
Hasrat membara dipenuhi peluh yang membanjiri kening Victoria didalam ruangan kerjanya. Leo benar-benar sangat ahli menyalakan api kenikmatan didalam diri wanita itu. Suara desahannya mengalun merdu ditelinga Leo seolah mengerti bahwa Victoria hendak mencapai klimaks.
CKLEK
Simon masuk ke dalam ruangan Victoria disaat yang bersamaan Victoria dan Leo terkejut seseorang masuk ke ruangannya.
"Bos! Bos! Kau di dalam?"
"What the f*ck" umpat Victoria bersamaan dengan Simon yang menatap mereka tanpa canggung sedikitpun. Wanita itu segera membenahi pakaiannya yang hampir sepenuhnya telanjang, begitu pula dengan Leo. Malah model pria itu tanpa canggung berciuman dengan Victoria di depan Simon.
"Simon, berapa kali harus Ku katakan. ketuklah pintu jika Kau masuk !!"
"Kau sendiri yang bilang Bos, lakukan sesukamu Simon" ucap Simon menirukan cara bicara Victoria. Leo tertawa geli melihat tingkah Simon yang dibuat-buat itu.
Seperti biasa Victoria akan menyulut cerutunya jika penyakit stresnya kambuh atau karena ulah Simon seperti tadi puncak kenikmatannya jadi tertunda.
"Ada apa Kau kemari Simon. Jangan masuk ke ruanganku jika tidak ada hal penting. tck!"
"Aku hampir lupa tujuanku, Bos. Gadis yang kukatakan waktu itu, dia sudah datang. Tapi, mereka terhalang biaya administrasi Bos."
Leo memperhatikan percakapan mereka dengan begitu serius. "Tidak bisa Simon, seorang calon model, harus membayar semua keperluan pembuatan 'Pink Book' itu. Dan itu salah satu persyaratannya jika gadis itu ingin menjadi seorang model di agensi."
Victoria masih kesal akan perbuatan Simon tadi dan ditambah dengan calon model yang tidak mampu membayar persyaratan sebagai seorang model. Simon terus membujuk Victoria agar mau bertemu dengan Camila dan Ibunya tapi Victoria menggelengkan kepala.
Simon mengaitkan kesepuluh jarinya, memohon sambil berlutut di hadapan Victoria berharap bosnya mengabulkan permintaannya. "Aku tahu Bos, tapi kumohon biarkan Kau melihat berlian itu sendiri karena Aku sangat yakin Kau bakal menyukainya."
Victoria menatap kesungguhan Simon lalu berkata, "Baiklah, bawa dia kemari."
Simon terdiam sejenak mencerna ucapan Lady Bosnya itu. "Tunggu apa lagi Simon, cepat bawa dia kemari. Sebelum keputusanku berubah!"
Simon tersentak, "Ouh, Lady Boss. Oke aku akan memanggilnya. Kau pasti akan menyukainya" ucap Simon bersorak riang lalu keluar memanggil Camila dan ibunya.
**
Di lain sisi, Camila dan ibunya menunggu Simon.
"Sayang, lupakan mimpi untuk menjadi seorang model. Kau tahu sendiri kan?"
"Bu, kumohon?" sela Camila.
"Ibu tidak mampu membayarnya Camila!" sanggah Carolina.
"Bu, dia sedang mendiskusikannya dengan bosnya" ucap Camila sedikit kesal dengan ibunya.
"Oke, Girl, Bos memintamu ke atas untuk menemuinya, ayo cepat-cepat" pinta Simon antusias.
Camila dan ibunya saling bersitatap lalu beranjak menuju ke ruangan Victoria.
**
Victoria paham maksud pujian Leo padanya dan wanita itu mengambil dompet tebalnya. Victoria menyerahkan lembaran dollar itu ke tangan Leo. Model Pria itu tersenyum senang lalu mencium punggung tangan Victoria. "Aku mencintaimu sayang."
