THE JURIG SCHOOL

THE JURIG SCHOOL
CHAPTER 2 - TERLAMBAT



Tingg ... tingg ... tungg ...


"Perhatian. Jam Pulang telah tiba, kepada siswa siswi yang masih di kelas harap segera pulang kerumah dan hati hati terhadap barang jangan sampai tertinggal"


"Perhatian. Jam Pulang telah tiba, kepada siswa siswi yang masih di kelas harap segera pulang kerumah dan hati hati terhadap barang jangan sampai tertinggal"


Suara bel dan pengumam jam pulang pun sudah terdengar para siswa siswi pun langsung meninggalkan kelas dan pulang kerumah masing masing.


--


Digerbang sekolah.


"Nit kamu kearah mana pulang nya?" Tanya sisil.


Nita menjawab dengan menunjukan jalannya. "Kearah sana sil. "


"Wah kebetulan banget kita searah sama kamu Nit, mau bareng gak? " Ajak Putri


"Ayo boleh boleh. " Jawab Nita.


Mereka pun pulang bersama yang biasanya mereka pulang ber-7 saja sekarang bertambah 1 yaitu Nita maka menjadi ber-8.


Hari pun sudah sore menunjukan pukul 16:15 cuaca pun begitu indah, burung burung berterbangan, matahari yang oren menghiasi sore hari yang sangat indah. Namun disela sela itu, saat di perjalanan pulang Nita terdiam membeku kembali entah apa yang sedang dipikirkan nya. Semenjak melewati tangga tadi aura Nita sedikit berbeda dia yang awalnya suka tersenyum tetapi sekarang dia merenung.


"Hei, kenapa diem lagi Nit?" Tanya sisil sambil menepuk pundak Nita.


"eh, gapapa kok cuman kecapean aja, " ucap Nita


"Kamu harus kayak Sisil dong. " Saut Fahri


"Loh, kok kayak aku?" Tanya sisil.


"Iya, bawel terus" Jawab Fahri


"Ih,engak kok. " Menggemplak punggung Fahri


"Iya enggak. Enggak salah lagi, hahah. " Fahri tertawa


"Hahah udah udah jangan bercanda di tengah jalan bahaya" Kata Nita


"Ehk, guys" Kata didi


Didi sambil mengendus ngendus hidung, "aku nyium bau bau sesuatu deh guys "


"Itu mah bau nya Rafi belum mandi dari pagi ha ha ha" Ledek Putri


"Heh, matamu belum mandi. Aku mandi


Terus lah, yakali kagak mandi" Jawab Rafi


"Ini bukan baunya Rafi, woi" Didi yang masih mengendus ngendus baunya.


"Bau apa si Di? Gak usah sok-sok'an jadi roy kiosi dah" Tanya Rafi


"Perasan gak nyium bau bau aneh disini" Batin Nita


"Aku jadi penasaran bau apa? "


Tanya Nita kebingungan.


"Eh Nita jadi penasaran juga ya hehe" Didi menjawab sambil tersenyum


Terkesipu


"Bau apa Didi Suryadi" Tanya Adi.


"Loh, kalian bener gak nyium bau nya? Ini nyengat banget asli deh gak boong" Tanya Didi


"IYA, BAU APA DIDIIII SURYADIIII, GUA GETOK JUGA PALALU KALO GAK NGOMONG" Greget Rafi


"Hehe, ini bau ... bau .... "


Seketika semua menunggu jawaban Didi dengan serius dan tegang


"Ini bau ... Jiaaaa nungguin ya hahah"


"Astaghfirullah ya Allah, Allahu Akbar, sabar kan lah hamba mu ini ya rabb." Ujar Putri


"GUA GETOK BENER PALAU YA PEA, DARI TADI KAGAK NGOMONG BENER" Kesal Rafi sambil mengepal tangannya bersiap menggetok kepala Didi.


"Santai dong santai. Ini gua ngomong bener kok, ini bau ... bau ... Bau mie ayam hehe" ucap Didi cengengesan.


"Ya Tuhan.. Mengapa engkau mempertemukan aku dengan dia.. Begitu tertekan aku dengannya" Kata Adi. Jika kalian belum tau, Adi ini beragama Kristen.


"Et dah, omongan lo jahat bener adi" Saut Didi


"Lagian lo bikin kesel kita bilang bau bau bau, padahal itu bukan bau tapi WANGI!" Saut Fahri dengan nada ngegas di akhir katanya


"udah udah gosah ribut Didi emang usil dari dulu. Btw aku jadi laper nih makan yok, " ungkap Lina


Benar kata Lina, perut keroncongan mereka itu sangat terdengar sekali saking laparnya karena memang belum makan sedari jam istirahat tadi.


