
...The Legend Of Crazy Demon...
.......
.......
.......
Mata Yuan Li melebar mendengar kata-kata ku, dan kemarahannya mengingatkanku pada seorang master dari Sekte Heilong.
"Tidak punya kelebihan lain? Apakah kau baru saja mengatakan kepada diriku jika aku tidak memilikiki kelebihan lain?"
"Tepat sekali, permainan musik dan suaramu juga tidak sebagus dengan apa yang orang-orang katakan. Haha."
Tanpa diduga, Yuan Li malah tertawa terbahak-bahak mendengar kata-kataku.
"Apakah kamu merasa tidak adil bahwa kamu dipukuli tempo hari? Kamu membuang-buang semua uang yang telah kamu tabung sejauh ini hanya untuk mengatakan ini? Mengapa aku mau tidur dengan mu? Bahkan jika kamu membayar saya sekarung emas dan perak, saya tidak akan tidur dengan kamu. Apakah kamu pikir saya adalah seorang wanita pelacur yang bersedia tidur dengan siapa pun? Saya tidak pernah melakukan hal seperti itu. Apakah kamu pikir seorang pemain musik yang menjual seni juga akan menjual tubuhnya!?"
Yuan Li berteriak marah.
Ah, aku bertanya-tanya mengapa dia begitu marah padaku, tapi Yuan Li juga memiliki perspektif sebagai seorang wanita.
"Hanya menjual Seni, Bukan Tubuh bukan?"
Ketika aku bertanya apakah dia bermaksud menjual bakat dan bukan tubuhnya, Yuan Li menggelengkan kepalanya.
"Jangan ucapkan kalimat itu."
"Aku minta maaf."
"Ngomong-ngomong, begitulah aku hidup. Tidak semua pemain musik adalah pelacur."
Aku mengulurkan botol minuman keras kepada Yuan Li, yang sangat marah.
"Begitu. Aku tidak pernah menganggapmu sebagai seseorang yang pelacur. Aku akan menuangkan minuman untukmu sebagai permintaan maaf."
Ketika Yuan Li mengulurkan cangkirnya, aku menuangkan minuman dan berkata,
"Biar kujelaskan, aku tidak pernah bilang aku aku bekerja keras dan menabung uang ku untuk bisa tidur denganmu. Yang aku katakan hanyalah aku ingin mendengar satu lagu darimu. Seperti yang kau katakan, kau adalah seorang pemain musik. Aku mengatakan itu supaya orang-orang di kedai makan bisa tertawa, itu jelas lelucon. Aku tidak pernah benar-benar ingin melakukannya karena Aku jelas tidak dalam situasi untuk bisa melakukan itu."
"Hah? Tapi aku dengar..."
"Jangan menyela cerita ku. Aku kira lelucon itu lucu, tetapi menjadi lebih besar. Semua orang akan tertawa kecuali dirimu. Itu lucu, jadi pasti sudah menyebar luas. Tapi lelucon itu tiba-tiba menjadi kenyataan yang tidak bisa aku ubah. Kata-kata bisa terdistorsi dan sebuah lelucon yang menjadi kebenaran tidak bisa dengan mudah diubah kembali menjadi lelucon. Ini adalah kasus di mana kata-kata dapat membunuh orang. Lihat mataku, aku hampir kehilangannya."
Aku tidak ingat mengatakan ini pada Yuan Li, ini mungkin hanya monolog yang kuingat dari masa laluku.
Saat dia mendengarkan kata-kataku, Yuan Li menatapku dengan ekspresi bingung. Aku pikir dia telah mengerti sebagian besar masalah ini.
"Minum lah."
Aku minum secangkir bersama Yuan Li tanpa emosi.
"Tapi kalimat 'Jual Seni, Bukan Tubuh' lucu karena kamu bekerja di paviliun Ninshan. Sekarang, aku sudah memberitahumu apa yang perlu kukatakan, jadi keluarlah sekarang."
"Haa?"
Kali ini, Aku hanya menuangkan minuman keras ke dalam cangkir ku saja.
"Keluar, sebelum aku menyeretmu keluar."
Yuan Li menatap pisau di atas meja. Lalu dia memeriksa mimik wajah dan mataku.
Dia tidak naif.
"Ya, saya mengerti. Tapi saya tidak memasuki paviliun atas keinginan saya sendiri."
"Berhenti berbicara omong kosong."
"Itu benar."
