The Secret Of Truth

The Secret Of Truth
Chapter 01



Camila Maura Thompson, gadis berusia sembilan belas tahun, ia bercita-cita menjadi seorang model. Mengenakan busana rancangan desainer terkenal menjadi impiannya semasa kecil. Dan baru - baru ini gadis berlesung pipit itu mengalami musibah didalam keluarganya. Ayah yang sangat dia cintai telah mengkhianati kepercayaannya serta ibunya. Ibunya sendiri yang memergoki sang ayah telah berselingkuh dengan seorang wanita dan telah melahirkan seorang putri berusia tujuh tahun. Dan yang lebih menyakitkan, istri beserta putri kandungnya tak tahu menahu soal perselingkuhan yang dilakukan oleh ayahnya selama hampir delapan tahun.


Ibu Camila memutuskan untuk bercerai dan mengambil hak asuh atas putrinya. Kini, Camila dan ibunya tinggal bersama di sebuah rumah susun dimana sang nenek tinggal seorang diri disana. Perjalanan yang cukup jauh, nampak gedung-gedung-gedung menjulang tinggi. Dia pergi mengunjungi sahabatnya yang bekerja di bagian Agensi. Sahabat Camila ini adalah seorang pria tapi pria feminim. Buktinya seperti sekarang, ketika Camima menyapa sahabatnya pria itu langsung berteriak histeris.


"Hai Simon..." sapa Camila.


"Oh my God, my sweet dear, You are here? You look so beautifull in the real, you know?" pria bernama Simon langsung memeluk erat Camila.


"Oh yeah... kenalkan ini ibuku."


"Halo, saya Simon. Teman Camila di dunia maya" canda Simon membuat Caroline, ibunya Camila mengerutkan dahi tak mengerti. Maklum ibunya awam akan internet tapi dia seorang ibu yang teliti.


"Dia selalu seperti itu Bu? Over acting..." sela Camila.


"Oh ya, aku kesini mengunjungi mu sekaligus menanyakan secara langsung apa ada kesempatan untuk menjadi salah satu model disini?" Lanjut Camila antusias. Caroline hanya tersenyum melihat keakraban putri dan sahabat gemulainya itu.


"Oh my dear, sayang sekali my big boss sedang pergi bisnis dengan seorang desainer ternama. Aku akan menghubungimu jika bos sudah berada disini, oke. Jangan putus asa. Percaya denganku bahwa keinginanmu pasti akan tercapai dan mungkin saat ini keburutunganmu belum tiba, sayangku" terang Simon dengan logat kemayunya.


"Baiklah, aku harus pergi mengurus kepindahan sekolahku. Jangan lupa calling me...".


"Sure..." ucap Simon melambaikan tangannya kearah Camila beserta ibunya.


**


"Apakah kau yakin menggunakan salah satu model dari New Star Agency" tanya Roberto, pria gendut namun cekatan berprofesi sebagai asisten CEO sang Millionare itu menyerahkan map hitam berisi foto seorang model cantik.


"Kenapa tidak Roberto, dia handal dalam bidangnya" ucap Rexford sang millionare sambil membuka lembar demi lembar hasil jepretan sang fotografer.


"Termasuk sex...?" tanya Reberto. Rexford hanya menoleh sambil mengerutkan kedua alisnya. Walau seorang asisten Roberto merupakan sahabatnya yang setia membantunya menangani masalah perusahaan. Terkadang sampai urusan keluarga pun Roberto mengetahui luar dalam. Ya, begitulah seorang asisten harus tahu sisi luar dan dalam bosnya.


Rexford De Luciano, sang Millionare tampan bahkan putrinya menjulukinya sebagai *H*ot Daddy. Dengan tubuh atletisnya, ia mampu menarik banyak wanita ke pangkuannya. Tapi sayang saat ini pria itu bermain bersih hanya dengan satu wanita saja. Ya, map yang berisi jepretan sang fotografer merupakan foto seorang wanita atau tepatnya kekasih Rexford saat ini.


**


"Hai, Vale. Kau menunggu lama?"


"Tak masalah sayang. Oh ya, aku akan merindukanmu selama tiga minggu ke depan" ucap Valerie mengecup sekilas bibir Rexford.


Rexford mengerutkan dahi. "Kau akan pergi lagi? Dimana kali ini tujuanmu, baby?" tanya Rex pada Valerie. Keduanya berjalan menuju suit room dilantai teratas.


"Kali ini lumayan jauh. Paris. Sudahlah kita rayakan moment ini sebelum kepergianku" Valerie mengusap rahang yang dipenuhi bulu tipis milik Rex.


Tak butuh waktu lama, kedua insan itu kinu tanpa sehelai benang pun ditubuh mereka. Valerie menikmati cumbuan yang diberikan Rex padanya.


"Ehmm..ya..ough..aahh...Rex...faster please" rancauan nikmat menggema dipenjuru ruangan yang temaram.


Hingga keduanya merasakan pelepasan ketiga kalinya. Rexford bangkit dari kasurnya tetap dalam kondisi *****. Dia menyulut rokok lalu berdiri dipinggir jendela kaca yang lebar.


"Apa yang sedang kau pikirkan?" Tanya Valerie memakai kemeja Rex tanpa perlu mengancingkannya. Wanita itu memeluk Rex yang full ***** itu tanpa tahu malu.


"Tidak ada Vale. Mungkin aku akan sedikit merindukanmu" Bohongnya.


"Oh yeah, aku tak percaya padamu Rex"


Membuat seseorang melayang tinggi dengan harapan lalu menghempaskan begitu saja sampai ke dasar. Begitulah salah satu sifat Rexford jika ada yang mendekatinya karena uang.


TBC