
Malam bulan purnama pun tiba, Didi dan kawan-kawan bersiap untuk melakukan ritual seperti yang diperintahkan oleh Nita.
“Ini serius nih,, kita ngelakuin ini??” tanya Rafi, yang sebernya masih memiliki keraguan didalam hatinya untuk melakukan ini semua.
Namun, sudah sangat terlambat jika mereka ingin membatalkan semua ini. Mereka sudah tidak dapat mundur lagi.
“kita mulai!!” begitu kira-kira aba-aba yang disampai oleh Nita sesaat sebelum ritual akan dimulai.
Didi dan teman-teman duduk melingkar di lorong lantai 3, mengelillingi lilin-lilin dan sesajen, yang dimaksudkan untuk memancing iblis untuk keluar dan menampakan dirinya.
Suasana yang gelap dengan penerangan terbatas yang berasal dari lilin, membuat suasana sangat mencekam. Bulu kuduk merinding, kalau yang seperti yang dibilang Nita, ini merukapan pertanda kemunculan iblis.
Benar saja, sesaat kemudian muncul sosok mahkluk yang mirip dengan yang ada difoto milik Didi.
“Harusnya gue ga pernah ada diposisi ini!!”. Kalimat ini terlontar begitu sama dalam fikiran teman-temannya Nita dan Didi.
Makin lama iblis ini nampak semakin jelas saja dalam pandangan Didi dan teman-teman. Iblis ini bergerak kearah Nita. Dengan siap siaga Didi mengambil pisau kecil yang memang sudah disiapkannya.
Seakan tahu maksud dari Didi, iblis itu menunjukan kekuatannya dengan menghempaskan badan Didi. Badan Didi yang kurus, nampak terhempas sangat jauh menghantam kaca jendela kelas, hingga hancur lebur.
Melihat hal itu, suara teriakan dari Sisil dan Putri pun pecah, memecahkan heningnya malam itu.
Fahri dan Rafi tidak tinggal diam, saat mereka sudah bersiap akan menusuk, iblis mengunci pergerakan mereka. Seingga saat ini mereka tidak dapat menggerakan dirinya. Ternyata bukan hanya Fahri dan Rafi, tetapi semua orang yang ada disana, tidak dapat menggerakkan badanya, kecuali Nita.
“Aku sudah mengikuti kemauanmu, jadi ini saatnya untuk kau mengikuti kemauanku!”. Ucap Nita dengan nada yang sangat tegas, tertuju pada iblis yang kini berdiri tepat didepannya.
Melihat ini teman-teman sudah tidak dapat mengungkapkan perasaannya. Mereka merasa tertipu, ternyata selama ini Nita hanya menjebak teman-temannya. Nita memiliki janji dengan iblis itu, yang mana ia akan menuruti kemauan iblis itu -membawakan Didi dan teman-temannya untuk dijadikan tumbal selanjutnya- dengan syarat iblis mau menuruti kemauannya juga untuk pergi dari sekolah itu dan membiarkan adiknya Nita bersekolah dengan aman di sekolah itu.
'Kenapa Nita melakukan itu hanya untuk adiknya??'
Begini...
Nita sedari kecil sudah ditingggal keluarganya, ia hidup sebatang kara di jalanan. Suatu saat ada anak kecil bernama ‘Will’ yang mengahampirinya, dilihat dari penampilannya, ia seperti anak orang yang berkecukupan. Dan benar saja, Will memang anak tunggal kaya raya.
Will nampak sangat senang bertemu dengan Nita, yang mana ini juga membuat oranag tua Will sangat senang.
Singkatnya Nita diangkat anak oleh keluarga Will. Bukan tanpa alasan, Nita memang orang yang selama ini dicari oleh orang tuanya Will. Darah Nita adalah sumber kehidupan Will.
Will mengidap penyakit yang begitu aneh, bahkan bisa dibilang kalau penyakit itu hanya dimiliki oleh Will. Penyakit yang tidak hanya menggerogoti badan Will, tetapi juga membuatnya harus mendapat asupan darah terus menerus. Darah Will yang langka sangat susah di dapatkan, sehingga saat orang tua dari Will mengetahui bahwa Nita memiliki darah yang sama dengan Will, mereka tidak melewatkan kesempatan itu.
