The Secret Of Truth

The Secret Of Truth
Chapter 03



"Benarkah disini bisa kerja part time?"


"Iya, tapi gajinya tak seberapa untuk para pekerja part time, apa kau mau menerimanya? Kalau kau bersedia besok kau boleh mulai bekerja disini" ucap manager cafe D'Luciano Company.


Selepas pulang sekolah, Camila mencari tambahan uang saku. Paling tidak dengan gaji yang ia peroleh mengurangi beban sang ibu. Apalagi setelah semalam ia secara tidak sengaja mencuri dengar pembicaraan antara nenek dan ibunya.


"Andai ayahmu masih hidup, mungkin aku akan tenang diusia tua ku ini, Caroline" ucap Hilda bernada sendu.


"Apa ibu masih menyimpan pistol ayah..." tanya Caroline mengalihkan pembicaraan. Sungguh ia tak ingin melihat ibunya bersedih mengingat kepergian ayahnya.


"Untuk apa kau menanyakan senjata itu Caroline" tanya Hilda sensitif jika putrinya mulai bertanya soal pistol peninggalan suaminya. Ya ayah Carolinea seorang kepala kepolisian.


"Tidak, Bu. Aku hanya ingin melihatnya saja. Ayah pernah mengajarkanku menembak. Kau ingat."


"Aku lupa menaruhnya dimana. Nanti aku akan cari."


Caroline mendekati ibunya, "Cerita padaku bu. Aku tahu kau memiliki sesuatu yang tak bisa kau ceritakan pada orang lain."


Hilda menatap putrinya. Hanya Carolina yang memahami sifat ibunya jika tiba-tiba diam berarti ada sesuatu yang Hilda sembunyikan terbukti wanita lansia itu mulai bercerita bahwa sudah dua tahun lebih ia menunggak pembayaran kondominium. Jika tahun ini ia tak membayarnya, maka ia tak bisa mempertahankan apartemennya. Carolina terkejut dengan apa yang di dengarnya, lalu memeluk ibunya.


"Aku akan mencari kerja. Kau tenang saja, Ok. Jangan terlalu banyak pikiran karena aku tak ingin kau sakit ibu. Aku hanya punya kau dan Camila sekarang" ucap Caroline.


"Iya aku bersedia. Terima kasih sudah menerima saya sebagai pekerja di Cafe Anda. Saya Camila." Camila mengulurkan tangannya.


"Saya Lucas Ricardo" ucap Lucas menerima uluran tangan Camila.


**


New Star Agency


Kantor agency yang menyalur tenaga kerja permodelan atau menyewakan para modelnya untuk mengenakan rancangan para desainer ternama atau bahkan mungkin ada sesuatu tersembunyi di balik New Star Agency itu sendiri. Hanya owner-nya yang tahu.


"Kau sudah kembali Lady Bos?" sapa Simon. Pria gemulai itu bekerja sebagai seorang trainer.


"Hmm, Persiapkan para model, dua minggu lagi akan ada peluncuran produk dari China. Kau tahu Mr. Lee Xiao We, dia orang penting di negaranya. Aku senang ketika dia memilih agansi kita untuk pertemuan penting mereka dan itu artinya usaha kita meyakinkan mereka tidak sia-sia" ucap Victoria, pemilik New Star Agency.


Simon mengangguk dan berlari memeluk Victoria. "Kau selalu yang terbaik bos dalam meyakinkan seorang berduit."


"Kau tahu itu. Kemana Leo, apa kau melihatnya" tanya Victoria pada Simon lalu menyalakan cerutunya. Asap tebal berhembus dari bibir wanita berumur lima puluh tahun itu.


Victoria Hugges adalah mantan model diusia mudanya. Berharap cita-citanya tak memudar termakan usia jadi Victoria membuka agency untuk merekrut para model. Sudah banyak perusahaan yang menggunakan jasa model dari agency milik Victoria misalnya peluncuran New lamborghini 2019 beberapa bulan lalu yang sukses menarik minat banyak konsumen dikalangan kelas atas.


"Mungkin kekasih gigolomu itu sedang nge-gym, kemana lagi dia harus pergi ketika kakinya telah kau ikat dengan uang"


Mendengar jabawan Simon, Victoria menatap tajam Simon karena kalimat terakhirnya.


"Wow, calm down. Tapi memang begitu kenyataannya. Ribuan kali eke nasihati yei" ucapan Simon terpotong karena seseorang membuka pintu.


"Kau kembali sayang..." suara itu milik Leo August Wilard. Model pria di NS agency sekaligus pacar Victoria. Pria itu mengacuhkan Simon dan segera memeluk Victoria yang tengah menghisap cerutunya.


