
"Simon, bagaimana persiapannya. Ingat clien kita kali ini sangat penting. Mr. Lee Xiao Wen kau ingat!"
"Kalau kau mengijinkan aku punya kenalan dan dia seperti mutiara berkilau di antara hamparan pasir hitam. Sedikit pembekalan dan cara berjalan di atas catwalk mungkin dia akan berguna untuk agensi kita boss."
Victoria mengangguk. "Bawa kemari kalau kau beranggapan begitu".
"Oke boss" jawab Simon menunjukkan deretan giginya senang.
"Hallo sayang. Aku merindukanmu" sapa Leo sesaat lalu berpapasan dengan Simon didepan pintu. Sedangkan Simon mendengus tidak suka setiap kali melihat Leo mendekati bosnya itu hanya demi lembaran dollar saja.
**
Pagi yang sibuk tak membuat Camila mengeluh bahkan bermalas-malasan. Justru karena nenek dan ibunya dia semakin bersemangat mencari tambahan untuk membayar apartemennya.
"Hai Camila, bagaimana kabarmu hari ini" tanya Manager Cafe tempatnya bekerja. "Saya baik pak" balas Camila sedikit sungkan dengan bosnya itu.
"Selamat pagi tuan. Anda ingin pesan apa pagi ini" sapa seorang pelayan pria.
"Selamat pagi..." jawab seseorang dibalik kemejanya yang rapi. " Secangkir kopi seperti biasa dan sandwich" pelayan itu mengangguk lalu permisi.
Rekan kerja Camila memanggilnya, "Camila antarkan pesanan ini ke meja disebelah sana. Ingat!! Jangan buat kesalahan atau kau tak bisa bekerja disini besok" Camila mengangguk paham.
Camila membawa nampan dengan hati-hati. "Tuan ini pesanan anda" ucap Camila sambil meletakkan secangkir kopi dan sandwich di atas meja. Rexford mengamati secara detail penampilan pelayan di depannya. "Sepertinya aku pernah melihatnya?" Pikirnya.
"Have your meal, Sir" ucap Camila meninggalkan Rex dengan membungkuk sopan. Rexford hanya tersenyum sekilas tapi pandangannya tak lepas dari tubuh Camila yang berjalan menjauh.
**
"Ibu, apa kau dirumah? Oh, nenek apa ibu belum pulang?"
"Dia belum pulang dari tempat kerjanya. Ada apa kau mencarinya, huh? Lalu bagaimana hari mu sayang?" tanya Hilda antusias.
"Melelahkan, tapi aku senang Nenek. Aku suka tinggal disini."
"Bagus, senang mendengarnya kalau begitu. Nenek akan istirahat awal."
"Baiklah Nenek. Istirahatlah, kau pasti lelah."
Camila membaca pesan yang Simon kirim beberapa saat lalu. Pria gemulai itu mengundangnya untuk datang ke agensi secepatnya. Tanpa ijin ibunya Camila tak mungkin pergi kesana sendiri apalagi memutuskan sesuatu seorang diri. Jadi gadis itu akan menunggu ibunya pulang.
"Ah, Mom I was waiting you" ucap Camila senang melihat ibunya muncul dibalik pintu. Segera gadis itu memeluk ibunya menyalurkan kebahagiaannya. "Ibu, dia memintaku kesana, dia memintaku datang menemuinya. Aku akan jadi orang terkenal Bu, Aku bahagia Bu" ucap Camila mengajak ibunya berdansa lalu memutar-mutar tubuh ibunya. Sedangkan Caroline mengerutkan dahi meski tak mengerti apa yang terjadi dia turut merasa bahagia melihat putrinya gembira.
"Siapa yang Kau maksud. Ceritakan pada Ibu pelan-pelan. Oke, Ibu lelah jadi mari duduk dan bicara" mereka akhirnya tenang dan mendudukkan diri diruang tamu.
"Bu, Kau ingat Simon bukan?" tanya Camila tersenyum memancing ibunya agar menebak siapa orang yang putrinya maksud. Caroline tampak diam berpikir lalu menggeleng. "Ibu lupa Camila..." Camila berpura-pura cemberut namun sesaat kemudian kembali ceria.
"Dia temanku yang ada di agensi Bu dann besok dia memintaku datang kesana jadi aku ingin Ibu menemaniku kesana besok"
"Lalu bagaimana dengan sekolah dan kerja part time mu Camila. Kau akan lelah menjalani itu semua secara bersamaan?!" Ujar Caroline khawatir melihat putrinya semakin sibuk.
"Aku akan mengurusnya mom..." kata Camila mencoba menghibur ibunya.
Caroline menatap putrinya sejenak lalu memeluknya. "Jaga kesehatanmu sayang. Percuma menjadi kaya jika kau tak bisa menikmatinya dengan rasa syukur hanya karena kau sakit. Kau paham" Camila mengangguk.
**
"Hai, Camila" sapa seseorang dengan rambut ikal sebagai ciri khas pemuda itu.
"Hai, Luke. Apa kabarmu" Balas Camila sedikit canggung karena teringat kejadian di toilet pria waktu lalu.
