
"Lalu apa yang akan dilakukan dengan semua ini?" Tanya Fyd sambil menunjuk ke arah wajah Henelina yang bagian kanan. Dan Kerlan juga hanya mengiyakan pertanyaan Fyd, karena ia dan Fyd juga belum diberitahu oleh Henelina kegunaan hiasan menjijikkan berserta topeng itu.
"Dan lagi, kenapa anda berhias diri seperti orang yang tidak rapi jika berhias???" Tanyanya lagi sambil melirik Henelina dari atas sampai bawah. Henelina kali ini berbeda dari sebelumnya, dimana ia menggunakan pakaian layaknya orang culun yang tidak rapi dalam penampilan. Inilah yang membuat mereka sangat keheranan akan sikap aneh Henelina saat ini. Mungkin mereka akan benar-benar mengira Henelina adalah orang yang tidak memiliki akal sama sekali jika ia berbuat hal aneh lagi selanjutnya.
"Ini tempat ramai, nanti saja saya jelaskan" ujar Henelina dengan khas nada bicaranya yang dingin. Meski ia sudah berhias diri seperti orang culun, namun tetap saja sikapnya masih terlihat seperti Henelina yang biasanya.
"...." Mereka hanya diam saja dan melanjutkan perjalanannya kembali.
Mereka berjalan menyusuri jalanan dan akhirnya sampailah mereka di sebuah restoran siap saji yang memiliki desain yang sederhana, namun terkesan mewah.
Mereka lalu masuk ke dalam dan Henelina memesan beberapa makanan dan meminta kedua orang itu menunggunya terlebih dahulu.
Dan mereka pun meninggalkan Henelina beserta pelayan itu untuk berbicara, sambil menunggu Henelina berbincang dengan pelayan sebentar.
Namun anehnya, mereka melihat wajah perlayan itu sangat-sangat ketakutan saat berbicara dengan Henelina, sebelum ia menunjukkan satu ruangan khusus yang masih kosong untuk mereka. Namun mereka hanya bersikap acuh tak acuh akan hal tersebut.
______
Terlihat Fyd dan Kerlan sangat terkagum-kagum akan apa yang mereka lihat. Mereka berada di ruangan VIP yang sudah disediakan oleh pelayan yang tadi berbicara dengan Henelina. "Apa tidak apa-apa seperti ini...?" Tanya Kerlan ragu-ragu, ia takut Henelina akan tidak suka dengan pertanyaannya. "Jika ingin bertanya atau menyampaikan pendapat, ucapkanlah dan jangan ragu-ragu dan takut" ujar Henelina, ia tau dengan sangat jelas bahwa mereka tidak memiliki keberanian sama sekali untuk menghadapi dirinya(Henelina). Itu terlihat jelas dengan gerak-gerik
dari mereka.
"Tidak semenakutkan yang dibayangkan" batin Kerlan dengan tersenyum manis. Ternyata ia juga akan terlihat seperti orang normal jika seperti ini(keadaan yang sekarang).
Dan tanpa sadar, Henelina juga menampilkan sebuah senyuman, meskipun itu terlihat sangat kecil.
"Langsung ke intinya, kali ini saya ingin berdiskusi dengan kalian secara pribadi !" Tegas Henelina dengan tatapan yang membuat mereka sedikit gugup. Mereka sangat mengerti jika pembicaraan kali ini sangat serius. Dan mereka pun berusaha untuk serius juga.
"Kali ini berdiskusi mengenai rencana selanjutnya yang tertunda kemarin"
1 Jam kemudian - - -
"Begitu saja untuk beberapa hari kedepan" ucap Henelina setelah berdiskusi, dan diiyakan oleh Fyd dan Kerlan. "Kalian makanlah dulu, ada yang ingin saya selesaikan" sambil berjalan keluar dari ruangan.
Dan ternyata, di luar ruangan VIP tersebut sudah ada sekelompok penjaga yang menunggu Henelina keluar dari ruangan VIP. Mereka terlihat seperti ingin menerkam Henelina saat melihatnya keluar dari ruangan VIP itu.
Tentu saja ini semua tidak membuat Henelina terkejut setengah mati, karena memang sudah dari awal ia tau ini akan terjadi.
Ia dengan santainya melewati para penjaga-penjaga yang terlihat sangar tersebut.
Namun tentu saja ia ditahan oleh para penjaga tersebut.
