The Legend Of Crazy Demon

The Legend Of Crazy Demon
Ch.8 - Nasi Goreng



Note " sebutan untuk rumah bordil Ninshan telah diganti menjadi paviliun Ninshan yah


...The Legend Of Crazy Demon...


... ....


.......


.......


Keterampilan, permainan pikiran, kebijaksanaan, naluri bertarung, dan keberuntungan menentukan hasil pertarungan antara master hebat.


Namun faktor yang paling penting dari awal sampai akhir adalah berkultivasi. Aku telah kembali dengan kepemilikan penuh dari aspek seni bela diri lainnya, pengalaman menjadi senjata utamaku.


Hanya dengan Golden Shell pada tahap pertama, tidak ada seorang pun di prefektur Namgong yang bisa menandingiku.


.


.


.


Perutku keroncongan, aku harus makan sebelum aku pergi dan menghajar para bajingan di Paviliun Ninshan.


Nasi dingin, lauk pauk, dan bumbu dimasukkan ke dalam wajan besar di dapur dan dicampur dengan baik.


Saat aku mencampurnya, Nasi goreng pun siap ( ga masuk akal memang jika ada nasi goreng, tapi pengen aja masukin nasi goreng kedalam ceritanya).


Meskipun terlihat sangat buruk dari nasi goreng pada umumnya, rasanya tetap enak.


Saya tidak ingin membuang lauk pauknya, jadi saya menambahkannya untuk melengkapi makananku.


Nasi goreng yang dibuat dengan sisa lauk dari kedai makan ini benar-benar lezat setelah sekian lama.


Aku menyeringai saat menikmati rasa nostalgia ini.


Aku hidup sendiri, jadi aku pikir akan sulit untuk hidup dengan waras.


Tapi ini tidak seberapa.


aku juga dulu telah menjadi orang gila, jadi saya sangat terbiasa sendirian.


Sebaliknya, jauh lebih penting bahwa musuh yang akan aku lawan di masa depan benar-benar gila.


Di tengah-tengah makan nasi goreng, aku mengingat tuan-tuan yang berkuasa di masaku saat ini.


Latar belakang diriku sendiri sangat menyedihkan jika membandingkan ku dengan seniman bela diri Murim dari distrik pusat.


Oleh karena itu, aku mengembangkan keterampilan gerakan sebelum aku mulai berkultivasi untuk bertahan hidup.


Rahang ku terus-menerus mengencang saat aku mengunyah nasi ketika aku mengingat kembali masa-masa itu.


Setelah makan nasi goreng, aku meminum alkohol yang seharusnya dijual kepada pelanggan dengan begitu saja.


"Enak sekali."


Ini adalah malam yang indah.


Aku mengambil alkohol dan menuangkannya ke dalam botol berbentuk labu, lalu aku memasukkan pisau dapur yang telah aku asah, setelah itu aku keluar dan pergi meninggalkan kedai makanan ku.


Karena aku sudah kenyang, aku yakin bahwa aku dapat mudah mengalahkan semua orang sampai mati. Bahkan jika semua pria di Prefektur Namgong datang untuk menyerangku pada saat yang sama.


aku akan pergi ke tempat di mana lelucon berubah menjadi kebenaran dan akan memuntahkan kebenaran yang pasti terdengar seperti lelucon.


aku terus minum sambil berjalan menuju paviliun Ninshan.


Mata pria yang menjaga pintu masuk paviliun Ninshan melebar begitu dia melihat wajahku.


"Hei, kamu bajingan gila. Apa yang kamu lakukan di sini? Jangan membuat masalah dan pergi."


"Apakah ini cara kau berbicara dengan pelanggan?"


"Kau bajingan gila!"


Tiba-tiba, dia mengangkat tangannya.


Aku meraih tangan pria itu dengan tangan kiriku dan memukul wajahnya dengan botol.


bughh


Lalu aku mencengkeram kerahnya dan melemparkannya ke tanah. Aku menjatuhkannya dengan tendangan ke wajah dan melihat ke paviliun Ninshan.


"Layanan pelanggan mereka sangat buruk."


Tetap saja, itu adalah tempat yang bising dengan suara orang-orang yang sedang minum, jadi mereka tidak memperhatikan keributan di pintu masuk.


Gelak tawa terdengar di sana-sini.


