
Brearly School, New York
Hari Ini Camila berangkat bersama Catrina seperti kemarin. Sepanjang perjalanan diisi tanya jawab mengenai sekolah baru Camila dan teman-temannya. Tak terasa sudah berada di tempat parkir Brearly School. Camila berpisah dengan guru biologi itu di tempat parkir.
"Hei-hei kau lihat gadis itu. Dia mengkepang rambutnya seperti gadis kampung" ucap Gabriel tertawa pada kedua temannya.
"Sepertinya memang dari kampung lihat saja pakaiannya. Uhh...its not our style" ucap Brenda mengejek dan memutari tubuh Camila.
Salah satu sahabat Gabriel, Monica menghampiri Camila lalu menarik rambut panjang gadis itu hingga sang pemilik merintih kesakitan.
"Argh? Apa yang kau lakukan, apa begini sikap kalian dengan murid baru? Membully mereka?"
"Lancang sekali kau murid baru, nih rasakan" ucap Monica mendorong tubuh Camila hingga menabrak tempat sampah. Ketiga murid itu tertawa puas karena mendapat hiburan di pagi hari dan murid-murid yang lain hanya menonton dan bahkan ada yang tak peduli dengan apa yang dilakukan ketiga anak orang kaya itu.
Tak ada yang berani menolong Camila disekolah itu. Jika ada yang berani sok menjadi pahlawan kesiangan, besok orang itu akan dikeluarkan dari sekolah lalu dia tidak akan bisa diterima disekolah mana pun. Ketiga murid berkuasa itu salah satunya adalah putri dari sang Millionare terkaya di New york, Gabriel De'Luciano putri sulung Rexford De Luciano.
Camila berlari menuju lorong sekolah dan membersihkan diri di toilet. Penampilannya sungguh kacau dan bau. Untung saja dia selalu membawa baju ganti jika terjadi seperti sekarang. Setelah mengganti pakaiannya, Camila membasuh wajahnya, ketika mendongak menatap cermin, gadis itu terkejut dengan apa yang dilihat dibelakang pantulan cermin itu.
"Apa yang kau lakukan disini" tanya Camila gemetar melihat seorang pria dengan sorot mata yang tajam tengah menatapnya. Tak lama pria itu tersenyum, "Harusnya aku yang bertanya itu padamu, apa yang kau lakukan di toilet pria" ucap pria itu sambil menunjuk ke deretan toilet pria di belakang tubuh pria itu.
"Sorry...i didn't see it. Aku ketakutan dan segera bergegas kesini untuk mencuci muka dan berganti pakaian."
"Wow, alasan yang bagus. Aku pikir kau akan mengubah dirimu menyerupai lelaki agar kau bisa mengintip kami disini secara terang-terangan, mungkin" canda pemuda bernama Luke.
Camila tercengang dengan pola pikir pria dihadapannya ini. "Apa...!!"
"Aku minta maaf. Apakah kau murid baru disini? Apa kau berasal dari luar kota? Aku bisa melihatnya dari cara penampilanmu" tanya Luke. Pria itu menarik tiga lembar tissu dan memberikannya pada Camila.
Camila menerima dan mengelap wajahnya yang basah. Sesekali mengangguk membenarkan ucapan Luke bahwa gadis itu berasal dari luar kota.
"Jika berkat seperti itu untuk mengejek ku seperti mereka, kalau begitu aku pergi" ucap Camila bergegas keluar tapi Luke menahan tangannya.
"Tidak, tidak bukan begitu. Hanya saja aku tidak sengaja melihatmu diperlakukan seperti itu" ucap Luke.
"Apa maunya pria aneh ini. Tampan sih tapi dari matanya terlihat mesum" bathin Camila bergidik.
"Iya itulah yang mereka lakukan padaku. Hingga aku harus mengganti bajuku karena tong sampah sialan itu" ucap Camila marah.
"Aku minta maaf untuk mereka karena salah satunya adalah sepupuku. Gabriel memang selalu begitu kepada siapapun apalagi melihatmu yang masih baru disekolah ini. Ku harap dia tak menjadikanmu bahan bullyannya."
"Its oke..." ucap Camila.
"Bisakah aku tanya sesuatu padamu"
"Tergantung apa pertanyaanmu"
"Bolehkah aku buang air kecil?"
