THE JURIG SCHOOL

THE JURIG SCHOOL
CHAPTER 6 - BUKTI



Hari pertama pencarian bukti-bukti Didi dan Nita memutuskan pergi ke perpustakaan sekolah. Lama mereka mencari data-data namun hasilnya nihil.


“Duh aku nyerah banget deh, udah keliling perpus tapi ga dapet bukti apapun, ih males banget deh.” Ucap Nita yang mulai kelelahan.


“Sabar dong, kamu cape banget yah pasti?”. Ucap Didi sambil memrhatikan Nita.


Nita menoleh ke arah Didi dan mendapatkan tatapan hangat dari didi yang sepertinya mengakhawatirkannya. Tak lama kemudian. Secara tiba-tiba Didi berlari menarik tangan Nita, ‘brugh’ buku berjatuhan di tempat Nita berdiri sebelumnya.


Ada buku yang sangat mencuri perhatian Nita, ia mengambil buku itu dan membuka halaman dari buku tersebut. Alangkah senangnya Nita setelah ia menemukan apa yang sedari tadi ia cari. Buku tersebut berisi sejarah sekolah dan beberapa rahasia sekolah.


Besoknya Didi dan Nita pergi menemui teman-temannya didepan sekolah, untuk menunjukan apa yang mereka dapatkan kemarin. Tetapi teman-teman tidak menggubris apapun yang Didi dan Nita katakan, sambil pergi berjalan melewati Nita dan Didi.


“Gua tahu kalian marah dan kecewa sama gua dan Nita, tapi bisa gak sih kalian denger dulu apa yang mau gua dan Nita omongin!”. Ucap Didi yang merasa sedikit kesal.


Teman-temannya menghentikan langkahnya dan mematung didepan Didi dan Nita.


“lo pikir setelah kebongkarnya kebohongan lo waktu itu, kita bisa percaya lagi sama lo gitu?, mikir lah bro!”. Ucap Fahri tanpa menoleh sedikit pun ke arah Didi dan Nita. 


“gua punya bukti yang bikin kalian semua percaya kalo bu guru itu bohong.” Ucap Didi.


Teman-teman yang awalnya tidak mau berurusan dengan Didi dan Nita lagi, tetapi didalam lubuk hatinya ada rasa penasaran yang perlu diusut tuntas. Sampai akhirnya teman-teman setuju untuk memberikan kesempatan kepada kedua temannya itu.


“gua gabisa nunjukin bukti ini disini, ikut gua! Kita cabs ke tongkrongan!”. Ucap Didi sembari berjalan duluan, diikuti teman-teman yang lainnya. -tongkrongan ini merupakan sebuah warung kecil yang mirip akringan, milik saudara dari adi- .


Sampai di tongkrongan Didi tidak langsung memperlihatkan buktinya, yang membuat teman-teman merasa kesal dan berfikir kalau Didi dan Nita ini hanya membohongi mereka.


“Lo berdua bisa serius gak sih? Apa jangan-jangan ini kebohongan kalian part dua?”. Ucap rafi yang tampak emosi melihat kelakuan Didi dan Nita.


“Santai dulu gak sih?!”. Ucap Didi sembari memesan minuman.


Fahri yang sudah tidak sabar menyambar kerah baju Didi, ini membuat semua orang terkejut. Jika tidak dihentikan ini akan berlanjut kepada pertengkaran antara keduanya.


“Apasi mau lo?” kata-kata ini keluar dari mulut Fahri. Sontak Adi dan Rafi mencoba melerai keduanya.


“Masalah sepele gini, kok bisa si bikin kita berantem kayak gini? Ayo dong kita ini udah dewasa.” Ucap Adi yang merasa miris dengan apa yang terjadi dalam pertemanan mereka.


Suasana menjadi hening, dikeheningan itu Nita tiba-tiba mengeluarkan bukti yang menarik perhatian semua orang. Dengan halus Nita menjelaskan mengenai bukti-bukti yang ia dan Didi dapatkan. Bukti itu berisi sejarah kapan sekolah dibangun.


Ditengah pembicaraan mereka datang lah pak Muk (pemilik warung angkringan) membawakan pesanan dari Didi.


“Wah asik banget deh kayaknya nih, ngobrol apasi?” tanya pak Muk memecah konsentrasi Didi dan teman-teman.


