THIS IS TRUE LOVE

THIS IS TRUE LOVE
BAB 2 Jakarta



"Jev, maafkan aku. Aku sungguh minta maaf, aku khilaf. Aku tak ingin kita berpisah. Tolong beri aku kesempatan untuk memperbaiki semuanya, Jev. Aku mencintaimu, masih sangat mencintaimu"


Itulah pesan yang dikirimkan mantan kekasih Jevin yang bernama Maura.


Satu minggu yang lalu Jevin memergoki Maura jalan dengan lelaki lain di Mall.


Kesempatan itu tidak ia sia-siakan untuk segera mengakhiri hubungannya dengan Maura, karna Jevin sudah tidak merasa ada kecocokan lagi.


Maura yang manja, cerewet, suka mengatur sangat meribetkan sekali menurut Jevin.


Jevin mengabaikan pesan tersebut dan melanjutkan untuk siap-siap berangkat ke Jakarta.


Iya, Jevin memutuskan untuk mencari pekerjaan saja disana.


Dan bisa sambil kuliah dengan mengambil kelas karyawan.


Sudah tiga tahun ia bekerja sebagai marketing di salah satu kantor di Semarang.


Ia sengaja mengumpulkan uang untuk melanjutkan kuliah.


Kebetulan ada teman di Jakarta yang bisa membantunya mendaftarkan kuliah dan juga memberikan pekerjaan baru.


Ia lantas tak menyia-nyiakan kesempatan itu dan segera mengurus surat pengunduran diri.


Sangat jenuh jika dia terus di kota kelahirannya.


Ia ingin mencari suasana baru.


"Bu, Jevin pamit "


Tatapan mata Ibu Jevin penuh dengan penolakan ,ia tidak mau jika harus berjauhan dengan anak laki-lakinya satu ini.


Karna adik Jevin semuanya perempuan.


Bapak Jevin sudah berangkat kerja dari tadi pagi sekali.


Bapaknya bekerja sebagai OB di pabrik.


"Kau ingin meninggalkan Ibu, Nak? "


Jevin menghela nafas, ia juga tidak tega meninggalkan keluarganya.


Tapi Jevin hanya ingin mencari pengalaman baru di Jakarta, dan siapa tau rejeki dia bagus disana.


Karna pekerjaannya sebagai marketing disini sangatlah melelahkan, dan selalu tidak tentu pendapatannya tergantung target yang ia capai.


Ia sudah mencoba melamar dimana-mana tapi sangat sulit lulusan yang hanya SMA mencari pekerjaan yang gajinya tinggi.


"Bu, aku akan kuliah disana dan juga kerja disana. Nanti tiap bulan Jevin akan transfer buat kebutuhan dirumah."


Jevin memegangi tangan ibunya.


"Ibu tak butuh uangmu, Nak. Gaji bapakmu dan penghasilan ibu buka warung juga cukup buat biaya hidup dan sekolah adik-adikmu. Di sini banyak Universitas yang bagus, apa yang akan kau cari disana? Semua sekolah sama saja, Nak."


"Aku ingin cari pengalaman baru, Bu. Aku ingin hidup mandiri"


"Kalau kau ingin hidup mandiri. Menikahlah. Kau akan hidup mandiri dan punya pengalaman baru sebagai suami."


"Ibu.... Aku belum ingin menikah, Bu. Lagipula aku mau menikah dengan siapa, pacarpun tak punya."


"Kau jangan menghilang-hilangkan pacarmu, Maura kau anggap apa?"


"Bukan menghilangkan, Bu. Dia hilang sendiri bersama laki-laki lain."


"Hahahaa... Jadi itu alesanmu ingin pergi ke Jakarta karna patah hati??"


"Aiishh.... Gak ada sangkut pautnya, Bu. Kebetulan aja bersamaan temenku menawari kerja di Jakarta."


Jevin melihat jam yang ada dipergelangan tangannya, kurang 45menit lagi keretanya akan berangkat dengan buru-buru ia naik ojek karna takut dijalan akan macet.


Ibu Jevin dengan terpaksa akhirnya meridhoi keputusan putranya yang benar-benar kekeh akan keputusannya.


**


Tiba di Jakarta langit sudah gelap, Jevin sedang menunggu temannya yang akan menjemputnya.


"Jev, kau semakin tampan saja" tepukan bahu dari seseorang yang tak asing dimata Jevin.


"Mengagetkan saja kau Do, apa kabar?"


Salaman ala lelaki dengan cara merekatkan jemarinya dan membenturkan bahu seolah sudah mendarah daging di negeri ini.


"Aku baik Jev, kau malam ini tidur dirumahku saja. Besok akan aku bantu carikan kost-kostan yang murah disini"


"Hmm... baiklah"


Jevin dan Aldo sudah berteman sejak sekolah SMA.


