
"Man, aku bosen" kata William di sebuah rumah tua tak berpenghuni karena tidak tau haru berbuat apa. Kepalanya saja tidak sengaja tertusuk paku karena terpeleset lendir misterius. Dia mencabutnya dengan cakarnya sendiri dengan sekuat tenaga. Darahnya bercucuran di mana mana tetapi lukanya sembuh dengan cepat.
Kemudian dia pergi ke sebuah lemari pakaian tua. Dia meraba dan merasakan bentuk baju tersebut "Penuh sejarah, tapi aku tidak peduli" katanya dengan ekspresi sombong. "Aneh, mereka semua pakai pakaian. Kenapa aku tidak?" katanya lagi dengan penuh penasaran. Dia memakai salah satu baju berwarna merah dengan bagian tengah terbuka dengan sabuk di dadanya. William tidak tertarik, dia membuangnya. Kemudian dia memakai sebuah jaket berwarna coklat. Dia tidak tertarik lagi, dia membuangnya.
Akhirnya dia menemukan sebuah kapak yang pegangannya terbuat dari besi. William langsung mengambilnya dengan kedua cakarnya. Tetapi kapak tersebut lebih berat dari pada yang dia punya. Tenaganya masih bisa membawa atau mengayunkan kapak besi itu. Dia juga mencoba seberapa tajam kapak itu dengan melukai cakarnya. Hasilnya cukup dengan apa yang William harapkan "heh, lupakan pakaian. Kepala siapa yang akan aku penggal hari ini". Dia pun tertawa maniak dengan keras.
Dengan segera dia memasuki televisi dan berpindah tempat ke sebuah kota Titanium. Melihat manusia di sekitarnya tidak ada "Apa? gimana bisa?". Kemudian William melihat angin berwarna hitam berkumpul mejadi satu dan membentuk seekor ular. Ular itu mendesis, pandangannya mengarah ke William. "Hey, bukannya kamu sudah mati?" Kata William di saat dia teringat waktu itu. Kemudian ular itu menyerang ke arah William. William melompat dan menginjak mulut ular itu agar membuat lompatan tinggi. Kemudian turun dengan kapaknya. Mengayunkan ke arah wajah ular itu hingga menusuk dalam mulutnya. Kapaknya tidak membuatnya merasa sakit meskipun tertancap "oh". Kemudian ular itu menggoyangkan kepalanya hingga william terlempar. Kemudian langsung menelannya hingga ke dalam perut nya
Dengan bahagia dia tersenyum seakan berfikir masalahnya telah selesai. Akan tetapi, sebuah pedang berputar dan mengenai lehernya. Kulitnya meleleh karena pedang itu yang mengandung lendir dari ludah naga berdarah ungu. Dari selembar kertas yang terbang muncul lah Author yang hendak keluar melewati buku. Kemudian dia menekan pedang nya lebih dalam, kemudian merobek kulitnya lebih lebar.
Author menghindar dari ular yang hendak melahapnya. Selagi di udara dia mengayunkan pedangnya ke arah mata luar itu. Lalu berdiri di atas kepalanya kemudain menusuk pedangnya ke arah mata yang satunya hingga ular tersebut terlihat buta. Dengan mengingat cara dia dulu melawannya dia langsung menusuk pedangnya ke arah hati ular itu. Dia melakukannya dengan mudah karena selagi ular itu buta.
Kemudian William keluar dari tubuh ular tersebut dengan tanpa kepala "Hey Will, ada apa denganmu?". Dia menunjuk ke mulut ular itu. Lalu wajahnya tumbuh kembali dari tubuhnya dan berkata "Aku cuman mau membunuhnya"
"Dengan kapak besi itu? kau pasti bercanda"
"Memangnya kenapa?"
"Kau membunuh mimpi buruk dengan besi dingin. Justru kau menambah kekuatannya. Justru hawa dingin ini lah yang membuat mereka susah di matikan"