
...The Legend Of Crazy Demon...
.......
.......
.......
Aku menyeringai seperti orang gila, sudut mulut mereka juga mulai naik sampai kami berenam akhirnya tertawa bersama.
"Hahahahaha."
Ketika aku tiba-tiba mengangkat pisau, kelimanya melemparkan pisau mereka karena terkejut.
Pada saat itu, aku membalik meja dengan menendangnya menggunakan kaki kananku.
Bruakkk!
Dalam sekejap, 5 belati menghantam meja.
Tuk, tuk, tuk, tuk, tuk !
Saat bilahnya mengenai meja, aku berdiri kemudian mendorong meja kearah mereka berlima.
Bugh!
Kelimanya jatuh ke belakang saat meja menabrak mereka, dan aku mengarahkan pisau ke tubuh bagian bawah mereka.
Lima pasang kaki menggeliat tak terkendali, melakukan apa pun yang mereka bisa untuk mendorong meja menjauh, sangat mirip dengan cacing kepanasan.
Setelah kedai makan ku dihancurkan, salah satu hal yang kulakukan untuk mencari nafkah adalah menjadi pemotong daging di rumah makan, dan terkadang aku juga menjadi pemotong daging di pasar jika rumah makannya sedang tutup.
Aku menghabiskan sekitar 2-3 tahun pemotong daging dirumah makan dan di pasar.
Itu adalah waktu yang sangat lama dan membosankan.
Hingga pada titik dimana aku mendapatkan pencerahan menggunakan pisau dapur.
Aku mungkin satu-satunya orang di Jiangsu yang mendapatkan pencerahan saat menggunakan pisau dapur memotong daging. Semua hal ini tersimpan dengan baik dalam ingatanku.
Singkatnya, aku adalah master pisau dapur.
( kira-kira beginilah pisau dapur yang dipakai Iblis Gila saat ini)
Aku tidak meninggalkan satu pun kaki mereka yang terbuka, memotong lutut, jari kaki, pergelangan kaki, dan betis mereka. Lengan mereka, yang terekspos dari belakang meja, juga tidak luput.
"Kau menendangku dengan kaki bodohmu, bukan?"
Jeritan kelimanya saling tumpang tindih.
"Arghhhhh!"
Seketika ruangan langsung terisi dengan suara jeritan mereka.
Aku kemudian menendang meja pada saat yang tepat dan menghancurkan wajah mereka.
Ini adalah serangan yang efisien.
Ketika wanita paruh baya yang fasih namun kasar membuka pintu lagi, mereka benar-benar kehilangan semangat juang mereka.
Ruangan itu benar-benar berantakan, alkohol, dan darah menutupi semuanya.
Masih memegang pisaunya yang berdarah, aku mengucapkan sesuatu kepada wanita itu.
"Pelayan, bawakan aku lebih banyak minuman keras kelas rendah itu."
Wanita itu memelototiku.
Melihat respon yang wanita itu berikan, aku mengarahkan pisau yang kupegang kemulut wanita itu, lalu berkata.
"Biasanya aku tidak memukul wanita, tapi sebaiknya kau berpikir sebelum membuka mulutmu itu. Bawa dulu minuman kerasnya, dan bawa lebih banyak orang-orang tolol ini. Aku akan merobek mulutmu jika kau membuka mulut besar itu"
Aku memang dikenal sebagai Iblis Gila, tapi aku masih memiliki prinsip yang selalu kupegang teguh, yaitu untuk tidak menyakiti wanita yang tidak tahu seni bela diri kecuali ada alasan tertentu. Ini juga berlaku untuk Yuan Li dan wanita kasar itu.
Ketika wanita itu menghilang, aku menggeser potongan meja yang pecah dan melihat kelima pria itu. Keadaan mereka yang hancur, ditutupi dengan makanan yang tumpah, pemandangan yang indah.
Aku kemudian berkata sambil tersenyum.
"Tersenyumlah, dasar keparat. Kenapa kamu tidak tertawa di depan pelayan lucu ini?"
Mereka tidak bisa tertawa sekarang, tapi aku bisa.
"Selamat atas kakimu yang hancur. Kamu perlu waktu lama untuk sembuh atau mungkin tidak? jadi apakah ada bagian dari diri kalian yang masih utuh?"
Kelimanya terdiam di hadapan pelayan yang baik hati ini.
Kemudian aku berbicara dengan nada yang berbeda, seolah-olah berubah menjadi orang gila.
"Hei, kalian bajingan!, bukankah seharusnya kalian mulai memohon jika kalian ingin aku menyelamatkan kalian!? Haruskah aku membunuh kalian semua!?"
"Aku mohon jangan bunuh aku."
"Kumohon ampuni aku."
"Mari kita akhiri saja ini, kami hanya bercanda sebelumnya."
"Dia benar, kami tidak benar-benar berniat membunuhmu."
"Benar, yang mereka katakan benar."
Aku mengangguk.
"Ah, benarkah?"
Kecepatan dan ketepatan kata-kata mereka seperti menonton paduan suara yang terlatih dengan baik.
Aku mengambil belati yang tertancap dari meja dan memegangnya di tangan kiriku.
