The Red Fox: Author and The Dark Energy

The Red Fox: Author and The Dark Energy
Dari ilmuan ke toko buku



Tiada hal yang berbeda dari Author yang mungkin yang di


miliki oleh Henry Hastin. Dia adalah seekor agen rahasia yang memiliki keahlian


tinggi di bidang persenjataan. Ketangkasannya juga tidak dapat di bandingkan dengan


yang lainnya. Mungkin itu yang membuatnya terpilih dan menetapkan pekerjaannya


sebagai agen. Selain itu juga, Henry juga memiliki buku pribadi tetapi tidak


sekuat yang di miliki oleh Author. Biasanya buku Pribadi Henry hanya di gunakan


untuk menyimpan pedangnya atau berpindah tempat. Karena kekuatan yang berada di


dalam bukunya terbatas.


Sebelum berubah Henry adalah seeorang manusia biasa yang pernah


bekerja sebagai seorang ilmuan yang tak sengaja membuat sebuah ramuan yang


dimana ramuan itu dapat menyembuhkan luka apapun dengan cepat. Kabar ramuan itu


langsung bermunculuan di surat kabar dan di berita lainnya. Semuanya bangga


kepadanya dan akan mengahkiri penderitaan penyakit yang menyerang kota Titannium.


Henry akan membuatnya secara gratis tanpa bayaran apapun dan itu juga membuat


orang-orang di sekitarnya bahagia. Tapi tidak semuanya setuju dengan Henry. Seorang


ilmuan dari labolatorium terbesar menolak tanpa sebab sampai membuat sebuah kebohongan


tentang Henry itu sendiri.


Teman seekor rubah kecilnya(Bukan antropomorfik, tapi bisa


berbicara) yang bernama Red membantunya mencari tahu masalah apa yang membuat


obatnya menjadi tuduhan sebuah racun. Sayangnya dalam penyelidikan masalah itu


membuat beberapa teman dan kru Henry di bantai oleh seseorang yang tidak pernah


di kenal. Red yang berada di pundaknya  turun ke bawah dan mengendus temannya yang sudah mati. Dia menyangka bahwa


dia pernah bertemu manusia sebelum Henry yang mempunyai penyakit seperti ini.


Selagi berbicara dia melihat Henry tidak ada di belakangnya “Henry?”. Dia


mencarinya kemanapun tapi Henry sebenarnya di culik dan di masukkan ke dalam


sebuah mobil dengan sebuah karung di kepalanya. Mereka meminta paksa bahan


bahan ramuan yang di buat oleh Henry. Dia sebenarnya tidak punya banyak teman


yang membantunya dalam situasi seperti ini, dan juga dia bekerja di perusahan


kecil miliknya sendiri sehingga dia terpaksa memberikannya kepada mereka demi


keselamatan dirinya dari kejadian yang tidak dia inginkan. Setelah Henry


memberikan bahan bahannya mereka melempar keluar Henry dari mobil dan kebetulan


di depan Red yang hendak mencarinya. Red menyuruhnya untuk menyerah saja karena


mereka memiliki hak yang lebih besar daripada punyanya sendiri.Sampai di rumah


dia tutup labolatorium miliknya selamanya. Tidak ada lagi orang yang bekerja di


sana. Henry memutuskan untuk mengganti pekerjaannya yang lebih baik daripada


sebelumnya.


Dari tahun-ke tahun Henry


dengan seseorang berambut panjang, memiliki baju kemeja putih yang panjang, berkaos


hitam, bercelana hitam, selalu berekspresi datar, memiliki kantung mata yang parah


dan tidak banyak bicara. Terkadang juga air matanya menetes dengan alasan yang


tidak di ketahui oleh Henry. Dia ingin menjual bukunya kepada Henry “George?”


 ***


“Huh...” Author mengusap kepalanya karena kebingungan


membaca sebuah peta kota yang ada di papan reklame. Jadi dia bertanya kepada


seorang wanita yang sibuk dengan handphone nya “Buk, permisi... apa kamu tau rumah


Henry di mana?” Sayangnya dia menggelengkan kepala lalu menjauh darinya. “Oh,


serius? Aku harus cepat cepat kerumahnya karena telingaku sudah tidak nyaman


sama hal bising di sini” dan tidak ada yang peduli “Bagus, sekarang aku jadi


orang gila” . Sambil berjalan dan terus berjalan, menyebrang, hingga istirahat


di taman kota akhirnya Author menemukan sebuah toko buku yang berbentuk


sederhana “heh, kau pasti bercanda”


Dia masuk kedalam tokonya “Permisi...” sayangnya tidak ada


orang. Sebuah Air Contioner di atas membuatnya merasa sejuk, pintu di


luarnya juga mencegah kebisingan yang ada di luar sana, dan di sekitarnya juga di


sediakan kursi dan meja dengan catatan “Meja baca, Mohon kembalikan jika


sudah di baca atau izin ke pemilik jika ingin di kembalikan”. Author


mengambil buku yang berada di rak buku. Buku-buku tersebut di batasi seperti


membungkus beberapa bab buku agar yang baca harus membelinya jika ingin membaca


lebih lanjut “huh, aku lupa memakai teknik ini”.


Dan tiba-tiba telinga Author reflek ke suara pintu terbuka “Maaf


aku terlambat- huh, George?”


“Oh, Henry” Mereka berdua bersalaman  dan duduk bersama di kursi baca


“jadi, bagaimana kabarmu?”


“tetap sama” (menetapkan matanya ke buku)


“...”


“...”


“Maaf, aku tidak bisa membantumu waktu itu”


“tidak-tidak masalah. Itu hanya... aku yang harus


bertanggung jawab”


“...”


“...”


“(apa dia masih despresi atau masih marah kepadaku)”


“(njir, aku tidak tau harus bahas apa)”