The Secret Of Truth

The Secret Of Truth
Chapter 08



Setelah memadu kasih semalam suntuk, keduanya masih meringkuk dibalik selimut.


Perlahan Camila terbangun begitu juga dengan Luke. Camila sadar bahwa dia tidak pulang semalam malah menyerahkan keperawanannya pada pria yang baru dikenalnya dikampusnya.


Diruang tamu banyak pria berseragam hitam sedang membersihkan kekacauan semalam. Gabriel sepupu Luke duduk disofa sambil memijat kepalanya yang terasa pening akibat mabuk. Dia melihat Camila berjalan keluar dari kamarnya, gontai.


Gabriel meneguk air madu yang dibuatkan oleh pelayannya lalu tersenyum menyapa Camila.


"Lihatlah, apakah kelinci kecil menikmati malamnya?" Canda Gabriel.


Luke segera mendekati sepupunya "Gabi...please?!" Gabi adalah panggilan masa kecil Gabriel dan Luke lebih suka memanggil sepupunya dengan itu.


Camila hanya menatap Gabriel dibalik punggung Luke tak suka.


"Aku terpesona dengan penampilanmu Camila. Ku pikir kau hanyalah kelinci manis ternyata berekor rubah" sindir Gabriel. Dari awal gadis seusia Camila itu memang tak pernah menyukai gadis kampung seperti Camila. So, wajar jika Gabriel bersikap demikian pada Camila.


Camila tetap diam tak menanggapi. Luke melambaikan tangannya pada Gabriel bahwa pemuda itu akan mengantar Camila pulang.


"See you later, Camila..." Gabriel kembali duduk disofa. "Silence guys, i have headache. I am just asking" sambung Gabriel pada para bodyguard ibunya.


**


Mobil Luke berhenti tidak jauh dari apartemen Camila.


"Aku masih belum mempercayainya, semalam kita...ehm..." kata Camila sambil mengulum bibirnya. Luke tersenyum lalu mendekatkan wajahnya. Mereka berciuman begitu mesra tak peduli jika mereka saat ini sedang berada didalam mobil.


"Bagaimana kita akan bertemu nanti?, apalagi dikampus...ehm kau tahu kan sepupumu"


Luke mengerti kecemasan Camila, "Berikan nomor ponselmu, aku akan menuliskan alamatnya jika kita akan bertemu"


"Oke..." jawab Camila.


Luke meraih dagu Camila dan mengecup singkat bibir ranum Camila. Tapi kecupan mereka berubah menjadi ciuman panas.


"Aku harus bergegas, karena aku ada kelas pagi" sahut Camila mengakhiri ciuman panasnya. Luke tersenyum, ibu jarinya mengusap bibir Camila.


"Oke, ketemu lagi dikampus..." balas Luke. Camila keluar dari mobil Luke dan berjalan ke lobi apartemen neneknya.


**


Dengan sangat pelan berharap nenek dan ibunya belum ada yang bangun. Sejujurnya gadis itu sangat gugup tidak pulang semalaman. Dan dia telah menyerahkan keperawanannya pada pemuda yang disukainya, bagaimana mungkin Camila bisa menceritakan yang sesungguhnya pada keluarganya.


Camila sangat hati-hati saat menutup pintu agar tidak menimbulkan suara. Camila menghembuskan nafas lega saat berhasil menutup pintu dengan pelan. Namun saat membalikkan tubuhnya, nenek dan ibunya sudah berada diruang tamu menunggunya.


Camila langsung bersimpuh dikaki ibunya, "Kau tahu aku sudah akan menelphon polisi jika satu jam lagi kau tak pulang kerumah"


"Oh mom, aku minta maaf. Kau tahu sendiri batrei ponselku habis dan teman-temanku memintaku menginap disana, jadi aku tak mungkin menolaknya kan?" Kata Camila sedikit bersandiwara.


Belum sempat Carolina menjawab Catrina keluar dari kamarnya. "Kau lihat dia pulang dengan selamat. Jadi kau tak perlu khawatir. Dia sudah dewasa tentu dia bisa menjaga dirinya" serunya.


Camila menatap gurunya seolah mengucapkan terima kasih telah membelanya.


"Mrs Catrin....bisakah kau memberiku tumpangan ke kampus, aku ada kelas pagi jadi aku akan bersiap-siap sekarang, mom" ucap Camila pada Catrina dan ibunya bersamaan.


Nenek Camila hanya menggelengkan kepala melihat cucu perempuannya itu bersikap pada ibunya.