Kali ini, puluhan orang datang dari lorong. Mungkin semua prajurit yang bisa digerakkan paviliun akan datang. Dalam kegemparan, aku bisa mendengar suara Cao-Cao, yang merupakan satu-satunya yang menyambutku sebelumnya.
"Beri aku jalan!"
Lorong menjadi sunyi seketika, dan Cao-Cao muncul dan melihat sekeliling ruangan.
Cao-Cao adalah seorang pria dengan mata sipit, matanya menjadi lurus ketika dia tersenyum atau mengerutkan kening, dan itulah yang terjadi sekarang.
( kira-kira seperti inilah mata sipit Cao-Cao.)
Cao-Cao memberitahuku dengan tatapan bingung dan kesal.
"Pelayan Yu, kamu akan mati jika terus begini."
"Aku akan mati?"
"Ya."
Melihat mata jelek Cao-Cao, aku memasukkan kekuatan ke tangan kiriku dan melemparnya ke arah Cao-Cao.
Shuuui!
Pisau yang kulempar tiba sebelum tangan Cao-Cao bisa mencapai wajahnya, membuat gagang belati yang kulempar terlebih dahulu menyentuh matanya.
Bukkhh
"Aaaarggh!"
Cao-Cao jatuh telentang sambil mengerang.
Sambil mengulurkan pisau berdarah kepada orang-orang di belakangku, aku berkata.
"Mata dibalas mata. Ada lagi?"
Cao-Cao yang dengan hati-hati berdiri kembali, dengan tenang memerintahkan.
"Laporkan kejadian ini ke pemilik paviliun Ninshan. Kalian semua berjaga di luar. Jangan biarkan dia keluar."
Sembari meringis karena matanya yang berdarah, Cao-Cao menarik sebuah pedang dari pinggangnya dalam satu gerakan cepat.
Slingg!
Setelah Cao-Cao mencabut pedangnya, aku membalas dengan kata-katanya sendiri.
"Cao-Cao, berpikirlah sebelum bertindak. Atau kau akan mati."
"…"
"Ada apa dengan pria paling cerdas di Prefektur Namgong? Apakah kau pikir luka yang kau dapatkan dimatamu hanya keberuntungan? Tidak, bukan. Apakah menurutmu kelima orang itu hanya cukup sial untuk berakhir dengan anggota tubuh yang terpotong-potong? Tidak, jadi pikirkan sebelum kau bertindak."
"Hmm."
Sementara Cao-Cao berdiri di sana dengan ragu-ragu, aku bergerak untuk berbicara kepada orang-orang yang menghalangi lorong.
"Cao-Cao berakhir seperti ini dalam satu pukulan. Apakah menurutmu perintah untuk menghentikanku masuk akal? jadi jangan halangi jalanku lagi atau manejer tercinta kalian akan segera berganti."
Meskipun tidak efektif pada bawahannya, ancaman ini efektif pada Cao-Cao.
Cao-Cao yang cerdik berbicara dengan tergesa-gesa kepada bawahannya.
"Semuanya, turun dan tunggu. Guan Yu, kurasa kita perlu bertemu pemilik paviliun. Bukankah kamu datang ke sini untuk meminta maaf? Atau apakah kamu berencana untuk pergi setelah minum?"
Aku mengangguk pada Cao-Cao.
"Pria Zhou itu harus datang."
"Kalau begitu aku akan menghubungi pemilik paviliun dulu. Dia akan segera datang, jadi mari kita tunggu bersama."
Cao-Cao melihat telapak tangannya saat berbicara dan melihatnya berlumuran darah.
Aku bertanya.
"Apakah kamu kehilangan penglihatanmu?"
Cao-Cao berkedip sambil menyeka darah di sekitar matanya dan menjawab.
"Penglihatan ku sedikit buram, tapi aku masih bisa melihat."
"Itu melegakan. Bawakan aku alkohol, mari kita minum sambil menunggu pemilik Paviliun."
Cao-Cao memberi tahu wanita gemetar yang berdiri di ujung lorong.
"Ambilkan kami minuman keras. Tidak perlu makanan ringan, kami akan pindah ke kamar sebelah. Guan Yu, ayo pindah ke kamar sebelah. Dan jika kamu tidak akan membunuh orang-orang ini, biarkan kami mengurus mereka."
Ketika aku melihat ke belakang, kelimanya sudah di ambang kehilangan kesadaran.
Tentu saja, Cao-Cao memiliki cara berbeda dalam mengurus bawahannya.
Bahkan jika dia terluka parah di salah satu matanya, dia masih bisa menyelesaikan masalah dengan cukup baik.
Wanita yang banyak bicara muncul dengan langkah pendek dan menunjuk dengan sopan ke kamar sebelah dengan kedua tangan.
Aku bilang aku akan merobek mulutnya jika dia berbicara, jadi dia tetap diam sampai sekarang.
Naluri bertahan hidup dari seorang pelayan yang sangat baik.
...... .......
.......
.......
Jangan lupa untuk berikan dukungan kalian dengan like, fav dan kritikannya.
...Terimakasih telah berkunjung...