
"Baiklah! Karena hanya kalian yang berada di sini, maka hanya kalian yang akan saya angkat menjadi murid!" Ucap Henelina dengan sangat tegas, layaknya pimpinan yang sedang menasehati bawahannya.
"Nama?" Tanya
Henelina pada mereka. Dia ingin tau nama mereka dari mulut mereka sendiri. Jika mencari tau informasi dengan sendirinya dan mungkin saja Henelina dengan tidak sengaja mengatakan nama mereka berdua, sedang Henelina belum pernah menanyakan nama mereka, itu akan gawat dan akan sedikit membuat kedua orang tersebut curiga pada Henelina. Henelina seperti itu karena tidak ingin kedua orang yang memang Henelina prediksi akan jauh lebih baik kedepannya itu menjauh darinya dan tidak menyukainya. Dia hanya ingin ketulusan dari mereka.
Karena mereka tau maksud dari pertanyaan Henelina, mereka langsung menjawabnya.
Dan sekarang sudah diketahui dengan jelas nama kedua lelaki tersebut adalah Fyd Selion dan satunya lagi bernama Kerlan.
Tanpa basa-basi, Henelina langsung melemparkan dua buah buku yang baru saja ia buat sejak tadi kepada mereka berdua. Dengan sigap, mereka mengambil satu-satu buku yang Henelina lempar kepada mereka. Fyd dan Kerlan saling bertatapan sejenak, lalu menatap Henelina kembali.
Mereka sama sekali tidak tau apa yang harus dilakukan saat mereka telah menjadi murid Henelina. Namun, mereka enggan bertanya, karena merasa takut pada Henelina.
"Kalian simpan baik-baik buku itu, jangan sampai menghilang. Buku itu akan digunakan besok"
Meski tidak mengerti, namun mereka tentunya tetap mematuhi kata-kata Henelina.
"Untuk hari ini, kalian berdua membereskan diri kalian dulu. Agar kalian tidak terlihat mengerikan dihadapan orang-orang" perintah Henelina kepada mereka.
........
Setelah berdebat sementara. Ternyata mereka tidak mempunyai uang sama sekali. Meski ada, itupun hasil dati rampokan mereka. Sebelumnya, Henelina sempat tidak setuju menggunakan uang dan beberapa perhiasan berharga hasil rampokan mereka tersebut. Namun kondisi tidak memungkinkan. Oleh karena itu, Henelina pun menyetujui untuk menggunakan alat bayar hasil rampok tersebut. Namun sebelum itu, ia bertanya pada mereka apakah mereka mengingat di mana letak tempat tinggal semua orang yang telah di rampok oleh mereka. Dan mereka hanya tau sebagian.
Henelina berencana menggunakan (uang) hasil rampokan itu untuk beberapa keperluan dalam beberapa hari kedepan.
Dan kemudian mencari cara agar uang kembali terkumpul, lalu uang tersebut di berikan kepada orang-orang yang telah di rampok oleh Fyd dan Kerlan.
"Baiklah! Itu saja yang akan dilakukan nanti" ucap Henelina setelah menjelaskan rencana yang akan ia lakukan. Lalu mereka pun hanya mengikuti perintah Henelina.
______
Hari sudah sudah memperlihatkan gelapnya malam, dan Henelina sudah membuat kedua murid barunya tersebut kelihatan rapi dari sebelumnya. Setelahnya, Henelina memutuskan untuk mengajari mereka sedikit mengenai beladiri di laut yang dekat dengan tempat mereka berada. Karena ia merasa itu adalah tempat yang bagus dan sejuk. Sebuah tempat yang cocok menurut Henelina.
Tanpa ada aba-aba untuk pergi ke suatu laut, Henelina lalu berjalan menuju arah laut yang jaraknya sedikit jauh, namun masih bisa di tempuh dengan berjalan kaki. Fyd dan Kerlan hanya diam saja dan mengikuti ke arah mana sang guru mereka tersebut berjalan dan dengan perasaan sedikit keheranan.
Sampailah di laut, makin heranlah kedua orang itu Henelina. Dan tanpa basa-basi, Henelina langsung TO THE POINT mengatakan maksud dan tujuan ia ke laut, dan di malam hari.
Mendengar penjelasan Henelina yang mengatakan akan mengajari mereka berdua beladiri, mereka kemudian merasa bingung. Sebenarnya apa yang di lakukan untuk menjadi murid Henelina, itu pikir mereka.
Henelina menginstruksikan Fyd dan Kerlan untuk membuka buku yang diberikannya tadi. Kedua buku yang masing-masing berada di mereka, pun kemudian langsung membukanya. Setelah melihat isinya, Fyd dan Kerlan baru mengerti kenapa Henelina ingin mengajari mereka beladiri, meski memang tersirat beberapa pertanyaan di dalam diri mereka.
Latihan pun dilakukan, dan Fyd juga Kerlan tidak merasa kepanasan tentunya karena angin sejuk menyelimuti tubuh mereka. Mereka hanya sedikit kelelahan. Tidak dengan Henelina, ia sangat bersemangat.
Setelah latihan beladiri usai, ke tiga orang tersebut pun duduk di pinggir laut. Fyd juga Kerlan tentunya mendapatkan ilmu dari latihan tadi, meski tidak sepenuhnya. Karena memory mereka tidak banyak, mungkin karena mereka tidak menjaga diri dan terus-terusan melakukan kejahatan.
"Sepertinya kau sudah pernah merasakannya" ucap Fyd yang tanpa sadar dan membuat Henelina merasa Fyd tidak sopan.
"Saya tidak pernah merasakannya dan mohon maaf saya gurumu, jangan seperti saya akrab denganmu" ucap Henelina dengan nada meneken, namun tetap tetap dengan wajahnya yang tanpa ekspresi.