"sama lapar juga nih, " ungkap Sisil


"Ya udah yok pergi. " Ajak Fahri


"Pergi kemana? " Tanya Didi


"Ya pergi kewarung mie ayam lah bambang. " Jawab Fahri


"Oh.kapan? " Tanya Didi lagi


"Ebuset ni bocah telmi amat dah. " Saut Rafi sambil menepuk keningnya.


"YA SEKARANG LAH DIDI SURYADI MASA TAU DEPAN" Begitu kompak mereka berkata sehingga Didi tersipu malu dan menggaruk kepala nya itu yang tidak gatal.


"Come on guys, let's go there. " Ajak Sisil si gak sabaran.


Mereka pun beranjak pergi ke warung mie ayam itu, warung tersebut tidak terlalu jauh hanya perlu bejalan beberapa meter saja. Disaat datang kesana ternyata warung tersebut begitu ramai karena memang warung mie ayam itu adalah favorit semua orang disebabkan mienya yang kenyal, rasanya yang mantap, daging nya banyak, dan porsinya yang banyak apalagi kalo ditambah pake sambel beuh makin mantap banget itu.


Mereka pun datang, dan duduk di meja panjang yang cukup untuk mereka. Tanpa lama mereka pun langsung memesan mie nya .


Pelayan pun datang dengan membawa kertas mini dan pulpen ditangannya


"Pa, saya pesen mie nya 2 porsi ya. "


"Astaga Lina, rakus banget ampe 2 porsi." Kata Sisil


"Ya kita juga laper lah, tapi gak seratus kamu. " Samber Adi


"Ya udah sih, emang masalah buat kalian? Gak, kan" Lina tanpa sengaja menjawab dengan suara keras sehingga orang orang yanga sedang makan mie pun langsung teralihkan kepada Lina.


"Udah, udah, jangan ribut, malu udah gede juga. Liat tuh, diliatin orang orang" Putri yang mencoba memberhentikan omongan mereka.


"Maaf Pak, temen saya emang gitu hehe, jadi saya pesen mie nya 7 porsi ya. "


"Siap neng, tunggu sebentar ya saya siapin dulu. " Jawab pelayan


"Tuhkan Sil kamu aja pesen 7 porsi, aku yang cuman 2 porsi aja di bilang rakus." Sewot Lina


"7 porsi itu buat aku sama yang lain nya Lina, bukan buat aku sendiri. Ya kali aku makan sebanyak itu. " Jawab Sisil.


"Oh." Ucap Lina dengan Singkat padat jelas .


"Makannya jangan sewot. " Ujar Fahri


"Ya maaf."


Beberapa menit kemudian mereka menunggu, akhirnya mie itu pun datang kepada mereka. Pelayan langsung menyimpan di meja mereka dan menjejerkan kemereka. Lina si rakus itu pun langsung mengsantapnya duluan tanpa menunggu teman temannya.


"Ayo santap. " Lina berkata sambil menyeruput mie kedalam mulutnya itu.


"Lina sabar, awas itu keselek" Kata Nita


Beberapa menit kemudian, mereka selesai memakan mie itu dan bunyi perut keroncongan itupun hilang seketika. Namun, di saat yang lain sudah selesai makan masih ada Lina yang masih belom beres menghabiskan mie yang ke 2 porsinya.


Hari pun sudah semakin sore, awan yang berwarna merah keorenan itu menunjukan pukul 17:00. Mereka pun langsung bersiao siap untuk lanjut jalan pulang.


"Guys, yok pulang udah sore banget ini" Ajak Putri


"bentar dong mie ayam ku belum abis, " Ujar Lina yang berusaha berbicara padahal mulutnya penuh mie.


"Makannya jangan rakus, dah tinggalin aja Lina biar disini sendiri " Ucap Sisil menakuti Lina


"Kalian itu sama temen sendiri ko gitu si. " Kata Nita.


"Nit, jangan di anggap serius ini cuman bencana kok" Jawab Didi


"Bercanda Di BERCANDA BUKAN BENCANA!! " Jawab Rafi greget.


"Ouh beda ya fi? " Tanya Didi


"BEDA LAH DIDI SURYADI" Kompak mereka menjawab pertanyaan Didi.


