begitu baik mempertemukan dirinya dengan Andrew yang sangat pengertian.
.
.
.
Selamat membaca...