"Aku baik. Bagaimana dengan mu? Sepertinya kau senang sekali hari ini, apa aku benar?" tanya Luke menebak.
Senyum Camila mulai terbit, " Iya. Teman agensi ku meneleponku dan memintaku datang kesana. Mungkin aku akan diterima sebagai model" ungkap Camila penuh semangat.
Luke mengangguk. "Well, itu berita bagus. Dan jika kau tak keberatan mungkin ini akan menjadi berita bagusmu yang kedua."
Luke menatap manik coklat Camila yang penuh harap agar segera memberitahunya. "Oke, malam ini ada Birthday party ku dirumah Gabriel. Kau bisa datang kan?" Tanpa menunggu jawaban Camila, Luke kembali bersuara. "Ku harap kau datang Camila..." setelah mengatakan itu pemuda itu pergi meninggalkan Camila terdiam mematung.
"Party? Birthday party?" Ulangnya tak percaya. Dipikiran gadis itu hanyalah pakaian apa yang harus ia kenakan. Dia tak punya gaun yang cocok dengan acara itu. Tak mungkin dia membelinya karena hanya dipakai beberapa jam saja selama acara itu berlangsung. Ataukah dia pura-pura lupa, ah itu tidak benar.
"Tunggu! Luke bilang rumah Gabriel. Dan itu artinya aku akan bertemu dengan gadis pembuat onar itu...!!" Ucap Camila pada dirinya sendiri. Camila terlihat gusar, langkahnya mondar-mandir bak setrika putus kabelnya.
**
Sepulang sekolah Camila mampir ke cafe, hari ini gadis itu meminta ijin sehari karena ada keperluan ke agensi dan manager cafe menyetujuinya.
Camila merogoh saku sweeternya dan mengambil ponsel jadulnya bermerk Nokia X2 meski setengah touchscreen dan setengah keypad, Camila bersyukur memiliki ponsel itu karena ponsel itu hadiah dari ibunya ketika dia kembali meraih juara disekolah lamanya.
"Hallo Bu, Kau datang menjemputku? Oke. Aku di depan cafe tempatku bekerja. Oke bye" ucap Camila kemudian menutup ponselnya.
Dibalik jendela kaca yang menyilaukan karena pantulan cahaya matahari seseorang tengah menatap Camila penasaran.
**
New Star Agency
"Nyonya, anda tak perlu cemas agensi kami cukup terkenal dibidangnya. Lihatlah gadis ini, auw semua aku suka, rambut hitamnya, kulitnya mulus terawat dan pokoknya semua aku suka untuk itu kau membutuhkan sebuah buku" terang Simon sesaat melihat ibu Camila sedikit ragu. Gadis itu takut ibunya berubah pikiran dan tak menyetujuinya.
"Sebuah buku? Buku pelajaran? Dia banyak memilikinya untuk apa lagi dia memerlukan sebuah buku" sela Caroline tak mengerti arah pembicaraan Simon.
Camila menghela nafas bingung begitupun ibunya, "Didunia model buku yang dimaksud adalah foto-foto hasil jepretan sang fotografer profesional yang kemudian buku tersebut akan kami tunjukkan kepada para klien model-model kami. Dalam acara tersebut para pemilik foto-foto indah pada umumnya mempertahankan kompetisi" terang Simon kemudian mengambil selembar foto seorang model dan menyerahkannya pada Caroline. "Kami juga punya beberapa foto terbaik dan tentunya klien kami puas atas kinerja kami selama ini. Apalagi dengan anda mempercayakan putri anda kepada kami, tentu kami akan membuatnya menjadi A great model" tambah Simon antusias.
Camila sudah tidak sabar, gadis itu meyakinkan ibunya agar menyetujuinya. "Oh ya, bagaimana aku bisa membuat buku itu Simon?"
"Iya, kita bisa menjadwalkannya. Ehm, jadwal photografer, jadwal makeup artis dan hairdresser kami selalu yang terbaik. Tentu kau akan membayarnya untuk itu semua" jelas Simon.
Caroline menyela sesaat kemudian Simon mengeluarkan selembar kertas berisikan jumlah biaya yang harus dibayarkan untuk bisa menjadi seorang model. Camila melihat ibunya mulai gelisah akhirnya bersuara.
"Bu kita bisa minta sama Ayah" ucap Camila memberi solusi tapi Caroline dengan tegas menolak.
Simon yang hampir melepas tambang emas di depan matanya itu seketika berdiri. "Calmdown Ma'am, aku punya solusi, oke. Tolong tunggu sebentar dan jangan kemana-mana. Loris!! Sajikan kopi untuk tamu kita" teriak Simon sambil berlari centil ke ruangan bosnya.
Caroline menggeleng tanda wanita itu tidak sejutu. "Ibu tidak bisa Camila, apalagi biaya ini sungguh mahal" ucapnya.
"Please, kita pasti bisa bu" bujuk Camila agar ibunya tak berubah pikiran dan menunggu kabar dari Simon.
TBC
Semoga ada solusi di setiap masalahmu Camila...