Pak Muk melihat bukti-bukti yang berada diatas meja. Setelah melihat semua bukti itu pak Muk tersenyum, seakan-akan sedang mengenang masalalunya yang indah. Ini membuat Didi dan teman-teman menanyakan apa yang sebenarnya diingat pak Muk sampai sebegitunya.


"Pak Muk jadi terasa muda kembali kalo liat foto-foto sekolah yang dulu". Ucap pak Muk sambil tersenyum kecil, yang membuat Didi dan teman-teman menatap dengan rasa penasaran.


“Ahh pak Muk, kayak pernah muda aja.” Celetuk Sisil yang sontak menuai gelak tawa teman-teman beserta pak Muk.


“Ya pernah lah neng. Gak kalah sama Dilan juga neng, malah kayaknya kecean pak Muk loh, kalian jangan salah yah!”. Ucap pak Muk dengan sangat percaya diri yang tidak kalah menuai gelak tawa juga.


“Eh tapi emang pak Muk sekolah dimana si pak?”. Tanya Putri yang sangat mewakili perasaan dari teman-temannya yang lain.


Pak Muk menjelaskan bahwa ia dulunya bersekolah di sekolah yang sama dengan Didi dan teman-teman. Ini membuat semuanya kaget sekaligus antusias untuk menggali informasi lebih dalam mengenai sekolah dari pak Muk. Pasalnya Adi pun tidak mengetahui kalau pamannya ini bersekolah di sekolahnya sekarang ini.


“Kalau pak Muk pernah bersekolah disana, kenapa anaknya pak Muk si Brandon  ga sekolah disana juga?”. Tanya Sisil dengan rasa penasaran.


kalo itukan emang kemauannya si Brandon Sil, lagian emang lebih aman juga kalo si Brandon tuh sekolah di Surabaya, bair gak jadi korban kamu loh Sil.” Ucap Adi (saudara Brandon) yang mencoba meledek Sisil.


Merekapun melanjutkan percakapan itu. Nampaknya Didi dan kawan-kawan sudah mulai membaik seperti semula. Pak Muk pergi meninggalkan Didi dan kawan-kawan. Perginya pak Muk menimbulkan beberapa pertanyaan dibenak kawan-kawannya didi.


“Kalo semua ini benar, kenapa bu guru ngelakuin kebohongan itu?” tanya Rafi yang berharap mendapatkan jawaban dari Didi dan Nita.


Seakan tahu akan apa yang hendak ditanyakan Rafi, Didi merogoh saku jaketnya. Ini membuat teman-temannya memfokuskan pandangan pada pergerakan tangan Didi. Tak berapa lama kemudian, Didi mengeluarkan sebuah foto yang membuat teman-temannya tercengang termasuk Nita. Nampaknya Nita juga tidak mengira bahwa Didi memliki foto semacam itu.


Foto yang dikeluarkan oleh Didi merupakan foto ibu guru, didepan ibu guru ada sesosok pemuda yang terbaring tak sadarkan diri, yang lebih mengejutkan adalah sesosok mahkluk hitam besar dengan mata merah menyala dan taring yang sangat panjang, serta liur yang menetes dari taringnya yang menjijikan.


“a-a-a-apa ini?? Lo dapet dari mana foto kayak gini? Ini gak real kan?? Pasti kamu edit, ini gak mungkin nyata!”. Ucap Lina yang tampak sangat terkejut saat melihat foto itu.


Didi terdiam sejenak yang membuat suasana kembali sunyi. Lina yang nampaknya tidak percaya terus mendesak Didi untuk mengakui kalau foto itu tidak benar atau editan semata. Lina sangat bersikeras bahwa apa yang ada difoto itu tidak benar, Lina berpendapat bahwa bu guru tidak mungkin melakukan hal semenyeramkan itu.


Namun teman-teman berusaha meyakinkan Lina bahwa kemungkinan foto itu adalah suatu kebenaran. Mengingat kejadian malam hari saat mereka mengambil buku malam-malam di sekolah, kebohongan bu guru, sampai alasan bu guru yang belum jelas tentang ‘mengapa ia menuduh Didi dan Nita yang tidak-tidak’. Semua kembali diam, menciptakan suasana yang hening. Teman-teman menunggu Didi untuk angkat bicara, menjelaskan apa sebenarnya maksud dari foto yang dikeluarkan oleh Didi tersebut.


...BERSAMBUNG... ...