THE JURIG SCHOOL

THE JURIG SCHOOL
CHAPTER - 7 CERITA DIDI



Setelah beberapa menit akhirnya Didi siap untuk menuntaskan semua pertanyaan dari teman-temannya. Mulai dari 'kenapa bu guru menuduh Didi dan Nita yang tidak-tidak, sampai kebenaran mengenai foto tersebut'.


Didi mulai menjelaskan siapa saja yang ada didalam foto itu, pemuda yang berada didepan bu guru ternyata adalah kakak kandung dari Didi. Didi merupakan anak bungsu dari tiga bersaudara, kakak pertamanya sudah meninggal sejak Didi masih dalam kandungan, entah apa penyebabnya, tidak ada seorang pun yang tahu. Saat umur Didi 8 [delapan] tahun, ibu dan ayahnya mengalami kecelakaan saat diperjalanan menuju luar kota [ayah Didi adalah seorang abdi negara yang sering mendapat perintah pindah tugas]. Kejadian ini berlalu sangat cepat meninggalkan luka yang mendalam bagi Didi dan kakak keduanya. Semenjak itu Didi yang selalu nampak ceria berubah menjadi pemurung. Kakak keduanya Didi bernama Rendi. Rendi menjadi satu-satunya keluarga dan semangat bagi Didi untuk menjalani hidupnya.


Didi dengan Rendi hanya terpaut 3 [tiga] tahun, semenjak Rendi bersekolah di SMA yang menjadi sekolah Didi sekarang, Didi berusia 15 [lima belas] tahun (kelas 9 [sembilan] SMP) . Sikap Rendi berubah, Rendi yang berani kini sering terlihat ketakutan dengan hal yang secara kasat mata tidak ada [mahkluk halus], ia juga sering meracau dimalam hari. Hal ini membuat Didi khawatir terhadap kondisi kakaknya itu.


Naik ke kelas 11 [sebelas] kondisi dari Rendi makin memburuk, Rendi jadi sering sakit-sakittan. Anehnya, setiap kali dibawa ke dokter Didi tidak pernah mendapatkan satu penyakit pun yang ada ditubuh kakaknya itu. Berbagai dokter sudah dicoba, tapi tetap saja nihil. Uang peninggalan orang tuanya habis dipakai biaya berobat kakaknya yang tak kunjung membuahkan hasil, uang pensiunan ayah nya pun sangat tidak mencukupi. Ini membuat Didi kecil sangat frustasi.


Saat teman dari Rendi menjenguknya, ada yang menyarankannya untuk memanggil orang pintar. Didi yang merasa sudah tidak ada jalan pun, menghubungi orang pintar.


"mata batin mu harus dibuka kalau kamu ingin melihat apa yang sebenernya terjadi. Kamu harus kuat. Ingatlah nak, jangan mudah terpancing emosi dan melakukan hal yang akan membuat malapetaka untuk dirimu sendiri." ucap orang pintar.


Malamnya Didi mendengar suara gemuruh dari kamar Rendi. Ada sosok mahkluk seperti dalam foto keluar dari kamar Rendi. Tanpa fikir panjang, Didi mengikutinya. Sampailah Didi di sekolah tempat kakaknya bersekolah [sekolahnya sekarang].


Suara teriakan menggema dari dalam gedung.


"kak Rendi!!"


Didi yang mengkhawatirkan kakaknya langsung lari ke sumber suara. Sesampainya disumber suara [lantai 3], pemandangan yang difoto lah yang Didi lihat. Rasa marah dan sedih menjadi campur aduk. Tak bisa menahan emosinya, ingin rasanya dia menikam semua orang yang ada di sekitaran kakaknya dengan batang kayu runcing yang ia ambil dari jalan, yang tadinya akan ia gunakan untuk membela diri bila terjadi apa-apa.


"Kamu tidak bisa melakukan ituuu!!!!!"


tiba-tiba ada suara yang berbisik ke telinga Didi, dan sesaat kemudian, ada sesosok mahkluk yang mendekapnya sehingga ia tidak bisa bergerak ataupun berbicara.


"Ikhlaskan kakakmu sayang,,,,,!"


"Mamah..." Didi berkata dalam hati nya, ia menyadari kalau orang tuanya tidak pernah meningggalkannya.


Semenjak saat itu Didi memiliki dendam yang harus dibalaskan, atas kepergian kakaknya. Lulus SMP Didi masuk ke sekolah kakaknya yang dulu, agar dapat membalaskan dendamnya.


Seiring berjalannya waktu, Didi mulai menemukan teman-teman yang menurutnya dapat membantu ia untuk membaur bersama anak-anak lainnya agar tidak terlihat mencolok.


Karena teman-temannya yang sangat menyita waktu, Didi juga mendapat kesulitan untuk mencari informasi terkait apa yang sebenarnya terjadi di lantai 3 sekolah.


 


Simpatik terhadap cerita Didi, teman-teman bertekad untuk membantunya membalaskan dendam.


"aku tahu cara bikin iblis itu mati." Ucap Nita.


Semua orang menatap Nita dengan tatapan curiga mengapa dia bisa tahu, tetapi karena Nita indigo, jadi teman-teman memakluminya saja tanpa bertanya, 'Dari mana dia tau?'.


Nita menjelaskan bahwa ada satu-satunya cara agar iblis itu dapat dibunuh dengan melakukan sebulah ritual dimalam bulan purnama. Menurut Nita, malam bulan purnama adalah malam yang tepat untuk melakukan ritual. Dimalam itu para iblis mana pun akan melemah, sehingga itu akan memudahkan mereka untuk membunuh iblis tersebut.


Hari itu juga Nita langsung membriving teman-temannya, agar ritualnya nanti akan berjalan sesuai kemauan Nita.


"aku gak setuju!, ini hanya akan membahayakan kita semua!", ucap Lina yang tampak tidak ingin melakukan apapun yang dikatakan oleh Nita.


Pernyataan Lina ini membuat teman-teman sangat ragu akan kesungguhannya dalam membantu membalaskan dendam Didi. Setelah perundingan yang sangat panjang, akhirnya keputusan dari perbincangan hari itu adalah 'Lina dan Adi tidak akan ikut ritual untuk membunuh iblis'. Entah apa yang membuat Adi ikut dengan Lina untuk tidak mengikuti teman-teman yang lainnya dalam misi membunuh iblis itu.


BERSAMBUNG...