"Mencintai uangku tepatnya, Leo"
"Hahaha, kau selalu tahu Victoria, mmuach" ucap Leo sambil tertawa, Victoria pun hanya tersenyum menanggapi. Wanita itupun tak merasa dirugikan saat ini.
Pintu ruangan itu terbuka, masuklah Simon, Camila dan ibunya.
"Bos, ini dia berlian yang ku katakan. Bagaimana parasnya?" tanya Simon pada Victoria yang terpana akan kecantikan Camila. "Aku tahu kau langsung menyukainya, betulkan ucapanku bahwa kau tak bisa menolak pilihanku bos."
Victoria mendekati Camila, memperhatikan postur tubuh gadis sembilan belas tahun itu dari pucuk rambut hingga ke kaki jenjangnya yang indah.
"Tinggi badan yang sempurna, rambut hitam yang indah" ucap Victoria menilai. "Lihatlah senyumnya, aku pastikan dia akan menjadi model yang terkenal" sambung Victoria. Simon puas mendengar penilaian yang Victoria berikan dan dia yakin teman dunia mayanya itu bakal menjadi model terkenal suatu hari nanti.
Ibu Camila nampak gelisah, apalagi dikepalanya dipenuhi puluhan pertanyaan dan keputusannya akan mengijinkan putrinya menjadi seorang model apakah sudah benar?
"Tunggu nyonya, sebenarnya aku, eh...kau tahu kan ini pertama kalinya putri saya masuk dunia permodelan. Sepertinya alangkah baiknya jika dia harus menyeleseikan sekolahnya lebih dulu" sela Carolina.
Victoria menoleh ke arah Carolina lalu menatap Simon seolah bertanya 'siapa wanita itu'.
"Oh, Bos nyonya ini, ibunya Camila."
Victoria dan ibu Camila berjabat tangan memperkenalkan diri. Begitu juga dengan Leo turut memperkenalkan diri sebagi model internasional.
"Model wanita mempunyai gaji yang lebih baik dari pada model pria. Mari kita lihat cara berjalan mu sayang?" ucap Victoria.
Camila terkejut bercampur gugup saat Victoria memintanya berjalan ala model. Camila menarik nafas agar perasaan gugup itu sedikit berkurang. Camila pun berjalan, sedikit kaku mungkin karena pertama kalinya.
"Dia punya potensi" ucap Leo memberi nilai dan Victoria mencibir.
"Ya, aku juga merasa begitu Bos, aku akan melatihnya" saut Simon meyakinkan Victoria.
"Tapi nyonya Victoria aku tak mampu membayarnya, jadi itu tidak mungkin..."
Camila mendengus kesal mendengar penuturan ibunya yang tidak ingin memperjuangkan mimpinya itu.
"Carolina, aku juga seorang mantan model juga. Aku tahu model yang bagus ketika aku melihatnya. itu adalah matanya. Cantik. Aku orang yang suka membantu dan aku akan membayar untuk 'Book' itu, oke. Kau bisa membayarku nanti" kata Victoria meyakinkan ibunya Camila yang masih terlihat cemas.
Sedangkan Camila semakin gelisah, ia nampak gusar melihat kekhawatiran diwajah ibunya. Gadis itu memohon pada ibunya agar menerima tawaran dari Victoria. Sebagai seorang ibu tentu Carolina mencemaskan putrinya apalagi berada dilingkungan yang baru. Dunia permodelan.
Victoria dan Simon mencoba meyakinkan Carolina bahwa tidak ada yang perlu dia cemaskan karena semua staf kerja dan juga para model sudah Victoria anggap seperti keluarga. Victoria bersedia membantu pembuatan 'Pink Book' itu.
Akhirnya Caroline mengangguk setuju. Camila berjingkrak girang langsung memeluk ibunya. Victoria, Simon dan Leo pun turut senang melihatnya.
TBC