
"Maura! Kenapa harus Maura, Carolina" tanya Hilda, ibunya. Nama tengah Camila cukup cantik untuk menarik kepopuleritasnya sebagai model terkenal.
"Itu nama yang cukup cantik untuk dia Bu. Begitulah yang dikatakan pemilik agensi itu" jelas Carolina yang sedari tadi memperhatikan putrinya tersenyum bahagia. Berlenggak-lenggok seperti para model berjalan di atas catwalk.
"Lalu bagaimana orangnya? Maksudku pemilik agensi itu, apa dia...."
"Dia orang yang baik, Bu. Dia wanita yang hangat dan tentunya Camila akan diperlakukannya seperti keluarga olehnya" terang Carolina.
Cathrina yang duduk disamping Hilda pun ikut senang mendengar Camila bisa menjadi model tanpa menganggu jadwal sekolahnya.
**
Usai pemotretan pertamanya, Camila pergi untuk menghadiri birthday party di rumah sepupu Luke. Beruntung, Victoria sudah memberikan gaun yang tadi ia gunakan untuk pemotretan terakhirnya. Camila sangat senang. Dan dia tak pernah merasa seberuntung ini.
Setelah turun dari taxi, Camila menatap mansion mewah dengan halaman yang sangat luas.
Awalnya dia ragu, karena ini pertama kalinya dia menghadiri birthday party.
Wow...
Camila terperangah, takjub. Benar-benar pesta orang kaya. Tapi, dia menyadari dirinya pun terlihat begitu cantik malam ini jadi dia tak perlu merasa khawatir akan dikucilkan oleh teman-temannya yang hadir dipesta itu.
Satu persatu disapanya dengan senyum percaya diri. Camila berjalan ke balkoni, dimana siapapun bisa menatap indahnya malam penuh bintang.
"Hei, Kau datang?! " sapa seseorang dari belakang membuat Camila membalikkan badan.
Senyumnya mengembang tatkala seseorang yang dikenalnya menyapanya.
"Ya, Kau bisa lihat sendiri. Aku sekarang berdiri dihadapanmu."
"Yeah. Aku pikir kau tak bisa datang. Ternyata aku salah, aku melihat gadis paling cantik itu sudah ada didepanku sekarang. Aku baru menyadarinya..."
"Benarkah..." tanya Camila tersipu malu.
"Iya..." balas Luke.
Luke menggenggam jemari Camila, memperkenalkan Camila pada teman-teman kampusnya. Camila pun membalas sapaan mereka. Penuh percaya diri itulah yang dirasakan Camila saat ini. Ditambah penampilannya malam ini yang memukau.
Camila menatap Gabriel dan sekelompok temannya sedang menghisap rokok Shisa secara bersamaan sambil menegak whiski langsung dari botolnya. Gadis itu begidik ngeri.
"Jangan pedulikan mereka, karena aku tahu kau tak suka dengan sepupuku Gabriel apalagi teman-temannya. Tapi aku salut padamu, kau terlihat berbeda malam ini, kau cantik. Apa kau melakukan ini untukku?" Tanya Luke dan detik itu juga pemuda itu hendak mencium bibir Camila. Sayangnya Camila dengan cepat menghindar. Dia belum bisa berciuman. Karena Camila belum pernah melakukannya dan akhirnya Luke hanya bisa memakluminya. Tapi dia akan mencoba menjadikan Camila seutuhnya miliknya. Dan itu, malam ini...
Camila duduk dipinggir bibir kolam, kaki telanjangnya dia celupkan kedalam air.
"Kau baik-baik saja?" Tanya Luke, pemuda itu duduk disebelah Camila. Segelas soda ringan disodorkan pada gadis disebelahnya.
"Ya, lumayan. Apa ini..." tanya Camila ketika menerima segelas air berwarna biru laut.
"Cobalah, itu soda ringan, rendah alkohol dan supaya kau sedikit rileks."
Camila meminumnya, ada rasa menusuk ditenggorokannya. Dan benar setelah beberapa saat gadis itu mulai rileks dan menikmati pesta.
Tanpa disadari Camila mulai berjoget ditengah kerumunan teman kampusnya yang sudah mabuk. Luke menyadari bahwa obat yang dia masukkan kedalam minuman Camila sudah bereaksi.
Kini tinggal menunggu waktunya
Luke pun turut menikmati musik Dj, beberapa saat kemudian musik terdengar slow, lengan kekar Luke meraih pinggang Camila agar mendekat. Luke mendekatkan bibirnya ke telinga dan berkata, "I want...you...kiss me..." pinta Luke.
Camila yang setengah mabuk pun terdiam, lalu tersenyum lalu mendekatkan bibirnya ke bibir Luke. Camila pun mencium pemuda itu, karena sejatinya dia terpesona pada ketampanan Luke saat pertama kali bertemu.
Kini mereka berdua berada didalam kamar Gabriel. Luke mengunci pintu, takut-takut seseorang memergokinya sedang ehem-ehem...
Dibalik selimut dan hembusan nafas yang terengah-engah...
"Aku ingin memberitahumu sesuatu..." ucap Camila.
Luke menatap Intens Camila yang berada dibawah kungkungannya.
"I never did this before..."
"Never what?" Tanya Luke.
"Never did this..."
Luke berpikir sejenak. "Virgin??" Tebak Luke dan Camila mengangguk tersenyum. Didalam hati pemuda itu, dia bersorak gembira bisa mencicipi gadis perawan seperti Camila.
"Aku takut, karena aku baru mengenalmu..." jari telunjuk Luke mendarat dibibir Camila agar gadis itu tak perlu banyak bicara.
"Tak masalah untukku Camila. Kau tahu kau adalah gadis spesial yang pernah ku temui dalam hidupku" kata Luke dan Camila seakan melambung ke atas awan ketika Luke mengatakan dirinya spesial.
TBC