THE JURIG SCHOOL

THE JURIG SCHOOL
CHAPTER 5 - KEBOHONGAN



Ke esokan harinya.


Embun membasahi daun daun yang bergantungan, matahari bersinar dari timur dan udara segar mengnyelimuti.


Pukul menunjukkan 06:30 dan 8 anak semprul itu sudah standby disekolah padahal mereka biasanya datang saat mendekati jam masuk pelajaran. Mereka datang pagi ternyata memiliki tujuan tertentu, yaitu mereka ingin mencari seorang guru yang keluar dari sekolah saat malam hari kemarin. Disaat mereka mundar mandir melihat kesana kemari mencari guru itu, ternyata guru itu tiba tiba lewat dan akhirnya mereka langsung mengikuti guru tersebut secara diam diam.


"Ekh itu guru kemaren. " Bisik Putri


"Ayo ikutin gurunya. " Saut Adi dengan berbisik juga.


"Ish cepetan jalan nya keburu ketinggalan jejak nanti, apalagi ini sekolah luas banget, nanti susah harus nyari lagi. " Bisik Sisil


"Bentar dong, Sil" Saut Putri


"Emang buat apa kita ngikutin buguru?." Tanya Nita.


"ya buat cari tau dong, Nit." Bisik Adi.


"Kenapa gak nyamperin langsung?. " Tanya Nita lagi


"Bahaya. Nanti ketauan kalo semalem kita kesekolah, kita bisa kena marah besar. Sebenarnya dari dulu dilarang ada yang datang kesekolah saat malem malem. " Jawab Didi.


"Loh, kenapa lo baru bilang sekarang??" Samber Fahri


"Hehe, Baru inget soalnya. " Jawab Didi.


"Syuttttt, jangan berisik nanti ketauan kita ngikutin bu guru. " Samber Sisil.


"Ah, kita kehilangan jejak. Gimana ini? " Saut Putri


Mereka pun sempat kehilangan jejak guru itu dan mencoba mencari lagi, tetapi tiba tiba guru itu muncul lagi dan berjalan menuju ruangan.


"Ekh itu liat, ibu pergi masuk ruangan sana. " Ucap Lina sambil mengarahkan telunjuknya


"Ibu ngapain kesanaya? " Tanya Adi.


"Kita ikutin lagi, ayo. " Ajak Sisil.


Mereka pun mengikuti gurunya kembali lalu mencoba mengintip melalui celah pintu yang tak tertutup.


"Eh cuy pintu nya gak rapet. " Ucap Fahri.


"Kesempatan bagus, intip ibu lagi ngapain. " Bisik Sisil.


"Ibu kayak lagi ngomong sama orang deh, tapi orang nya gak keliatan, duh." Bisik Lina.


"Dengerin aja omongannya. " Bisik Adi.


Mereka pun mencoba mendengarkan guru itu. Namun, suara mereka tidak terdengar.


"Ibu bicara apa si? Gak kedengeran sumpah. " Bisik Rafi.


"Maju dikit coba biar kedengeran. " Ucap Putri.


Mereka pun berdesak desakan untuk mendengarkan omongan guru itu, tetapi mereka tak bisa mendengarnya entah harus bgaimana lagi agar suara gurunya terdengar.


"ih.. Sempit.. " Bisik Sisil dan mencoba menggerakan badannya yang terdesak itu.


"Aku kejepit nih.. Aduh.. " Bisik Nita kesakitan.


"Hey anak laki, geser dikit napa. " Bisik Lina.


"geseran dong kejepit nih, sempit. " Saut Putri.


"Yaudah kalian dibelakang biar laki yang deket pintu. " ucap Fahri.


"Heh! jangan kenceng kenceng. "


Saut Sisil.


"Ya maaf. "


"Eh, ibunya mau keluar cepet cepet sembunyi. " Ucap Fahri


Mereka pun berusaha mencari tempat bersembunyi, dan beruntung mereka tidak ketahuan bahwa mereka mengikutinya. Kemudian guru itu pergi ke arah tangga menuju lantai 3 dan menaiki tangganya.


"Eh itu ibu nya pergi. " Bisik Lina.


"Loh? ngapain ibu kesana? " tanya Sisil kebingungan.


"Biar gak penasaran kita ikutin lagi, ayo" Ucap Rafi


Mereka pun mengikuti guru itu sampai ke tangga lantai 3.


"Eh. . Ibunya berenti jalan sembunyi sembunyi.. " Bisik Rafi


"Ah udah. Jangan sembunyi lagi, rasa penasaran ingin bertanya ku bergejolak, udah jauh jauh ngikutin sampe lantai 3 yakali ngikutin doang gak nanya langsung." Ucap Sisil.


"Yakin sil?. " Tanya Fahri


"Yakin!" Jawab Sisil tegas walau bisik bisik.


"Ya udah ayo, kata Sisil ada benernya juga. " Bisik Putri.