Pada saat ini, suara Yuan Li tumpang tindih dengan suara langkah kaki. Karena punggung tangan rekan mereka tertusuk, penjaga lain pasti datang ke sini untuk membalaskan dendamnya. Merasakan perkelahian yang akan terjadi, Yuan Li segera keluar dari ruangan.
Dalam sekejap, lima pria tiba dan menerobos masuk melalui pintu.
Mengapa mereka begitu marah?
Mereka terlihat sangat bahagia ketika memukuliku.
Seorang dari mereka berkata.
Pria di sampingnya menambahkan.
"Ayo keluar. Akan sulit untuk membersihkan tempat ini jika terkena darah."
Tanpa menjawab kembali, aku menghirup aroma anggur kualitas rendah yang ada di gelasku. Tiba-tiba, baunya seperti minuman keras berkualitas tinggi.
Rasa alkohol benar-benar tergantung pada suasana hati.
Sementara aku menikmati minuman keras yang mengalir melewati tenggorokanku, mata ku tetap tertuju pada mereka berlima.
Ketika aku membaca ekspresi wajah mereka, aku bisa merasakan mereka bertanya-tanya apakah akan membunuhku di sini atau tidak.
Aku kemudian berkata dengan tenang kepada orang-orang yang sedang marah ini.
"Kalian percaya diri dalam mengalahkan orang sepertiku, bukan? Biarkan aku menghabiskan minuman ini sebelum pergi."
Tidak perlu terburu-buru, tuan-tuan.
Bahkan, aku pikir aku harus memukul mereka dengan pikiran yang tenang sehingga segala sesuatunya akan berakhir dengan lebih sedikit kekerasan.
Hanya tanganku yang akan kotor jika aku membunuh mereka.
Kelimanya duduk di hadapanku dan secara alami menghujaniku dengan ejekan dan ancaman.
"Pelayan Yu, itu akan menjadi gelas terakhirmu. Jadi nikmatilah dengan baik."
"Orang ini benar-benar pria sejati. Dia datang ke sini dengan bangga, minum alkohol, dan bahkan memanggil nona Yuan Li. Wow, jika aku tahu pria ini adalah pria sejati, aku akan memukulnya lebih keras. aku sangat menyesal sekarang"
"Jika kamu menyesalinya, pukul saja dia dengan benar kali ini. Dia sudah membodohi So-Rang. Wajar jika dipukuli lagi. Benar kan pelayan Yu?"
Aku mengulurkan botol minuman keras saat ketiganya melanjutkan ancaman mereka.
"Kalian ingin minum?"
Namun, kelimanya tidak mengangkat gelas, mungkin mereka curiga aku telah meracuni minuman ini.
Sayang sekali, akhirnya aku hanya minum sendirian.
Salah satu pria kemudian mendesak.
"Kalau sudah selesai, ayo kita keluar."
"Hei, cepat bangun."
Aku terus minum tanpa menjawab. Dan kadang-kadang, aku melihat wajah mereka secara bergantian.
Diam adalah cara yang efektif untuk mengatur emosi.
Sekarang mereka berlima juga tidak banyak bicara. di situasi saat ini, seorang pelayan yang sederhana tidak mungkin bisa minum begitu tenang di depan orang-orang yang begitu jelas ingin menghajarnya.
Yang mereka lihat adalah seorang pria tanpa sedikit pun rasa takut.
Tidak banyak alkohol lagi yang tersisa, jadi aku segera menghabiskan gelas terakhir, kemudian mengambil pisau, dan berkata.
"Teman-teman lamaku, apakah aku itu hanya sebuah lelucon bagi kalian?"
Aku bertanya-tanya apakah aku ini picik di masa lalu, tapi aku tahu aku benar-benar sial dan sangat menyedihkan saat itu.
"Bukankah seharusnya begitu?"
Kelima pria itu mengeluarkan sebuah belati yang sebelumnya mereka sembunyikan.
"Kamu bisa saja mengakhirinya hanya dengan pukulan, tapi di sini kamu malah memperburuk keadaan."
"Saudara-saudara ku, karena dia memukuli So-Rang seperti itu, ini hanya akan menjadi balasan yang adil, bukan?."
Mendengar mereka, aku menyeringai seperti orang gila, begitu pula dengan mereka. Sudut mulut mereka juga mulai naik sampai kami berenam akhirnya tertawa bersama.
.......
.......
.......
Jangan lupa untuk berikan dukungan kalian dengan like, fav dan kritikannya.
...Terimakasih telah berkunjung...