The Life Of Henelina Devhano

The Life Of Henelina Devhano
Awalnya 2



"Dia benar benar mencurigai kan" batin Zintya.


"hmm... yaa, trima kasih, kau memang pantas di sebut sebagai sahabatku!" kata Zintya dengan sangat antusias.


"Hehee.. kau terlalu berlebihan" Dyar.


"Eh..tunggu..!" Zintya dalam hati nya.


"Ini adalahh...." Zintya tidak melanjutkan perkataan nya.


"Ya, itu adalah jus markisa, jus kesukaan mu" Dyar dengan senyuman mengatakan nya.


Namun senyuman itu sangat tidak akrab bagi Zintya, dia merasa yang berdiri di depan nya bukan lah 'Dyar' sahabat nya yang telah bersama dia bertahun tahun lamanya. Zintya merasa senyuman itu penuh 'ARTI' yang tak bisa di prediksi.


"...." Zintya diam, dan dia membuat keheningan sementara


"bukan itu yang ku maksud kan. Tapii.."


Bukan hanya di luar, tapi di dalam hati Zintya sendiri juga ia tidak mengatakan keseluruhan nya.


"Wanita ini kenapa tidak meminum minuman kesukaan nya, padahal setiap kali aku beri dia jus markisa, dia langsung minum satu kali tegukan dan tidak menyisakan satu tetes jus pun" Batin Dyar


"Apa dia menyadarinya, tapi aku tidak melihat tanda tanda ia menyadari nya" Dyar melanjutkan perkataan nya dalam hati.


Jantung Dyar ber debar debar, entah mengapa dia takut Zintya 'menyadari' apa yang di maksud oleh nya.


"Sudah lah, lagian masih bisa bereinkarnasi" pikirnya.


Tanpa ba-bi-bu, Zintya meneguk habis jus markisa kesukaan nya tersebut.


Itu sesuai dengan dugaan Dyar.


"Kenapa aku sangat takut dia akan 'menyadari'nya" batin Dyar yang masih deg-deg an.


Di dalam hati nya ia sangat takut/ bimbang, tapi di luar Dyar hanya tersenyum saja tanpa memperlihatkan ketakutan nya akan 'SESUATU'.


"Haaahh... ini memang benar benar enak, aku tidak salah pilih jus kesukaan"


Sembari menghapus sisa sisa jus yang ada di ujung dan sisi bibirnya menggunakan tisu yang ia ambil dari rumah/kediamannya. Ia menggunakan teleportasi masuk ke rumah/kediamannya.


Zintya duduk dikursi mewah yang telah di persiapkan untuk ia duduk jikalau sedang berada di lapangan itu.


Melihat Zintya sahabatnya itu 'berteleportasi' ke rumah/kediaman miliknya, Dyar semakin jengkel/geram. Padahal tidak ada yang salah saat Zintya 'berteleportasi". Dyar lagi lagi menyembunyikan perasaan dia yang sebenarnya saat ini.


" Heh! Tunggu saja kau Zintya, 5! 5 menit lagi kau akan ku bawa kau ke tempat di mana pemandangannya sangat 'menyejukkan' mata mu. Dan tempat itu di mana udara di sekitar nya sangat segar bak surga" ucap Dyar dalam hati penuh kebencian yang tak ia perlihatkan di luar.


-----5 Menit setelahnya---


"Ukhu'!! Uhhu' uhhu'!!!" Zintya mulai batuk batuk. Dan ia belum tau penyebab nya.


"Zint! Zintya kau kenapa!?"


Dyar mulai panik melihat Zintya yang mengalami batuk darah. Namun dalam hatinya...


"Eghhhg!! ...sungguh membosankan.."


......


"Hah? Apa penyakitku mulai kambuh? Tapi Sully bilang penyakitku akan kambuh jika aku mandi menggunakan air es atau air panas dan juga jika aku merasa tertekan. Ini pasti ada penyebab lainnya" batin Zintya.


Memiliki segalanya tentu juga ada yang harus di korbankan. Dan kesehatan tubuh adalah yang paling jarang ada. Tapi Zintya mendapatkan nya.


"Aku tidak apa apa.." Zintya.


"Tapi aku ingin bertanya sesuatu pada mu!" Zintya.


"Apa?" diam diam Dyar tersenyum.


"Apa yang kau masukkan ke dalamnya?" Zintya tidak membesarkan suaranya.


"Apa yang kau bilang aku tak mendengarnya?


Dyar sebenarnya mendengar apa yang dikatakan Zintya,tapi ia berkata seperti itu hanya untuk memprovokasi Zintya. Namun karena sebelumnya dia tidak pernah melihat Zintya di provokasi, dan ini pertama kali dia memprovokasi Zintya, jadi dia tidak tau kalau Zintya tidak akan langsung terperangkap di dalam provokasi yang di buat siapa pun untuk dirinya.


"Apa yang kau masukkan ke dalamnya?" kini Zintya lebih membesarkan suaranya.


"Haahh...aku tidak tertarik lagi untuk memprovokasi nya.."