Mereka pun langsung menghampiri guru itu.


"Permisi ibu.. " Ucap Sisil sambil menepuk pundak ibu itu.


Guru itu pun langsung berputar badan


"HAH, KALIAN NGAPAIN DISINI?. " Guru itu terkejut


"EKH IBU KUNAON REWAS." Ucap Rafi ikut terkejut juga .


"ih Rafi ngomong apasi gak jelas. " Ucap Putri


"Ya maaf, namanya juga kebawa kaget. " Jawab Rafi


"A-anu, kita minta maaf ngikutin ibu diem diem sampe kelantai 3 ini, ada sesuatu yang mau kita tanyain ke ibu. " Ucap Sisil.


"Fyuhhhh... Apa yang ingin kalian tanyakan sampai ngikutin saya kesini? " Tanya guru itu sambil menghela napas.


"Dih, malah aku. Kamu aja . " Saut Lina.


"Nita aja deh yang jelasin. " Ucap Sisil menatap Lina.


"Loh kok aku, kan kamu yang mau nanya tadi. " Ucap Nita


"Aish, kalian mau nanya apa? Jangan di lempar lempar gitu pertanyaannya. " Ucap guru


"Biar saya aja yang tanya. " Samber Putri


" Jadi gini, kita ingin bertanya tengtang sekolah ini dan lebih tepatnya lantai 3 ini. Saya ingin meminta penjelasan kepada ibu tengtang apa yang terjadi dulu di sekolah ini, sampai lantai 3 ini tidak ada satupun orang yang berani naik kesini. Lalu, kenapa bisa ibu keluar dari sekolah saat malam hari kemarin? . " Jelas tanya Putri


Guru terkejut dengan pertanyaan Putri dibagian akhir, mengapa mereka tau hal itu.


"Dari mana kalian tau saya keluar dari sekolah saat malam hari kemarin?. "


"Kemarin kita kesekolah (Mereka menjelaskan kejadian malam hari kemarin). Seperti itulah ceritanya bu, jadi saya harap ibu tidak marah karena kami pergi kesini saat malam hari. " Sisil mejelaskan


"Ouh seperti itu. Memang, dari dulu sekolah ini melarang siapapun untuk memasuki area sekolah saat malam hari dan jika melanggarnya maka akan terjadi hal sesuatu yang takan terduga, bahkan bisa saja tidak bisa kembali kerumah. Kalian harus bersyukur bisa keluar dari sekolah itu saat malam hari." Ucap Sang guru.


"Baiklah, kami memang salah karena sudah datang kesekolah ini saat malam hari. Tetapi, tolong ibu jawab pertanyaan kami tengtang sejarah sekolah ini dan hal apa yang terjadi disini, lalu jelaskan juga mengapa ibu keluar saat malam hari itu. "


"Oke.. Saya jelaskan. Untuk yang pertama, yang keluar dari sekolah saat malam hari itu bukan saya melainkan itu adalah orang tua saya yang pernah mengajar disini. Namun, dia sudah tiada dan orang orang asing yang kalian lihat disana adalah murid murid orang tua saya, mereka memang sering bergentayangan disaat waktu tertentu maka itulah sebab nya dilarang siapapun kesana saat malam hari. " Ucap sang guru sambil menundukan kepalanya saat menyebut kata orang tuanya.


"Pantas saja, mukanya mirip sekali dengan ibu, bahkan kami kira itu adalah ibu. " Ucap Sisil.


"Ya muka kami memang mirif sekali, saat ibu saya tiada saya berumur 15 tahun." Ucap sang guru dengan wajah sedihnya


"Maaf ibu, kami tidak bermaksud membuka masalalu ibu tapi kami hanya ingin tahu saja siapa yang keluar saat malam hari itu. " Ucap Fahri.


"Tidak apa, nak. "


"Lalu tengtang sekolah ini bagaimana bu?. " Tanya Adi.


"Waktu dulu setelah 2 tahun sekolah ini di bangun walau dulu sekolah ini tidak begitu besar seperti sekarang, ada tragedi memilukan yang membuat sekolah ini berlumuran darah. "


"Berlumuran darah.? " Tanya Sisil.


"Tragedi Komunis  bu?. " Samber Adi


"Benar, sekolah ini di bangun saat masa PKI. "


"Wah lumayan lama juga ya. " Ucap Adi


"Udah tua juga sekolah ini. " Saut Fahri


"ih meni garandeng. " Samber Rafi


"Ngomong pake bahasa planet mana lagi tu?. " Tanya Nita


"Berisik maksudnya Nit. " Jawab Rafi.


"Udah jangan ngobrol terus, lanjut lagi bu. " Ucap Adi


Sang guru pun langsung melanjutkan pembicaraan nya.