Hanya ada satu orang yang mengerti penyakit Will, orang itu sudah dipercaya oleh orang tuanya Will dari lama. Orang itu cukup misterius, ia tidak pernah mau meninggalkan kota tersebut. Ini membuat Will juga tidak bisa pergi kemana-mana dan harus menuruti perintah orang misterius itu.
Hidup yang serba kecukupan yang dimiliki oleh Nita saat ini, harus dibayar oleh darahnya sendiri. Namun dengan begitu, Nita tetap tulus menyayangi Will seperti adik kandungnya sendiri.
Hingga Will akan masuk ke jenjang SMA, Will hanya diperbolehkan bersekolah di sekolah Nita saat ini. Entah apa alasannya, tetapi orang misterius meminta Nita untuk melakukan sesuatu yang dapat membuat adiknya Will dapat bersekolah disana dengan aman. Sebelumnya, mata batin Nita sudah dibuka agar ia mudah menyelesaikan misi.
Nita pun menyetujui dan resmi pindah sekolah. Hari pertama Nita sudah berhasil mendapatkan informasi mengenai penghuni [jurig] lantai 3 gedung sekolah. Kemajuan baru didapat lagi setelah kejadian mengambil buku Lina malam-malam. Sebetulnya itu suatu ketidak sengajaan, awalnya Nita berpura-pura takut agar teman-temannya tidak datang ke sekolah malam itu, ia takut bahwa semuanya akan terbongkar, namun tak disangka kejadian itu malah memperlancar misi dari Nita.
Nita berhasil berkomunikasi dengan iblis, dan menghasilkan kesepakatan. Bahwa ia akan mengikuti kemauan iblis (membawa teman-temannya untuk dijadikan tumbal) lalu iblis akan mengikuti kemauannya untuk pergi dari sekolah itu dan membiarkan adiknya Nita bersekolah dengan tenang.
Hari dimana Nita dan Didi menjelaskan bukti-bukti yang mereka temukan kepada teman-teman yang lain, menjadi kesempatan Nita untuk melancarkan aksinya. Sampai malam itu tiba, dan berjalan sesuai rencana, ia menagih janji dari iblis. Tak peduli apa yang akan teman-temannya katakan atau rasakan, toh mereka semua juga akan mati ditangan iblis itu. Nita hanya fokus kepada kehidupan adiknya Will
Baru saja Nita bernafas lega, ia pikir semua akan beres. Namun ternyata iblis mengingkarinya. Iblis juga mengunci tubuh Nita, sehingga Nita hanya berdiri terpaku dihadapan blis.
“manusia bodoh!!,,,, hahahahaha” suara nyaring ini berasal dari kegelapan diujung lorong.
Suara dan wujud yang makin lama makin terlihat jelas, begitu familiar, membuat teman-teman yang terkunci hanya dapat mengucap dalam hati.
“bu guru...”
Ternyata ini semua hanyalah permainan licik dari bu guru, yang memang dari lama telah mengetahui rencana dari murid-muridnya itu.
“berjanji dengan iblis?? Membunuh iblis?? Kalian memang murid yang bodoh, sia-sia saja rasanya ibu mengajarkan kalian”.
Tawa jahat kembali keluar dari mulut manusia keji berkedok guru yang mengayomi muridnya.
“ini aku sembahkan 7 orang bodoh ini untukmu” ucap bu guru sambil tersenyum kemenangan kepada iblis yang mengerikan itu.
Tidak ada rasa takut dalam diri Didi dan teman-teman, melainkan rasa marah dan dendam yang semakin besar. Entah itu dendam Didi kepada bu guru dan iblis, atau dendam Nita pada iblis yang sudah mengingkari janjinya, atau bahkan dendam teman-teman yang lainnya kepada Nita karena telah dijebak dan dipermainkan oleh Nita.
BERSAMBUNG...