"Kali ini aku akan membiarkannya, tapi jika dia mengulanginya maka aku tak segan-segan..." ucap Carolina sambil menatap Hilda, nenek Camila.


Sebagai seorang ibu, tentu khawatir pada putrinya apalagi sampai tidak memberi kabar dan bahkan tidak pulang semalam.


**


Disisi lain


Leana, Ibu Gabriel begitu terkejut melihat rumahnya seperti kapal pecah. Perabotan tambahan entah datang darimana sedang diangkat keluar dari mansionnya. Botol minuman keras berserakan dimana-mana.


"Apa ini...!!! Apa yang terjadi selama aku pergi, huh. Mana Gabriel !!!" Kata Leana, ibu Gabriel nampak sangat emosi dengan kelakuan putrinya yang keterlaluan.


Seorang wanita tua berlari kecil mendekati majikannya. "Nyonya, anda kembali. Saya minta maaf atas apa yang terjadi. Tapi anda sendiri tahu nona Gabriel sulit dinasehati. Apalagi mengenai pesta yang terjadi semalam" jelas asisten rumah tangga Leana.


"Kembalilah ke dapur. Aku akan mengurus masalah ini" tegas Leana. Wanita paruhbaya itu kembali ke dapur.


"Bu, Gabriel mencoba kabur. Dia takut menemuimu" adu Samuel adik bungsu Gabriel.


Mendengar itu Leana segera menuju ke kamar putrinya. Beberapa saat kemudian Rexford De Lucino, ayah Gabriel pun datang. Pria kaya itu membanting pintu mobil dengan keras.


Pria kaya itu berjalan tanpa memperdulikan para pekerja yang sibuk membenahi mansion mantan istrinya. Dari jauh terlihat ibu Gabriel sedang cek cok dengan putrinya. Tentu putra bungsunya turut mengadukan apa yang diperbuat kakak perempuannya semalam di pesta. Yang menurutnya sudah gila!


"Kau wanita gila, mengumbar 'itu'mu pada teman-teman priamu!!!" Adu Samuel dan itu juga yang didengar Rexford kala mendekati putrinya.


"Kau menghamburkan uangku untuk perjalananmu dengannya dan membiarkan Gabriel berpesta pora..." sindir Rexford pada seorang pria disisi Leana. "Siapa dia ?" Tanya Rexford lagi.


Leana menoleh ke samping, "Dia trainer pribadiku" balas Leana. Rexford menyeringai.


"Aku Andreas..." kata Andreas mengulurkan tangan memperkenalkan diri tetapi Rexford enggan menerima jabatan tangannya. Justru pria itu berkata pedas pada Andreas.


"Bisakah kau tak ikut campur. Kau orang luar dan tak seharusnya kau mencampuri masalah kami" ucap Rex sarkas.


Leana menghela nafas. "Pergilah, nanti aku menyusul" ucap Leana menenangkan Andreas.


"Oke. Aku akan ke tempat gym. Temui aku disana, Lea..." ucap Andreas disertai kecupan dipipi Leana tanpa merasa malu pada Rexford, mantan suaminya.


Sementara itu, Rexford menatap tajam putrinya. Sontak Gabriel gelagapan ditatap seperti itu oleh ayahnya sendiri.


"GABRIELLL...kau membuatku kehilangan waktu meetingku yang berharga hanya untuk masalah tidak penting seperti ini. Lain kali jika ini sampai terjadi aku tidak akan memaafkanmu" ucap Rexford berjalan keluar lalu berbalik.


"Leana, pastikan kau memperhatikan pengeluaran Gabriel. Jika masih seperti sekarang, aku tidak segan memblokir rekeningnya" ancam mantan suami Leana. Gabriel syok dengan ancaman ayahnya, dia mulai gelisah jika apa yang dikatakan ayahnya menjadi kenyataan maka seorang putri kaya raya bisa menjadi gembel dalam semalam. Gadis muda itu begidik dan berlari mengejar ayahnya.


"Ayah...tunggu. Ayah kumohon jangan memblokir atm ku. Hanya ayah harapanku. Kau tahukan ibu tak akan memberikan aku uang, apalagi setelah apa yang aku lakukan semalam. Ayah...ayah...ayah..."


Rexford masuk kedalam mobilnya meski putri sulungnya berteriak memanggil namanya tetapi dia tidak bergeming malah melajukan mobilnya menuju kantor tempatnya bekerja.


TBC