***
Tempat itu merupakan tempat para pelanggan VIP, jadi di sekitar situ hanya ada para pelanggan VIP, pelayan, beserta para penjaga.
Melanjutkan aktivitas atau mengabaikan adalah hal terbaik untuk mereka yang tidak ada hubungannya dengan masalah yang dihadapi Henelina.
***
"Ada masalah?" Sambil melirik ke arah belakang. "Ya !" Terdengar suara wanita yang menjawab seorang pertanyaan Henelina.
Wanita itu berjalan mendekati Henelina dan menatapnya tajam. Henelina juga memberikan tatapan yang tak kalah tajam dari wanita itu.
"Sia-" belum selesai berbicara, Henelina langsung memotong perkataan wanita itu. "Nanti saja" ia berjalan menuju pintu keluar.
Yantisia Trizola atau biasa di panggil Nona Yanola ini baru saja pulang dari luar kota setelah selesai mengurusi urusan bisnisnya yang ada di sana.
"Nona?" Kata salah satu pengawal Yantisia.
"Mana dia!?" Yantisia tersadar dari lamunannya, lalu ia bertanya sambil melirik-lirik ke sana ke mari. Ia mencari keberadaan Henelina yang sudah tidak berada di situ.
"Dia sudah pergi, nona Yantisia" sela sang pengawal tatkala melihat Yantisia mencari keberadaan Henelina
"Membiarkannya pergi... !?" Ucap Yantisia dengan nada menekan.
"Ma…Maaf nona…" *Gemetaran
"Potong gaji"
Yantisia mengucapkan kata-kata sederhana itu dengan tenang namun dengan amarah yang menggebu-gebu yang ia sembunyikan. Tentunya untuk menjaga imej.
...Di sisi lain....
......................
"Hee… Menyamar menjadi pelayan restoran sepertinya sedikit menarik" batin Henelina sambil menyeringai dan membayangkan wajah pelayan yang tadi ia buat ketakutan dan wajah Yantisia Trizola yang sangat persis. Tidak ada yang berbeda sedikitpun di wajah mereka berdua.
Dengan kata lain, pelayan tersebut dan Yantisia Trizola adalah orang yang sama.
...----------------...
Saat ini Henelina sedang berada di sebuah perpustakaan yang jaraknya tak jauh dari restoran. Ia sejak tadi sebenarnya hanya mengelilingi isi perpustakaan dan tidak menetap. Buku yang ia cari-cari tidak ditemukannya.
"Cih…". Henelina hanya bisa berdecih saja, ia tidak dapat menemukannnya, bahkan dengan menggunakan 'kekuatan' yang dimilikinya.
"Apa jangan-jangan informasi yang ku dapatkan salah!" tangan Henelina menggeram. Tapi untung saja ia masih bisa menetralisir perasaannya agar tidak kacau.
"Sepertinya nanti saja lagi mencari buku itu" sambil memijat keningnya dan segera pergi dari perpustakaan.
Dan seseorang misterius memperhatikan Henelina dari kejauhan, entah apa tujuan dan maksud orang misterius tersebut.
Henelina kembali menuju restoran untuk memanggil Fyd dan Kerlan untuk pergi secepatnya dari restoran. Ia baru saja menyadari ada yang tidak beres dengan orang-orang sekitarnya.
"Aku yakin 'mereka' bukan suruhan wanita itu" Henelina menyangka orang-orang mencurigakan yang menguntit dirinya bukanlah orang-orang suruhan Yantisia.
Meski sepertinya Yantisia memiliki dendam, tapi Henelina sangat yakin mereka bukan orang-orang Yantisia.
"Aku baru saja bereinkarnasi menuju tahun ini, mungkin saja seseorang mempunyai masalah dengan tubuh ini" Henelina terus saja memikirkan hal itu, hingga tidak sadar jika ia sudah sampai di depan restoran yang tadi ia kunjungi.
"Baiklah, ternyata sudah sampai"
Henelina masuk ke dalam restoran dan membayar biaya makanan yang tadi ia pesan. Setelahnya, ia menuju ruangan khusus untuk para pelanggan VIP.
Sepertinya ia telah di tunggu oleh para muridnya sejak tadi.
"Segeralah berberes-beres, lalu pergi" suruh Henelina pada kedua orang itu tanpa memperdulikan keadaan kedua orang itu yang masih saja melahap makanan mereka.