
"Baik!" Seru keduanya bersamaan. Sebenarnya makanan yang mereka makan mudah dibereskan, jadi tidak masalah membiarkannya begitu saja. Tapi mereka merasa itu sangat boros, apalagi dengan harga makanan yang menurut mereka 'lumayan', jadi membawa makanannya untuk dimakan saat kembali ke apartemen lebih baik menurut mereka.
Mereka pun bergegas beres-beres agar lebih cepat pergi dari restoran itu.
Saat ini mereka tidak merasa ada yang aneh terhadap Henelina, karena mereka menganggap Henelina mungkin ada sesuatu yang mendesak, dan ingin ia selesaikan secepatnya.
Hal seperti ini tak jarang ditemukan, jadi tidak terlalu mencolok keanehannya dimata Fyd dan Kerlan.
Namun tetap saja aneh jika ekspresi yang ditunjukkan sangat tidak biasa.
.........................
Sesampainya di suatu tempat.
"Untuk apa kita ke sini ?" Tanya Fyd kepada Henelina yang masih menatap puncak gunung yang akan Henelina tuju.
"Ikut saja" jawab Henelina dengan serius. Ia tidak pernah sama sekali mengalihkan tatapannya dari arah depan.
"...." Dan keheningan pun terjadi di anatara mereka. Namun sepertinya Henelina dan Kerlan tidak menyadari hal itu.
"Haah... Apa mereka tidak menyadari kecanggungan di sini sama sekali..." gerutu Fyd dalam hatinya.
"Mungkin ini juga lebih baik" Fyd.
......................
Di Puncak Gunung.
"Kalian istirahatlah dulu" ucap Henelina yang kembali berjalan di sekitar puncak gunung. Dia ingin menulusuri sekitarnya untuk mencari tau keadaan puncak gunung.
"Apa menurutmu dia akan baik-baik saja?" Tanya Fyd kepada Kerlan yang sedang santai sambil menyiapkan kembali makanan yang dia bawa dari restoran tadi.
"Dia adalah orang yang hebat, dia pasti bisa menjaga dirinya" jawab Kerlan dan senyum tipis yang terlihat dari bibirnya sekilas.
"...."
"Dia seperti malaikat yang memberikan sebuah kebahagiaan kepada kami yang dulunya hanyalah preman jalanan yang diincar para polisi" batin Fyd sambil memejamkan kelopak matanya dan menghirup udara yang segar dengan perasaan yang sangat tenang.
...----------------...
Beberapa menit kemudian.
"Naik ke atas pohon!" Teriak Henelina dari kejauhan kepada Fyd dan Kerlan yang masih dengan tenang menikmati indahnya alam dari puncak gunung.
Seketika pun langsung terkejut dan secara tidak sadar memanjat pohon yang berada di samping mereka santai-santai tadi.
"Eh... Apa yang sedang ku lakukan?" Heran Fyd kepada dirinya sendiri sambil mengerjap-ngerjapkan matanya dan melihat ke bawah.
"Yaa... Kau lihat kan kita sedang di atas pohon..." ucap Kerlan dengan nada keheranan juga. Ia juga secara tidak sadar menggaruk kepalanya pelan, seperti yang terjadi pada orang-orang yang kebingungan.
"Eh... apa ini...?" Heran Kerlan tatkala ia melihat bercak-bercak merah yang menempel pada bajunya.
"Ituu..." tunjuk Fyd dengan tangan-tangan yang bergetar. Keringat dingin bercucuran dari dahinya. Ia sepertinya begitu terkejut.
Kerlan tidak mengerti apa yang terjadi pada Fyd. Dan kerena Fyd menunjuk ke arah bawah, maka Kerlan pun mengarahkan pandangannya tepat ke arah yang di tunjuk Fyd.
Di saat itu pun keduanya terkejut, dan tak menyangka akan apa yang mereka lihat.
Di bawah pohon tersebut, ternyata ada hewan buas yang sepertinya 'menunggu' mereka untuk dijadikan 'santapan'. Namun, untungnya Henelina dengan sigap membuat hewan buas tersebut 'mati' mengenaskan.
Akan tetapi, Henelina bukanlah seorang penyiksa binatang, jadi ia langsung dengan tuntas mem**nuh hewan itu.
"Turunlah" perintah Henelina kepada mereka yang masih tetap menatap hewan tersebut.
...----------------...
"Kalian berhati-hatilah di sini!" Tegas Henelina dengan tatapannya yang tajam, yang tentunya juga sudah menjadi ciri khasnya. Perkataan Henelina berhasil membuat mereka ketakutan, dan bahkan untuk menelan ludah saja sulit bagi mereka.