Karna Aldo sekolah SMA di Semarang, ikut dengan Nenek dan Kakeknya yang menetap disana.


Aldo sudah selesai melanjutkan pendidikannya yang hanya sampai Diplomat 1 saja.


Dia pusing jika harus berlama-lama sekolah, dan saat ini ia sudah bekerja di salah satu kantor di Jakarta.


"Jev, kau ingat tidak. Dulu kita menyukai perempuan yang sama, dan akhirnya kau yang berhasil memacarinya. Kau memang tidak bisa dilawan"


"Kau ini berlebihan, dan pada akhirnya perempuan itu menyesal telah memilih aku daripada kau. Hahahahha"


"Kau terlalu cuek, Jev. Tapi herannya masih banyak yang ngejar-ngejar kau."


"Daripada kau yang selalu tebar pesona. Memalukan."


"Apa???"


"Bagi tips donk"


"Kau ini.. aku belum bekerja sudah dimintai tips"


"Kau ini. Seperti keponakanku yang polos saja.Tips untuk mendapatkan kekasih"


"Oh.... Gak ada tips. Itu semua sudah takdir. "


"Cih.. menyebalkan"


Sampai juga dipelataran rumah Aldo.


Rumahnya tidak terlalu besar namun cukup rapi dan sangat elegan.


"Kau tinggal bersama siapa saja ,Do ?" tanya Jevin yang matanya masih melihat kesekeliling rumah temannya tersebut.


"Bersama kakakku saja. Ayoo masuk"


Aldo berjalan mendahului sedangkan Jevin dibelakangnya.


"Mana kakakmu? Sepi juga"


"Masih dibengkel mungkin"


"Semalam ini masih dibengkel? Wow.. pekerja keras"


"Kan aku bilang mungkin, seringnya pergi bersama kekasihnya"


"Dan kau sudah punya kekasih?" tanya Jevin meledek Aldo.


Satu pukulan mendarat dibahu Jevin, dan ia gagal untuk mencegah karna terjadi tiba-tiba.


Jevin seketika tertawa.


"Hahahaaa. Kau ini seperti perempuan saja yang suka merajuk"


**


Jevin dan Aldo saat ini sedang main PS bersama didalam kamarnya.


"Aku lelah, Do. Aku ingin tidur saja."


"Baiklah, kau tidur duluan. Besok kita kekantor jam 8."


"Oke.. "


Baru saja Jevin memejamkan matanya, suara dering ponsel miliknya mengagetkannya.


Dengan malasnya ia bangun untuk mengambil ponselnya yang masih didalam tasnya.


"Hallo.. "


"Kau ini benar-benar ,sudah sampai d Jakarta? tak memberi kabar Ibumu disini. Kau ini... ingin jadi malin kundang?"


Suara Ibu hampir merusak gendang telinganya, seketika ia menjauhkan ponsel dari telinganya.


"Maaf bu.. Jevin lupa untuk memberitahu Ibu. Hehee"


"Hiks.. Hiks.. Hiks.. "


"Ibu, ibu menangis? "


"Apa aku salah ngomong? kenapa Ibu tiba-tiba menangis"


"Kau keterlaluan Jevin Mahendra... Baru saja meninggalkan Ibu beberapa jam yang lalu tapi kau tega-teganya sudah melupakan Ibu. Hiks.. "


Jevin menepuk dahinya, Ibunya ini sungguh terlalu berdramatis.


"Aku tak melupakan Ibu, sumpah Bu. Hanya Jevin merasa lelah dan ingin segera istirahat"


"Ibu sepertinya akan menelfonmu setiap hari, agar kau tak melupakan Ibumu ini"


Jevin rasanya ingin pura-pura pingsan saja, sungguh berbicara dengan Ibunya tidak akan ada habisnya dan selalu salah.


Setelah perdebatan ia dengan Ibunya berakhir, ia dengan segera merebahkan badannya dikasur yang sangat empuk dan tidak butuh waktu lama ia pun terlelap.


**


"Aaaaaaa..... "


Braakhhhh... ia menutup pintu dengan tanpa sengaja membantingnya.


Aldo yang tengah tidur pun seketika bangun karna bunyi dari pintu yang dibanting.


"Kau ingin merusak pintu kamarku??"


Aldo melototkan kedua matanya ke arah Jevin yang saat ini sedang berdiri dengan telanjang dada dan hanya melilitkan handuk dipinggangnya.


Jevin habis mandi. Dan tadi Melly yang sewaktu membuka kamar sepupunya malah melihat pemandangan yang sangat memalukan.


.


.


Like, Coment kalau kalian sukaa.....