"Apa yang membuat kalian begitu bahagia? Kenapa kalian selalu bersenang-senang tanpaku?"


Penjaga gerbang yang tersisa terdiam membisu, keringat dingin mengucur dari seluruh badannya, jadi aku membuka pintu dengan tanganku sendiri dan masuk. Saat aku masuk, aku langsung berteriak dan berkata.


"Hei kalian semua, cepat layani pelanggan terhormat ini!"


"Bukankah itu bajingan cabul dari kedai makan Mioshan?"


"Dia pikir tempat apa ini?"


Mendengar semua gumaman, aku menjawab.


"Apa maksudmu di mana? Bukankah ini tempat di mana orang-orang bisa minum? Apakah aku datang ke tempat yang salah?"


"Hahaha."


Mendengar seseorang tertawa, aku mulai mengarahkan pandanganku ke asal suara, aku melihat Cao-Cao tertawa keras.


"Kau benar. Ini adalah tempat untuk minum."


Bawahannya kemudian bertanya.


"Haruskah aku menyingkirkannya?"


Cao-Cao, yang tersenyum, melambai padaku.


"Tidak, layani dia. Ngomong-ngomong, ada apa dengan matamu? Apakah seseorang memukulmu?"


"Ya"


Digosipkan sebagai pria paling licik di prefektur Namgong dengan mulut berbisanya, Cao-Cao tersenyum sambil menatapku.


"Kami tidak bisa menolak pelanggan. Selamat datang."


Menjadi licik adalah satu hal, tetapi jika terjadi perkelahian, tidak banyak orang yang bisa mengalahkan Cao-Cao kecuali kakak beradik keluarga Zhou.


Aku dipukuli oleh anak buah Cao-Cao. Karena alasan itu, saya berpikir untuk menindasnya karena tidak bisa mengatur bawahannya. Kecuali dia melakukan sesuatu yang keji sebelum aku meninggalkan Prefektur Namgong, aku tidak punya alasan untuk membunuhnya.


Saat aku menaiki tangga, Cao-Cao berkata dari lantai dua.


"Tempatkan pelayan Mioshan di meja yang bagus dan berikan beberapa minuman. Kapan dia akan datang ke tempat seperti ini lagi? Mari kita semua melayani dia dengan tulus."


"siap pak!"


Saat aku naik ke lantai dua, aku dipandu lebih jauh.


"kesebelah sini."


Aku mengikuti lorong dan dibawa ke sebuah ruangan kosong.


Ini adalah ruangan dengan struktur yang aneh.


Ada meja minum di tengah, dan bagian bawahnya dibentuk sehingga kita bisa meletakkan kaki di bawahnya. Ini adalah ruang rahasia di mana sekitar enam orang bisa duduk-duduk dan minum alkohol dengan tempat-tempat di mana pemain musik biasanya akan duduk.


Pemandu bertanya dengan nada yang hampir kasar.


"Minuman apa yang kau inginkan?"


"Aku tidak tahu banyak tentang alkohol. Jadi berikan aku sesuatu yang mahal."


pelayan itu tiba-tiba menatapku dan bertanya dengan nada berbeda.


"Tapi kenapa kamu berbicara secara informal seperti itu?..."


Aku menjawab sambil berjalan kemudian duduk di kursi.


"Aku minta maaf untuk menjatuhkan kehormatanmu. kau bajingan, segera ambilkan aku minuman."


Pelayan itu memelototiku dengan mata tajam, sepertinya dia akan mencoba membunuhku segera.


'Apakah dia gila?'


Namun, dia menutup pintu tanpa mengucapkan sepatah kata pun karena dia tahu mengapa petinggi menerima pelayan sebagai tamu.


Aku suka tampilan itu.


Kemarahan dan kebencian, mata penuh niat membunuh dan haus darah.


Ini bukan masalah besar.


Begitu mereka dipukuli, mata mereka menjadi sedih dan memohon belas kasihan.


Aku menunggu dengan tangan terlipat untuk menantikan kehadiran pelayan itu dengan alkohol nya, tapi dia sangat lama.


'Kesabaran ku mulai menipis sialan.'


... ....


... ...


... ....


... ....


Jangan lupa untuk berikan dukungan kalian dengan like, fav dan kritikannya.


... terimakasih telah berkunjung...