Tapi ini bukanlah sesuatu yang tidak biasa, karena mereka bahkan sudah mengalaminya.
Mendapatkan serangan dari salah satu hewan buas yang ada di puncak gunung tersebut.
Alasan mengapa Henelina menargetkan puncak gunung untuk didatangi adalah, ia ingin melatih para murid barunya.
Ya, itu saja alasannya, tidak ada hal spesial lainnya yang membuat Henelina mendatangi puncak gunung.
Namun tak disangka mereka mendapatkan bonus dengan adanya udara segar dan pemandangan menakjubkan yang terlihat dari puncak gunung tersebut.
Meski mereka harus tetap berwaspada. Tetapi mungkin hal itu sepele bagi Henelina, namun tidak bagi Fyd dan Kerlan.
Beberapa jam mereka habiskan untuk berlatih, Henelina yang mengajari, Kerlan beserta Fyd yang belajar mengenai beladiri tentunya.
Setelah selesai mengajari muridnya, tanpa mengucapkan apapun, ia langsung pergi begitu saja.
Fyd dan Kerlan tidak menganggap Henelina akan meninggalkan mereka sendirian di tempat yang mereka sendiri pun tidak kenal. Karena perlengkapan yang Henelina bawa masih berada di tempat mereka berada. Dan mereka masih ingat bahwa untuk kembali dari gunung ini adalah berjalan menuju kanan, namun Henelina berjalan menuju kiri yang juga merupakan arah dia pergi meninggalkan mereka sementara sebelumnya.
Dan lagi, mereka percaya hal pengecut seperti itu bukanlah ciri dari Henelina. Namun tetap saja mereka heran mengapa Henelina berjalan menuju tempat yang sudah ia kunjungi tadi.
Atau mungkin saja ada hal menarik yang membuat Henelina ingin mengambil atau melihatnya sekali lagi dan untuk terakhir kalinya.
Di sisi lain.
"Benda itu..." lirih Henelina, dan ia juga mengepalkan tangannya sambil terus berlari. Bentuk dari 'benda' yang ia temukan terus terngiang-ngiang di kepalanya. Entah apa 'benda' itu, yang membuat Henelina berlari menuju tempat 'benda' itu berada.
Dan akhirnya sampailah Henelina di tempat 'benda' itu berada sekarang.
"Ini benar-benar 'benda' itu..." gumam Henelina dengan lirih pula. Ia makin mengepalkan telapak tangannya sambil terus menatap tajam 'benda' yang dia maksud. "Tapi mengapa 'benda' ini berada di sini juga... ?" Herannya.
Meski masih dalam keheranan, Henelina langsung mengambil 'benda' itu dan bergegas pergi untuk kembali ke apartemen miliknya. "Tak kusangka benda ini sangat mudah di ambil" senyum seringai pun mulai muncul kembali dari bibir Henelina.
"Ah, wanita itu sudah kembali..." ucap Kerlan dengan nada kecil. "Panggil aku guru" bantah Henelina yang ternyata mendengar ucapan sang murid.
Kerlan menganggukkan kepalanya saking takutnya pada Henelina.
"Dia mempunyai indra pendengaran yang sangat bagus" batin Kerlan yang masih dalam mode ketakutan.
"Ayo!" Ucapan nyaring Henelina membuat Kerlan tersadar akan lamunannya.
"Apa yang dia pikirkan dari tadi" tatap Fyd kepada Kerlan dengan tatapan aneh.
"Sudah siap" ucap Kerlan sambil menatap Henelina dan Fyd yang sudah berjalan menuju arah kembali dari gunung.
"Mereka tidak setia kawan" kesal Kerlan sambil mengepalkan tangannya dan menginjak-injak rumput dengan perasaan yang sangat kesal.
"Apa dia punya masalah...?" Heran Fyd yang melihat Kerlan yang masih menetap di puncak gunung. Henelina hanya menutupi wajahnya menggunakan tangan, seoalah dia merasa malu mempunyai murid seperti itu.
"Hoooii!!! Jangan tinggalkan akuuu!!!" teriak Kerlan sambil berlari kepada Henelina dan Fyd yang sudah meninggalkan dia sejak tadi.
Jika saja ada seseorang di situ, Henelina dan Fyd pasti akan pura-pura tidak memiliki hubungan apa-apa dengan Kerlan.
^^^^^^Bersambung...^^^^^^