The Red Fox: Author and The Dark Energy

The Red Fox: Author and The Dark Energy
Perempuan gagak



Setelah mereka menghabisi seluruh monster itu, Author membantu mereka menyembuhkan luka-luka mereka maupun besar ataupun kecil dengan buku pribadinya. runtuhnya mereka masih ada tempat untuk beristirahat karena mereka tidak dapat bertarung selamanya layaknya kesatria yang abadi.


Soal William dia tidak perlu apa-apa. lukannya saja sendiri bisa sembuh tanpa pertolongannya. bahkan kematian saja menolak darinya.


"Kenapa mereka tidak mau berhenti bermunculan?" tanya Arthur dengan terengah-engah kelelahan. Author memberikan sebotol air untuknya agar dia dapat beristirahat "Aku tidak tahu, mereka pasti punya gerbang tersendiri untuk masuk ke kota ini". "Hei Bagaimana denganku?kau tidak khawatir denganku?" tanya William dengan ekspresi cemburu


"kau sudah mati bodoh" jawab Author dengan sarkasme.


Mereka kemudian mendengar suara langkah kaki lebih banyak lagi. Tapi luka mereka masih belum pulih juga. Bahkan energi mereka juga belum sepenuhnya penuh "Ya ampun kita kan mati" kata Arthur dengan penuh kawatir.


Dengan segera Author menjatuhkan buku pribadinya. Lagi buku itu terbuka di lantai apartemen dia langsung memegang tangan Arthur dan ekor William. kemudian menginjak buku tersebut dengan sekuat tenaga. Dan berkata "Berpindah". buku tersebut langsung membawa mereka bertiga ke sebuah tempat yang belum mereka ketahui.


Mereka berada di padang rumput tapi tidak seperti Padang rumput yang mereka pernah jumpai. justru rumput yang satu ini lebih berwarna hijau. William sendiri merasakan kalau dia sangat jauh dari kota "sial, aku lupa menentukan tempatnya". "Terus apa yang harus kita lakukan? misi kita sudah jauh dari tujuan" Arthur cemas jika masalah tersebut makin menjadi besar.


William mengendus tempat itu seakan dia mengenali baunya "William, apa yang kau lakukan" tanya Author yang kebingungan dengan tingkah laku anehnya "Eva" William menjawabnya. Kemudian mengendus lagi


"Eva? siapa dia?"


"Kekasihnya, entahlah kelihatannya hanya partnership nya dia"


"aku tidak tau kalau dia punya pendamping. Bagaimana dengan hubungan mu?"


"sekarang sedikit membingungkan. tapi, entahlah aku masih bingung"


Mereka berdua sibuk berbicara selagi William mencari tempat yang ingin dia tunjukkan kepada mereka berdua.


"maaf buku ku sudah kehabisan energi. kita harus menunggunya selama 1 Minggu"


"apa?! jadi kita terjebak di sini selagi ini tersebut makin memburuk?!"


"hey, aku menyelamatkan kita semua agar tidak mati dan juga panik. justru itu bukan salahku"


Akhirnya William mencium kaki gagak yang dia kenali "Krähe , Eva die Krähe hier in der Nähe! Dia bisa membantu kita!" Seru William kepada mereka berdua bahwa Eva tinggal di sekitar wilayah ini. Kemudian dia lari menuju Author dan Arthur untuk mengajak mereka untuk bertemu dengan gagak tersebut "hei, aku kenal burung gagak ini. Mungkin kita perlu dia agar masalah ini cepat selesai". Mereka berdua tidak sengaja bertanya dengan waktu yang bersama "siapa?" kemudian melirik ke satu sama lain. "Eva"


"pacarmu itu?"


"eh, boleh juga di bilang gitu"


"kau tau tempatnya"


"siapa bilang aku tidak tau. Dia pernah mengajakku bersamanya di sana".


Merka akhirnya berjalan menemui Eva. Arthur masih Kawatir atas apa yang akan di lakukan mereka saat ini "Serius kita ke sana? kita bahkan tidak tau arah jalan pulang!"


"Tenanglah Arthy, Eva akan membantu energi bukuku kembali"


"Bagaimana dengan Henry? kita meninggalkannyabegitu jauh!"


Kemudian membantingnya ke tanah dengan cakar kakinya "Siapa kau? Dan kenapa kau kemari?" tanya antropomorfik gagak itu yang mencekik leher William dengan kakinya. William tertawa kecil atas tipu dayanya "hehehe.... Eva, jangan bodoh. Suaramu masih sama". Eva, ternyata dia datang menghampiri mereka. Ini adalah kesempatan emas bagi mereka untuk mengujinya tanpa melewati beberapa lembah dan wilayah. Eva tersenyum karena mendengar William yang masih mengingatnya "Will?" meskipun telah lama tidak berjumpa.


