
"Akhirnya aku bisa melihat Nenek, aku sangat rindu padamu."
Camila memeluk erat neneknya. Terakhir gadis itu berkunjung waktu berusia sepuluh tahun dan setelah itu tidak pernah bertemu dengan neneknya sama sekali. Hanya via telepon saja gadis itu berkomunikasi dengan sang nenek. Kakeknya telah lama meninggal semenjak ibu Camila masih kanak-kanak.
"Oh cucuku, kau sudah besar rupanya. Lihat Caroline dia cantik sepertiku" ucap Hilda Adams, nenek Camila.
"Itu pasti Bu, siapa dulu yang melahirkannya?" balas Caroline mengangkat dua koper masuk ke apartemen sang nenek.
Mereka bertiga kembali berpelukan penuh rindu.
"Hi, Mrs. Carolina, hi Camila" sapa seorang wanita dari arah dapur sambil membawa empat cangkir teh dan juga cemilan.
"Bu, kukira kau tinggal sendirian?" tanya Carolina pada ibunya.
"Hallo, Anda...?" tanya Carolina lagi.
"Dia Catrina, dia salah satu penyewa di kamar ini. Yah, karena aku tinggal sendiri jadi apa salahnya menyewakan kamar kosong bagi yang membutuhkan. Hitung-hitung ada yang mengajak ku mengobrol, bukan?" Sela Hilda.
Catrina menjabat tangan Caroline dan Camila. "Aku dengar kau mencari sekolah yang baru Camila?" Camila menatap Catrina penuh tanya lalu menatap neneknya kemudian.
"Catrina seorang guru di salah satu sekolah ternama Brearly School dan besok dia yang akan membawamu ke sekolah. Nenek sudah mengatur surat-surat kepindahan sekolahmu Camila. Sejak ibumu mengatakan pada nenek tentang apa yang terjadi, itu semua demi kau cucuku, aku sangat mendukung masa depanmu. Ingat itu" jelas sang nenek membuat Camila maju untuk memeluk neneknya.
"Thank you so much nenek, tunggu! Brearly School? Brearly yang itu ibu?! oh my God! Itu salah satu sekolah favorite ku dulu. Aku tak percaya ini. Terima kasih nenek aku menyukainya dan aku sangat menyayangimu" ucap Camila terharu, senang dan juga terkejut dengan apa yang neneknya katakan. Sebuah impian bisa sekolah di salah satu sekolah populer di New York.
"Aku ke kamar dulu dan kau Camila bersiaplah untuk besok pagi, oke" seru Catrina beranjak ke kamarnya untuk beristirahat.
**
Pagi harinya, setelah menyapa semua orang yang berada di meja makan, Camila duduk dan memakan sarapannya.
"Ibu, sepertinya aku harus berangkat sekarang karena ini hari pertama ku jadi aku ingin cepat-cepat melihat sekolah ku yang baru, ayo Miss Catrina" ajak Camila beranjak dari meja makan menyudahi sarapannya.
"Jangan bilang kau belum mandi langsung pergi sarapan?" Camila tertawa melihat ekspresi Catrina yang terdiam karena malu. "Oh, apa itu benar?" tanyanya lagi.
"Jangan pedulikan dia, Catrina" ucap Caroline. Catrina melahap roti panggangnya dengan cepat, ia tak mau berlama-lama dimeja makan. Bisa-bisa tensinya naik meski Camila hanya bercanda.
"Candaanmu sungguh konyol Camila" ucap Catrina lalu berjalan ke kamarnya.
"Oke. Aku minta maaf untuk itu. Sungguh aku hanya mencairkan suasana pagi dengan ekspresimu itu seperti balok es di kutub utara. Kau tahu" ucap Camila.
"Whatever..."
Raut wajah Hilda nampak bahagia. Di usia senjanya memang butuh seseorang menemaninya. Tidak cukup hanya dengan menonton Televisi saja sebagai penghibur tetapi keluarga yang utuh merupakan bentuk hiburan tersendiri bagi wanita lansia itu.
**
Di Penthouse mewahnya seorang pria mengambil handuk mandi dan melilitkannya dipinggang. Dia terlihat so hot in this morning. Pria itu menyugar rambutnya perlahan sambil menatap pantulan dirinya didepan cermin. Tak lama ia keluar dari kamar mandi dan masuk ke ruang walk in closetnya yang luas. Deretan kemeja putih berjajar rapi begitu pula dengan barang serta keperluan lainnya.
Rexford sang Millionare menatap dirinya di depan cermin fullbody. Seperti ada yang tidak cocok dengan penampilannya. Oh, sepertinya dasinya tidak sesuai dengan suasana hatinya. Begitulah yang membuat pria itu selalu terlihat sempurna.
**
"Selain sekolah ini populer karena bakat serta kecerdasan para muridnya, tapi sebagian para orang tua murid juga sebagai penyalur dana disekolah ini. Jadi kau beruntung karena kecerdasan mu Camila. Ingatlah pesan ku ketika kau mulai membaur di sekolah ini. Jangan buat kekacauan yang mencoreng namamu berserta keluargamu. Apalagi aku yang notabene seorang guru yang dekat denganmu. Kau mengerti?" Terang Catrina panjang lebar.
"Ya aku mengerti. Dan tenang saja aku tidak akan mencemarkan nama baik siapapun."
"Bagus. Pergilah ke kelas mu. Ingat jangan nakal."
"Kau duplikat ibuku Miss Catrina" Catrina memutar bola matanya jengah.
TBC