"Lu polos apa bego si Di? Greget gua. " Ujar Rafi.


Yang lain hanya tertawa melihat Rafi yang begitu greget kepada Didi.


Lina pun selesai menghabiskan makananya, mereka langsung melanjutkan jalan pulang nya. Setelah sampai di pertigaan jalan mereka pun langsung berpisah di sana. Didi, Fahri, Adi, dan Rafi ke arah kiri, lalu Sisil, Putri, Lina dan Nita ke arah kanan.


 


Keesokan harinya


Pukul 6:00 menunjukan bahwa sudah pagi hari. Mereka pun berangkat sekolah dari rumah masing masing, dan berpapasan kembali di gang per3an kemaren. Karena memang itu adalah jalur satu satunya untuk kesekolah.


Lalu mereka berangkat bersama dan mereka berjalan sambil bercanda tawa dan menghirup udara segar pagi hari. Tetapi, tanpa sadar mereka sampai disekolah pukul 07:00 karena ke asikan bercanda di jalan sehingga menghambat waktunya.


Mereka panik lalu bergegas berlari menerobos gerbang yang sedang ditutup lalu mereka berlari kembali menuju kelas yang dilantai 2, dan berusaha sekuat tenaga saat melewati tangga. Namun ternyata, tenaga mereka sudah habis saat melewati tangga itu, dan Bel pun berbunyi menandakan waktunya pelajaran pertama akan dimulai.


Mereka berusaha berlari kembali dan sampai lah di Koridor dekat kelasnya. Kemudian, mereka berhenti sejenak untuk menenangkan jantung yang berdetak kencang dan nafas yang ngos-ngosan.


Setelah berdiam sebentar, mereka melanjutkan lagi untuk ke kelas, saat didekat kelasnya mereka mencoba mengendap ngendap dan mengintip jendela apakah sudah ada guru yang datang atau belum, ternyata di kelas mereka hanya terisi siswa siswinya saja belum ada seorang guru disana. Lalu mereka mengehela napas nya karena tenang saat gurunya belum datang ke kelas.


"Fyuhhhhh Allhamdulilah pak Todi belum datang. Kalo ketauan dia kita telat Auto kena jewer dah." Ucap Rafi


"Iya untung aja masih sempat datang, eh iya Pak Todi siapa? " Tanya nita dengan nafas ngos ngosan.


"Guru paling killer disekolah ini. " Jawab Fahri.


"Ouh gitu"


"Iya Nit, eh Di jangan megang pundak gua berat tau" Ucap Fahri


"Dih siapa yang megang pundak lo. " Jawab Didi


"Ah pasti ini Rafi, fi lepasin tangan lo berat tau, gua lemes jangan di jadiin pegangan. " Tebak Fahri


"Bukan gua juga, gua gak megang pundak lo."


"Eh lo Adi, lepas tangan lo berat pundak gua, cengkraman tangan lo keras bet dah. "


"Bukan gua juga Fahri, gua gak megang pundak lo. " Jawab Adi


"Lah.. Terus siapa ini? . " Tanya Rafi dengan muka tegang.


"Saya." Suara yang berat dari belakang mereka.


Seketika mereka terkejut dengan suara itu, karena merea tau itu suara siapa, dan mereka mencoba balik badan dan ternyata yang memegang pundak Fahri adalah Pak Todi.


"Eh bapak. Hehe.. La-lagi ngapain disini pa? " Suara Fahri yang gugup


"Huha hehe huha heheh, ngapain kalian disini bukan nya masuk kelas malah diem di luar" Tegas Pak Todi


"Si-siap Pak"


"Terkecuali kamu Fahri, push up dulu 15 kali. " Tegas Pak Todi


"Loh kok saya aja Pak? "


"Salah sendiri kamu ngatain bapak killer, bapak kan baik. AYO CEPAT PUSH UP! "


Fahri pun melakukan push up karena tidak bisa menolak dan itu salah dia sendiri mengatai gurunya killer.


"Et dah ni mulut lemes amat, andai gua tadi gak ngomong gitu, gak bakal kena hukuman dah. Udah mah cape lari larian, ini malah kena hukum lagi, lemes besti lemes badan gua. " Batin Fahri.


"Udah cukup push up nya sana masuk kelas, jangan di ulangin lagi Fahri ingat itu! " Tegas Pak Todi


"I-iya Pak siap"


Pembelajaran pun dimulai dan mereka mengerjakan dan menyimak materi dengan penuh hikmat.


......BERSAMBUNG......