The Secret Of Truth

The Secret Of Truth
Prolog



Malam hari di Presiden Suit Room seorang gadis cantik berambut hitam panjang berlari masuk saat ruangan mewah itu terbuka pintunya.


"Oh Tuhan, lihatlah dirimu cantik sekali malam ini," puji Rexford pada Maura.


Maura begitu senang saat Rex mengaguminya. "Hari ini aku berbelanja beberapa pakaian untuk pesta minggu depan dan termasuk yang ku pakai ini. Apa kau menyukai pakaianku ini?" tanya Maura memutar tubuhnya dengan senyum paling menawan.


"Bagus. Kau semakin cantik sayang," puji Rexford sambil memeluk dan mencium leher Maura dari belakang.


Aroma gadis itu sungguh memabukkan membuat seorang Rexford De Luciano begitu candu dan terus-menerus menginginkan gadis itu.


"Apakah kau sudah membeli ponsel yang baru sayang?" tanya Rex tanpa melepas pelukannya. Cumbuannya kali ini semakin intens.


"Ya. Aku akan memberikan nomor baruku padamu nanti karena kartu Sim lama ku tidak bisa masuk di ponsel baru ku," terang Maura.


"Tidak apa-apa, sayang. Lihatlah penampilanmu sekarang. Sempurna. Akan lebih sempurna jika aku membantumu melepaskannya."


Rexford mendaratkan ciuman ke bibir ranum Maura sambil melepas jaket kulit berwarna hitam milik Maura dan melemparnya ke lantai.


Maura merebahkan tubuhnya di atas kasur dengan senyum menggoda.


"Kalau begitu lepaskan. Bantu aku lepaskan semua pakaian ini."


"Dengan senang hati baby ...."


Sambil berbisik manja ditelinga Maura, Rex mendaratkan ciumannya dibeberapa area sensitif Maura membuat gadis belia itu menggelinjang dengan hebatnya.


Senyum devil Rex mengembang. Dengan cekatan pria itu melepas semua pakaian yang melekat ditubuh Maura.


" I love you, baby ..." desisnya pelan disertai kecupan-kecupan kecil dibokong sexy Maura yang sedang tengkurap.


Maura begitu menikmati setiap sentuhan itu, sesekali memejamkan mata dan menggigit bibir bawahnya. "Ough, hmmm," lenguh Maura nikmat.


Rexford membalikkan posisi Maura supaya terlentang. Keduanya begitu panas dibalik selimut, hingga penyatuan tubuh mereka mencapai puncak klimaks yang memabukkan.


Kini Maura tengkurap beralaskan selimut dilantai sedangkan Rexford berada diatas kasur dengan posisi yang sama tapi kepalanya berada ditepi kasur. Jemari Rex mengayun lembut membelai makhluk indah sempurna membuat si empunya membalikkan tubuh telanjangnya.


Maura menatap pria yang telah mengubah hidupnya itu. "Pakaikan aku baju seperti bayi mungil," pinta Maura.


Rexford tersenyum. "Dengan senang hati my dear," balas Rexford. Pria itu bangun dan mengambil pakaian Maura yang berserakan.


Maura menaikan pinggulnya agar celana dalam berenda hitam itu tepat pada posisinya. Rex berlutut saat mengancingkan celana jeans Maura lalu mengecup lembut perut rata gadis itu. Kini beralih mengaitkan bra lalu memakaikan tang top warna hitam. Rexford memeluk erat dari belakang. Menghirup aroma gadis itu sebanyak-banyak sebelum Maura pergi dari suitroom itu.


"Aku ingin kau selamanya untukku. Milikku!" ucap Rexford.


"Apakah kau sedang melamarku?" tanya Maura senang.


"Menikahi mu?" Rexford tertawa lalu beranjak dari kasur menuangkan segelas sampanye dan menegaknya setengah.


"Perkataanmu tadi seperti kau melamarku, Rex. Apakah itu benar?" Maura menatap ekspresi Rexford.


"Kenapa kau tertawa" tanya Maura lagi.


"Karena pernikahan itu diluar dari rencanaku dan itu bahkan tidak terlintas dibenakku Maura" jelas Rexford kembali menegak habis sampanye ditangannya dan menatap pemandangan malam dari jendela kaca.


Maura duduk diatas ranjang dengan wajah sedihnya mendengar perkataan Rexford. "Bukankah kau menyukaiku Rex?" tanya Maura memastikan.


"Jadi, sampai kapan pun kau tak akan menikahiku dan kita tidak akan bisa bersama layaknya keluarga?" tanya Maura sedih.


"Kau harus mengerti posisiku Maura. Aku tidak akan menikah dengan siapapun," jawab Rexford sambil menyibakkan rambut Maura ke belakang bahunya.


"Terutama dengan ku?"


"Ya. Aku bisa membelimu Maura."


"Apa?! Aku bukan barang yang seenaknya Kau beli dengan mudah, Tuan Rexford!" teriak Maura murka.


"Kumohon baby, biarkan hubungan kita seperti ini. Aku membutuhkanmu disisiku!"


"Diranjangmu maksudmu!" Maura menepis setiap sentuhan sang millionare itu.


"Nikahi aku atau lupakan hubungan kita" ancam Maura.


"Kita bicarakan ini lain kali, oke?" ucap Rexford menyugar rambut indah Maura. Membelai lembut leher gadis yang sedang bergejolak marah.


"Tidak! lupakan aku, lupakan hubungan kita," ucap Maura melepaskan pelukan Rex yang semakin erat.


Rexford membalikkan tubuh Maura, memeluknya dari belakang dengan lengan kirinya mencengkeram rahang sexy Maura.


"Tidak akan pernah, baby. Aku akan menunggu mu disini besok malam," ucap Rexford mencumbui Maura. Gadis itu mengurai pelukan dan melangkah pergi.


"Jangan memaksaku disisimu jika kau tak ada niat menikahi ku Rex. Aku tidak ingin menjadi salah satu jalangmu. Aku pergi!" ucap Maura tapi lagi-lagi Rexford menahannya.


"Oke. Jika itu keputusanmu sayang. Beri aku ciuman selamat malam," ucap Rexford mendekatkan wajahnya.


Maura berpaling. "Tidak. Kita selesai."


"Setidaknya terimalah pemberianku ini sayang."


Rexford memberikan sebuah amplop putih berisikan lembaran dollar, tapi Maura menolak menerimanya. Tentu saja Rexford menyelipkan amplop putih itu disaku celana jeans Maura sebagai imbalan.


Maura menatap Rexford yang terakhir kali. Hatinya mulai mencintai pria empat puluh tahun itu tapi bagi pria itu, Maura hanya penghangat ranjangnya. Tidak lebih. Sungguh miris!


Seiringnya waktu, Rexford menyadari bahwa ingatan tentang Maura dengan sifat polos, ceria, dan perlakuannya disaat berhubungan tidak bisa pria itu lupakan. Meski dia menyewa wanita dari tempat yang sama pun hati serta pikirannya tetap pada Maura. Bayangan lekuk tubuh Maura, suara desahan yang mengalun indah ditelinga Rexford menjadi hiburan tersendiri bagi pria yang haus belaian seperti Rexford de Luciano.


TBC


Visualisasi ya guys...


Rexford De Luciano



Camila Maura Thompson



...New story... semoga suka. aku tunggu votenya n di favorite ya. Thanks love...