Kerlan hanya diam termenung, padahal saat masih menjadi preman jalanan dulu, ia adalah orang yang paling banyak bicara.
"Tidak pernah merasakan, namun tau kebahagiaan yang sebenarnya..." batin Kerlan yang dari tadi terdiam saja. Ia masih memikirkan kata-kata yang di ucapkan Henelina. Karena mendengar kata-kata Henelina memang layak menjadi guru dan mengajarinya, Kerlan dengan sepenuh hati yakin akan terus setia pada Henelina.
"Lalu bagaimana kalau kami merasa terkekang karena menjadi murid anda" tanya Fyd pada Henelina menggunakan sebutan Anda, karena takut terjadi apa-apa pada nyawanya. Sebenarnya ia juga sangat takut saat dia bertanya hal itu kepada Henelina, tapi mulutnya memaksa untuk mengatakannya.
Keran hanya memperhatikan saja, ia memang juga baru menyadarinya.
Fyd yang merasa nyawanya akan hilang tiba-tiba merasa tenang. Karena ekspektasi yang ia bayangkan bahwa Henelina akan marah kini hilang seketika ketika Henelina menjawabnya dengan tenang, "Maka akan ku buat kalian merasa bebas dengan caraku". Meski pun begitu, dia tetap bertanya dan bertanya. 'Jika dengan caramu tidak bisa juga?" Fyd. Henelina pun lalu berdiri, dan Fyd tetap memandang Henelina tatkala ia berdiri.
"Hanya keyakinan yang membuat segalanya berhasil!" Seru Henelina. Ia telah mengeluarkan 2 kalimat mutiara yang membuat Fyd dan Kerlan terdiam membisu.
"Sebentar lagi bahaya akan datang, ayo cepat pergi" ucap Henelina kepada mereka berdua yang masih duduk menikmati angin sepoi-sepoi di malam hari dan keindahan alam.
Mereka pun hanya mengekor di belakang Henelina tanpa mengetahui apa-apa.
Berjuta-juta pertanyaan ada di dalam pikiran kedua orang itu. Mereka bahkan sampai mengira Henelina adalah orang yang tidak waras.
Sekarang mereka berada tidak jauh dari laut. Henelina berhenti sejenak, lalu berbalik dan menatap jembatan yang ada di samping laut. Ia terus menatap jembatan itu, yang membuat Kerlan dan Fyd juga menatapnya. Mereka hanya ingin tau apa yang sebenarnya Henelina lihat. Dan...
DUAR!!....
Mereka sangat terkejut karena si jembatan itu ada sebuah mobil yang melaju sangat kencang sehingga membuat mobil tersebut menabrak pohon-pohon yang ada di sampingnya. Beda halnya dengan Henelina, ia tenang-tenang saja seolah tidak ada apapun yang terjadi.
Dengan panik, Kerlan pun segera mengambil handphonenya untuk menelfon Ambulans. Sama halnya dengan Fyd, dia ingin menelpon polisi untuk mengecek apa yang sebenarnya terjadi. Namun kegiatan mereka dihentikan oleh Henelina. "Hentikan! Jangan menelfon siapapun!" Tegas Henelina. Tentunya hal yang dilakukan Henelina sangat membingungkan bagi mereka, bahkan semua orang juga pasti akan merasa seperti itu. "Tapi kenapa? Orang yang ada di dalam mobil itu sudah sekarat" ucap Kerlan dengan terbata-bata. Ia gemetar melihat kejadian itu dengan mata kepalanya sendiri. Meskipun dia pernah melihat kasus tabrak semacam itu, tapi dia tidak pernah secara langsung bagaimana kejadiannya. Begitupun dengan Fyd.
"Maka dari itu kalian tidak perlu menelfon siapa-siapa" ucap Henelina yang membuat Kerlan merasa Henelina seperti seorang yang tidak ada belas kasihan. "Di saat sedang sekarat, mau di bawa ke rumah sakit juga apa gunanya? Saat di perjalanan ke sana mungkin dia sudah meninggal" jelas Henelina. Setidaknya kita membantunya untuk melakukan penyelamatan, pikir kedua orang tersebut. Sambil berjalan menuju mobil itu, Henelina mengatakan hal yang pastinya membuat semua orang yang mendengarnya merasa sangat dan sangat terkejut.
"Tidak ada seorangpun di dalam mobil itu"
Beberapa orang mendengar ada suara seperti tabrakan di dekat laut. Karena hal itu, banyak yang menuju ke arah sumber suara tersebut. Semakin banyak orang yang menuju arah tabrakan itu karena mereka heran banyak sekali yang menuju arah laut. Ada juga yang sudah menelfon polisi untuk mengevakuasi tempat tersebut.
Sementara Henelina, Fyd dan Kerlan sudah lebih dulu melihat-lihat keadaan mobil tersebut sebelum orang-orang mengerumuni tempat kejadian.
_____
Karena sudah malam, Henelina memutuskan untuk pulang. Namun ia tidak tau kedua muridnya itu mati tinggal dimana. Karena keadaan seperti ini, Henelina pun berniat ingin meminta bantuan dari penjaga apartemen untuk memberi satu ruangan gratis untuk mereka sehari saja.
Sampailah mereka di depan gedung apartemen. Henelina langsung menuju rumah dari penjaga apartemen yang berada tepat di sebelah gedung tersebut. Saat sangat sampai, ia pun langsung bertemu dengan penjaga apartemen dan mengutarakan maksud kedatangannya. Karena kedekatannya dengan penjaga apartemen, ia pun diperbolehkan untuk menginapkan dua lelaki yang Henelina akui mereka sebagai temannya.