**Setelah melihat kondisi Zintya, Dyar sudah tak tertarik untuk melanjutkan provokasi nya itu.


"Hmmm..mmm" Dyar menggeleng kan kepalanya bertanda ia tidak memasukkan apa apa.


"Apa yang kau masukkan ke dalamnya?" sekali lagi Zintya bertanya dengan pertanyaan yang sama.


"Hehee..." Dyar tertawa jahat melihat tingkah laku Zintya.


"Karena kau sudah mau mati, lebih baik aku memberitahu mu"Dyar melanjutkan perkataan dia yang belum terselesaikan.


"Kau ingat saja kejadian apa yang terjadi 5 tahun yang lalu" Dyar memberi isyarat pada Zintya untuk mengingat ingat kembali apa yang terjadi di tahun tersebut.


Belum sampai 1 menit, Zintya mengerti 'kejadian' apa yang dimaksud oleh Dyar 5 tahun lalu.


Zintya: !!!


Flashback .....5 tahun lalu.....


Suatu hari di malam hari 5 tahun lalu di rumah/kediaman milik Zintya.


"Zintyaa!!" teriak seorang dari luar rumah/kediaman Zintya.


Ya, selain orang lain siapa lagi kalau bukan Dyar.


---Sysyuitt---


"Hei, apa kau sesulit itu jalan ke arah pintu dan membukakan nya untukku. Kau tidak perlu repot repot menggunakan kekuatan 'telepor' mu untuk memasukkan ku ke dalam bilik mu ini" Dyar


Zintya tidak memperhatikan Dyar yang mengomel ngomel sejak tadi.


"Kau tau racun H3[]18 ?" tanya Zintya menghentikan omelan Dyar.


"Ya" Dyar dengan senyuman menjawabnya.


"Jangan jangan 'sibuk' yang dia maksud adalah membaca berita terkini melalui pikirannya" batin Dyar yang 'sudah' akan kelakuan Zintya.


"Lalu apa yang kau ketahui tentang racun H3[]18 ?" Tanya Dyar dengan wajah yang sedikit serius.


"Ah iya, di beritakan bahwa racun ini hanya ada 1 di dunia dan pembuatan nya membutuhkan 3,4 miliar detik. Racun ini juga telah di beli oleh seorang pria berinisial 'D' " Zintya menjawab jawaban Dyar dengan perasaan takjub.


"Eh... tunggu!?" Zintya.


"Pfftt... 'D' adalah inisial nama mu Dyar" Zintya.


"Tentu, karena yang beli racun itu adalah aku" kata kata yang diucapkan Dyar dengan serius namun terasa seperti lelucon untuk Zintya saat ini.


llll_______llllllllll


"Heh!.... aku tidak menyangka bahwa yang kau katakan itu benar adanya.." Zintya berkata dengan lirih.


"Jika aku bermuka serius aku tidak mungkin sedang berlolucon" Dyar.


"Siapa yang mengira?"


"Kau tenang saja di tempat mu, sebentar lagi aku akan membawa mu ke tempat 'FAVORIT' ku ...mungkin saja dapat menjadi salah satu tempat fav mu jika kau melihat nya langsung" Senyum mengerikan terdapat pada bibir milik Dyar.


"Lalu mengapa kau menghianatiku?" Tanya Zintya lagi.


"Haha... aku hanya sebatas iri saja.." Dyar.


"Cih!!"


Yang bisa di lakukan Zintya saat ini hanyalah berdecak kesal namun tidak dapat melakukan apa apa.


"2! 2 menit lagi kau akan sampai ke tempat 'FAVORIT'. Kau sabar saja dulu!" Teriak Dyar yang meski pun dengan suara kecil tetap bisa di dengar oleh Zintya.


Zintya tak bisa melawan takdir yang menimpa dirinya. Dia hanya bisa menunggu waktu kematiannya.


2 menit berlalu dan saat ini kondisi Zintya adalah...


 


Dugg!!!


 


"Sial! Penyakit jantungku kambuh lagi!!" Seperti nya sudah waktunya aku untuk mati.


Zintya yang tadi duduk di kursi miliknya kemudian ambruk jatuh dan 3 detik setelahnya...


"Mati!?" Dyar mengecek nafas dan jantung Zintya apakah masih berfungsi dengan baik atau tidak.


"Sepertinya mati" Dyar tersenyum


 


Diakhiri dengan sebuah senyuman~


 


Okeyy , udah up. Author mau ganti nama judul karna cerita yang author akan kasi berbeda jauh dengan nama judul..


**Rate 5, vote terserah, boomlike, kasih favorit


'Salam Manis Dari Author**'


Warning: Yang bilang aku ngecopy novel Khadijah Annufaisah, itu ga yaa,, soalnya itu aku sendiri,, jd MT yg dulu ak pake buat tulis novel itu ak hps, trys download ulang, dn pas donlod ulang ak pake akun beda,, jd terpaksa hrs bikin ulang. btw sebelumny itu ak salin kata-katany trus ak simpan d catatan :)