"kalau boleh aku ingin memanggilmu... sayang~".


Eva akhirnya melepaskan cakar kakinya dari leher William. Kemudian memeluknya dengan erat seakan dia merasa rindu atas kehadirannya. "Aku kemari dengan temanku, George tidak sengaja memindah kami kemari".


"oh, si rubah hitam itu?"


"ya benar. sama si manusia"


"manusia?"


"jangan kawatir. Yang satu ini aman"


"oh, um. Di mana mereka sekarang?"


"mereka-"


Author seketika keluar dari semak semak dengan pedang di cakarnya "Gotcha! Eva?" dan juga Arthur yang mencondongkan pistolnya ke depan. Rupa Eva membuat Arthur canggung melihatnya. Antara rasa suka tapi dia tetap tangguh untuk tetap menyukai manusia biasa. Jadi dia menghadap ke belakang dengan wajah merahnya. Dia menghela nafas dalam dalam untuk menenangkan dirinya "okay...".


"Senang bertemu denganmu lagi Eva" Sapa Author kepadanya "Iya... kita sudah lama tidak bertemu". Arthur yang masih terdiam dan menghadap ke belakang mencoba menahan dirinya untuk tidak tertarik padanya "Kau pasti... Arthur, ya kan?". Arthur tidak menjawab apapun dan tetap menutup matanya. Eva kemudian berada di depannya untuk melihat wajah Arthur karena penasaran "Aku tidak yakin kalau kamu kerasukan Arthur". Arthur kemudian membuka matanya. Di saat dia melihat wajah Eva, hidungnya mengeluarkan darah begitu banyak kemudian terjatuh tak sadarkan diri "Apa dia baik baik saja?"


"yaahh... jangan tanya aku. hanya dia yang tau".


...****************...


Kemudian mereka membawanya ke rumah pohon milik Eva. tempatnya lumayan besarpakai satu pohon masih dapat mengangkat rumah tersebut tanpa roboh sedikitpun. dikarenakan pohon tersebut sangat besar dan batangnya yang cukup kuat. terlihat seperti pohon beringin tapi bukan pohon beringin biasa. warna batangnya agak berwarna ungu sedikit. yang di mana warna tersebut bisa dikenali bahwa adanya kekuatan yang di dalam batang tersebut. tak heran kenapa pohon tersebut masih kokoh dan kuat menampung rumahnya yang sangat besar.


Author Merasa kesusahan membawa Arthur untuk ke atas sana. William juga membantunya tapi karena tangganya bukan tangga rumah biasa melainkan tangga gantung usaha yang mereka lakukan Percuma saja. Tapi Eva di sana mencoba untuk membantu membawa Arthur ke rumahnya dengan kedua cakar kakinya yang menerkam pakaiannya. kemudian mengepakkan sayapnya hingga terbang ke atas rumahnya.


yang lainnya memanjat tangga sampai ke atas sana meskipun Author sendiri begitu kelelahan "aku tidak seharusnya menaiki tangga sepanjang ini". William sendiri tidak merasakan lelah dia malah kegirangan tertawa dan cekikikan "Ayolah rubah jantan kau bisa melakukannya"


"aku memang bisa melakukannya".


Setelah sampai di sana Author langsung terlentang di halaman depan rumahnya "yah berolahraga...". Kemudian mereka masuk kedalam rumahnya.


Eva bertanya-tanya Bagaimana kabarnya Henry Hastin "dia pergi berlari menuju temannya yang membawa kunci inti tersebut. dan begitulah kabarnya kami tidak tahu juga apa yang terjadi Henry di sana"


Tanpa Eva sadari Author melihatnya sangat lama karena dia mengingatkannya kepada Kevin yang di mana seekor akan burung gagak yang pernah menemaninya dan selalu memberi informasi dari kelompok burung gagak.


Sementara Arthur masih tidur lelap di kasur Eva, Terkadang juga mengigau tanpa alasan.


Sedangkan William dia menggunakan catnip agar dia terlihat lebih waras. memang sifat gilanya tidak dapat disembuhkan tapi karena catnip tersebut menenangkan jiwanya.


"Kunci tersebut tertanam pada jiwa Edward. Henry akan tega membunuh temannya sendiri kita dia tidak tahu caranya untuk memisahkan kunci tersebut dari jiwanya. ini tidak bertanda baik. harusnya dia menemuiku terlebih dahulu untuk mencari tahu bagaimana cara mengeluarkan kunci tersebut tanpa membunuh pemiliknya. semoga saja Edward baik-baik saja. aku yakin Henry bukan orang yang tipe suka membunuh orang, dia tipe rubah yang suka sekali berbicara kepada orang lain". -Eva