
Melihat mobil dr Firman berjalan menjauh dari rumah nya Kirana melangkahkan kaki nya dengan gontai, sebenarnya Kirana malas bertemu dengan adik nya Karina, sebenar nya Kirana ingin dan butuh menenangkan diri nya sendirian kejadian tadi malam yang ia lihat dengan mata nya sendiri di tambah kejadian diri ny mabuk berakhir di ranjang bersama lelaki lain yang syukur nya ganteng, rasa nya Kirana meles dan ingin tidak bertemu adik nya Karina ia takut tidak bisa mengontrol emosi bila bertemu adik namun Kirana mau tidak mau menguatkan hati nya karena pasti ia bertemu dengan adik nya yang tega menusuk nya dari belakang. "Kirana, dari mana saja kamu semalaman tidak pulang, di telpon tidak bisa? jam segini baru pulang! " baru saja Kirana masuk terdengar suara ibu nya.
Kirana mendengus kesal saat melihat siapa saja yang ada di ruang tamu, ia menatap satu satu orang yang ada di ruang tamu, menatap ibu nya yang terlihat marah kemudian menatap ayah nya yang terlihat tenang karena ayah nya memang tipe orang yang tenang tidak mudah emosian, kemudian menatap adik nya Karin dan juga Evans yang tersenyum dengan wajah tanpa dosa benar benar membuat Kirana ingin muntah melihat nya.
"aku capek, mau istirahat" sahut Kirana tanpa ekspresi kemudian ingin melangkahkan kaki nya lagi.
"Kirana apa kamu tidak mendengar ibu bertanya sama kamu? kamu tidak menghargai kami sebagai orang tua kamu ?" mendengar suara ibu nya Kirana menghentikan langkah nya berbalik menatap ibu nya.
"sebagai kaka bukan nya jadi contoh yang baik untuk adik kamu ini malah mencontohkan yang tidak tidak seperti ini keluyuran tidak pulang semalaman, apa seperti ini hasil kamu kuliah jauh jauh keluar negeri ?" cecar ibu nya.
"kaka tau gak kami dari semalam mengkhawatirkan kaka takut terjadi apa apa samu kamu karena kamu tidak pulang,hp kamu juga tidak bisa di hubungin" kata Karin adik nya dengan wajah tidak berdosa dan ingin rasa Kirana buat muka nya penyok ancur kalo saja tidak mengingat Karin itu adik nya
"oh ya ? benarkah kamu khawatir dengan keadaan ku ? maaf kalo aku sudah membuat kalian semua khawatir, terimakasih juga buat adik ku T-E-R-S-A-Y-A-N-G yang peduli dan sayang dengan kaka nya karena sudah mengkhawatirkan aku, tapi seperti kalian lihat aku tidak apa apa dan tidak terjadi apa apa !" sahut Kirana dengan santai menekan kata tersayang.
"aku liat tadi kamu pulang diantar seorang cowok pakai mobil mewah, semua nya juga liat termasuk ka Evans, kalo tau gini ngapain capek capek mikirin kaka khawatirin orang yang lagi senang senang" kata Karin.
Kirana memejamkan mata nya tangan nya terkepal mengontrol emosi nya. "lagian gak ada kan yang nyuruh kamu untuk mikirin aku, kamu nya aja yang sibuk sendiri mikirin hidup aku" kata Kirana ketus.
"ck, mungkin kaka sudah terbiasa seperti ini disana, sudah terbiasa dengan budaya barat. kasian ka Evans, sabar ya kak" kata Karin berdecak menggelengkan kepalannya sok prihatin dengan Evans benar henar membuat Kirana muak melihat nya, ingin sekali memberi pelajaran ke adik nya itu andai saja tidak ada orang tua mereka disana.
"sudah lah Karin ! aku tidak apa apa paling itu teman nya Kiran iya kan sayang ? itu tadi teman kamu yang antar kamu pulang?" tanya Evans pada Kirana.
Kirana tersenyum sinis mendengar itu. "cih akting nya benar benar, kenapa gak jadi artis aja sih? pasti dapat penghargaan akting terbaik." cibir Kiran.
"Kirana apa maksud kamu bicara seperti itu ?" tanya ibu nya semakin emosi.
"eheemm.." ayah Kirana berdehem, semua yang ada disana mengarahkan pandangan ke ayah Kiran yang dari tadi diam.
"sudah bu jangan pakai emosi! masalah tidak akan selesai dengan memakai emosi! ibu bisa tanya baik baik keanak kita Kiran jangam dengan emosi!!" kata Ayah yang dari tadi hanya menyimak mendengarkan.
"ayah ini gimana sih? bagaimana ibu tidak emosi? anak gadis kita keluyuran tidak pulang semalaman pagi baru pulang diantar laki laki! kuliah jauh jauh di luar negeri bukan nya bikin orang tua bangga tapi malah bikin kecewa" kata ibu nya marah.
"Kirana sekarang jelaskan pada kami semua! dari mana kamu dan apa maksud kamu tadi?" tanya Ayah menatap langsung wajah anak nya.
Kirana memejamkan mata dengan tangan terkepal menahan emosi nya."maafkan Kiran sudah membuat ayah dan ibu khawatir mikirin Kiran, Kiran hanya ingin sendirian menenangkan diri Kirana dan tidak ingin di ganggu siapa siapa maka nya hp Kiran matikan." kata Kiran panjang lebar.
"seperti ayah ibu tau malam tadi Kiran izin mau keapartemen Evans karena ingin kasih kejutan ke Evans tapi setelah Kiran sampai disana malah Kiran yang di buat terkejut sangking terkejutnya aku butuh waktu sendirian buat.nenangin diri aku" sambung Kirana , bisa di lihat wajah gusar Evans mendengar Kirana bicara seperti itu berbeda dengan Karin adik nya yamv terlihat biasa aja.
"maksudnya kejutan apa ? nenangin diri gimana ?" tanya ibu nya.
"ayah ibu bisa tanyakan dengan Evans atau Karin minta jelaskan dengan mereka karena aku lelah iingin istirahat" kata Kirana melangkah kan kaki nya berjalan menaiki tangga menuju kamar.
"terus siapa cowok yang mengantar kamu tadi?" tanya ibu nya.
Kirana terus berjalan melangkah kan kaki nya menaiki anak tangga. "teman!" kata Kirana santai menaiki anak tangga.
"Evans, Karin jelaskan apa yang tadi dimaksuk Kirana?" kata ayah nya yang masih bisa didengaar Kiran yang saat itu menaiki anak tangga kemudia Kirana langsung masuk kedalam kamar nya tidak mau perduli apa yang Evans bicarakan dengam keluarga nya.
"hiks....hiks ...kenapa kalian jahat, apa salah ku" setelah sampai di kamar nya Kirana menangis sejadi jadi nya memukul da da nya yang terasa samgat sakit.
"hhhiikksss... ya allah sakit, hati ku sangat sakkt" lrirh Kirana menangis.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
~~bersambung~
💓💓 hai terimakasih sudah membaca dan jangan lupa tinggalkan jejak kalian kasih LIKE, VOTE, KOMEN nya ya guys biar tambah semangat author nya💓💓
💓💓SALAM CINTA, SAYANG DAN DAMAI DARI AUTHOR💓💓
💓 I LOVE YOU ALL 💓