Victoria hanya berdehem sebagai balasan atas pertanyaan Leo. "Aku rindu padamu sayang bagaimana kalau..." Leo menghentikan cumbuannya ketika Simon masih setia menatap kedua objek didepannya tanpa tahu malu pada usia mereka yang bisa dibilang berumur.


"Aku tak menggajimu untuk menonton adegan syur bosmu Simon. Pergilah!!" usir Victoria. Leo tertawa sinis.


**


"Hai, girls dengarkan aku ya, dua minggu lagi akan ada peluncuran produk dari Cina. So, persiapkan diri kalian dan bekerjalah secara profesional" ucap Simon.


"Aku sudah tak sabar, Simon. Apa bisa dipercepat jadi minggu depan?" tanya Larisa.


Simon mendelikkan mata. "Itu bisa diatur jika kau simpanan Mr. Lee Xiao Wen, sayang" ucapnya.  Seketika yang mendengar ucapan Simon tertawa terbahak-bahak. Larisa memutar bola matanya. Begitulah Simon si pria gemulai.


**


"Paula, hubungi Victoria. Katakan padanya untuk menemuiku di cafe kantor besok siang" ucap Rexford melalui interkom.


"Maaf Sir, besok siang ada meeting penting dengan klien dari Jerman" ucap Paula sekertaris Rexford.


"Majukan di jam sepuluh pagi, Paula" perintah Rexford.


**


Privat room, NS agency


"Leo..ahh...fast..ahh..ter.."


"Huuh..huh..ahh...vic..ah kenapa kau menyumpal mulutku..ah.."


Tiba-tiba suara dering ponsel Victoria memecah aksi panas dua insan diruangan itu.


"Kau tak lihat ID callernya..."


Rex-DL sekertaris is calling..


Leo tak menggubris dan terus memaju mundurkan pinggulnya. Erangan nikmat itu terpaksa terjeda karena dering ponsel Victoria tak juga berhenti.


"Kenapa kau tak memutuskan saja panggilan itu dan kita lanjutkan apa yang tertunda sayang. Ayolah, aku sangat merindukanmu. Rindu memasukimu Victoria" Leo mengecup punggung Victoria karena wanita itu kini tengah tengkurap dan mulai menjawab panggilan penting dari seseorang.


"Diamlah Leo..." ucap Victoria.


"Ya, Miss Paula ada yang bisa kubantu? Baiklah aku akan menemuinya...oke...oke"


Victoria meletakkan ponselnya diatas kasur.


"Apa yang dikatakannya" tanya Leo sambil mengecup telinga Victoria.


Victoria mendesah "Biasa bosnya ingin bertemu denganku" jawabnya.


"Semoga dapat tender yang bagus dari bos kaya itu dan aku bisa mendapatkan komisi darimu."


"Ck. Dasar tak tahu diri..." ucap Victoria, dengan senyum nakal wanita paruhbaya itu mengalungkan lengannya di bahu kekar milik Leo. Kedua pasang mata itu bertemu. Wajah mereka semakin lama semakin mendekat Kecupan demi kecupan hingga berlanjut dengan lumatan bibir yang menggairahkan.


**


"Ibu, aku pulang. Oh, nenek dimana ibu" tanya Camila melihat sang nenek yang sedang duduk menonton telenovela.


"Hai sayang kau sudang pulang" sapa Carolina dan menyambut putrinya dengan sebuah kecupan dikening Camila.


"Ibu ada apa dengan nenek tadi tak menjawab ketika ku tanya dimana kau berada"


"Nenek mu sedang serius menonton acara kesukaannya. Jadi tak bisa diganggu bahkan menoleh kearah mu saja tidak kan?" Camila hanya mengangguk mengiyakan perkataan ibunya.


"Ayo kau pasti lapar. Biar ku panasi makanannya."


"Ibu, besok aku mulai bekerja..." ucap Camila dan itu membuat ibunya menoleh ke arah putrinya yang menatap meminta jawaban.


"Sayang, kenapa kau lakukan itu, ibu bisa mencari kerja dan kau hanya perlu fokus dengan sekolahmu."


"Ibu aku akan berhenti ketika ada kabar baik dari Simon, Bu. Biarkan aku membantu ibu dan nenek."


Jika Camila sudah bertekad maka ibunya hanya bisa pasrah selama itu masuk diakal. Ibunya mengangguk tanda setuju. "Tapi jika jadwalnya terbentur dengan kegiatan ekskul ibu akan melarangmu bekerja, kau mengerti Mila."


"Yes Madam..." Camila bersorak lalu memeluk ibunya erat. Carolina bangga memiliki putri yang pengertian.


TBC