"Ops, sorry...sorry" ucap Camila dengan senyum canggung keluar dari toilet pria.
"Hai, Aku tadi meneriakimu dan ingin memberitahumu soal letak toilet tapi kau malah berlari dan langsung masuk ke dalam" ucap pria berkacamata tebal, ditangannya terdapat tiga buku lumayan tebal. Kutu buku. Culun. Kuper. Sepertinya cocok dengan karakter pria yang dihadapan Camila saat ini.
"Joe..." ucapnya. Entah kenapa otak Camila seperti kehabisan kuota internet. Loading lama.
"Kenalkan namaku Joe.." ulang pria bernama Joe itu.
"Camila..." gadis itu menerima uluran tangan Joe.
"Berhati-hatilah ketika kau bertemu mereka lagi. Mereka si pembuat onar di sekolah ini" Camila hanya menganggukkan kepalanya.
**
"Bos Kau mau kemana terburu-buru begitu. Padahal aku ingin mendiskusikan sesuatu padamu" ucap Simon.
"Sudahlah. Aku buru-buru nanti kita bicarakan" ucap Victoria.
"Ini tentang sesuatu yang baru dan..."
"Oke see you..."
"Dia selalu begitu. Menyebalkan" gerutu Simon.
**
"Selamat siang tuan Rexford.." sapa seorang pelayan caffe yang melihat perusahaan itu datang ke caffe saat istirahat.
"Siang. Apa tamu ku sudah datang" tanya Rex.
"Nyonya Victoria sedang menunggu anda lima menit yang lalu tuan."
"Oke."
Rexford melihat seorang wanita melambaikan tangannya ke arahnya.
"Kau sudah menunggu lama?"
"Baru saja. Ada apa seorang millionare mencari saya yang notabene hanya seorang pebisnis kecil" ucap Victoria basa - basi.
"Dengan uangku aku bisa mengembangkan bisnis yang kau katakan kecil itu" ucap Rexford.
Seorang pelayan menghampiri meja Rex dan Victoria.
"Secangkir kopi tanpa gula" ucap Rexford.
"Secangkir kopi dengan gula satu sendok teh. Terima kasih" ucap Victoria dengan senyum khasnya. "Apa yang kau inginkan dariku. Apakah Valerie selama ini tak bisa memuaskanmu?"
"Kau salah Victoria. Dia selalu hebat dalam segala hal termasuk menyenangkanku diatas ranjang" ucap Rexford sambil berbisik hingga seorang pelayan kembali datang dengan pesanan mereka.
Victoria menyesap kopinya, "Lalu, kau ingin sesuatu yang baru begitu" ucap Victoria mengangkat kedua alisnya.
"Iya. Bisa dibilang begitu tapi bukan berarti dengan Valerie aku bosan. Itu tidak benar. Hanya saja aku ingin sesuatu yang fresh dan spesial. Kau pasti tahu yang terbaik untukku Victoria. Ayolah, berapapun bayarannya aku akan transfer ke rekeningmu" ucap Rexford
"Kita bisa membicarakan hal ini dikantormu karena tempat ini terlalu umum untuk topik yang akan kita bahas" ucap Victoria.
"Kabari aku jika kau memilik apa yang ku inginkan."
"Baiklah."
Setelah menyesap habis kopi pesanannya, Victoria beranjak pergi meninggalkan Rexford seorang diri. Pandangan pria kaya itu teralihkan oleh sesuatu yang menarik perhatiannya.
Seorang gadis tengah menyeberang secara tergesa-gesa ketika lampu mulai berubah warna menjadi merah dan alhasil buku yang berada ditangannya jatuh berhamburan. Beruntung gadis itu telah berada diseberang jalan. Setelah menyusun buku-buku itu gadis itu berjalan masuk kedalam cafe dan menyapa seorang Manager Cafe dengan sopan.
Cantik, polos, dan sederhana. Penilaian Rexford saat melihat gadis itu berjalan masuk ke lorong dan menghilang dibalik pintu.
"Apa yang dilakukan anak sekolah di cafe ku?" Gumam Rexford. Pria dengan dua orang anak itu melirik arloji mahalnya. Sepertinya dia harus segera kembali ke ruangannya.
TBC