"Saat jam pelajaran di mulai, awalnya semua baik baik saja. Tetapi, tiba tiba munculah suara kaca pecah , suara teriakan dimana dan suara dor dar dari senjata yang keras dan ternyata para PKI datang kemari dan mengacak mengacak sekolah, lalu mereka naik kelantai 3 dan para murid murid disini tidak bisa melarikan diri seperti murid murid yang di lantai 2 dan 1. Murid murid lantai 1 dan 2 masih beruntung mereka bisa kabur dari sekolah untuk menghindari para PKI itu, walau ujung nya mereka tewas juga. Tetapi tidak memakan korban banyak seperti di lantai 3 ini, murid murid yang di lantai 3 tidak bisa lari kemana dan mereka semua dibantai habis habisan olah para PKI itu. Dulu sekolah ini sempat ditutup sampai para PKI itu musnah dan kembali dibuka untuk direnovasi dan gunakan kembali, kejadian itu tidak ada satupun yang tau selain para pendahulu kami, dan kami merahasiakan soal ini. "


"Ikh sadis. " Ucap Sisil.


"Tapi kenapa ibu merahasiakan soal ini?. " Tanya Putri.


"Iya kami sengaja merahasiakan itu, agar citra sekolah ini tetap di pandang baik. " Jawab bu Guru.


"Baiklah, kita juga akan merahasiakan soal ini. " Saut Fahri


"Lalu, ibu kenapa sekarang ibu mau kelantai 3? " Tanya Putri.


"Ah itu, ibu mau ngambil ember sama lap pel karena tadi ibu gak sengaja numpahin air di ruangan kepsek, hehe. Karena lantai 3 sekarang terbengkalai dan dilarang siapapun untuk kesini jadi lantai 3 ini di jadiin gudang oleh pihak sekolah." Ucap bu guru sembari berbalik badan hendak menaiki anak tangga untuk menuju ke lantai 3.


"bagaimana bisa tempat yang berpenunggu dan angker gitu dijadikan gudang?, kalau begitu semua orang seharusnya bebas aja dong buat keluar masuk lantai 3 itu, sama seperti ibu guru." Pertanyaan ini terucap dari mulut Didi yang sontak membuat teman-temannya berfikir akan apa yang baru saja diucapkannya.


Bu guru kembali berbalik badan untuk menjawab pertanyaan dari Didi, "yah itu bisa aja terjadi, tapi kami pihak sekolah mempunyai alasan lainnya kenapa lantai 3 itu dijadikan gudang, supaya orang-orang tidak curiga dan tidak menanyakan kenapa lantai 3 ini tidak dipakai sebagai ruang kelas. Lagian akses kesini itu sangat ketat, tidak sembarang orang dapat masuk. Ingat yah, Didi kamu jangan melakukan apapun yang dapat membawa malapetaka untuk sekolah ini dan teman-teman kamu!".


Mendengar ucapan dari guru tersebut yang lainnya langsung memandang Didi dengan tatapan bingung.


"Maksud ibu ngomong gitu, apa bu?" tanya Fahri.


Tidak hanya Fahri tapi kawan-kawan yang lainnya juga merasa kebingungan dengan apa yang diucapkan oleh bu guru tersebut. Belum terjawab pertanyaan dari fahri pertanyaan lainnya pun bermunculan.


" Ada hubungan apa Didi dengan malapetaka?" Tanya Sisil


“hal apa yang bisa dilakuin seorang Didi anak yang penakut, untuk mendatangkan petaka yang di maksud ibu?” Tanya Rafi


"Bu guru ini kayaknya cuman bercanda deh, kalian serius amat sih. Hahahaha." Saut Didi yang mencoba memecah kebingungaan teman-temannya.


"udah cukup kamu bohongin temen-temen kamu Didi, ibu tau kalau kamu ini indigo. Kamu juga punya maksud buat berkomunikasi sama hantu-hantu disini kan?, apa kamu ga mikirin hal itu bakalan bawa malapetaka buat sekolah ini dan kita semua!". Ucap bu Guru yang mencoba membeberkan rahasia dari Didi.


Teman-teman sangat terkejut mendengarnya, mereka tadinya tidak percaya begitu saja dengan apa yang diucapkan bu guru namun ternyata hal tersebut di benarkan oleh Didi sendiri.


"Yah aku memang indigo, tapi aku ga seperti apa yang ibu guru omongin, dia bohong, dia ngelakuin ini untuk nutupin kebohongannya sendiri!, kalian harus percaya!" ucap Didi dengan suara lantang yang membuat teman-temannya kaget dan tidak percaya


Teman-temannya Didi merasa kecewa, karena Didi tidak pernah terbuka akan hal itu. Terlepas dari benar atau tidaknya hal yang dibicarakan bu guru, teman-teman mulai tidak menyukai Didi.


Seakan belum puas bu guru juga membeberkan, bahwa Nita juga sama seperti Didi [indigo]. Teman-teman makin kaget bukan main mereka sangat kecewa kenapa Didi dan Nita menutupi semua hal itu. Tidak adanya pembelaan dari Nita membuat teman-temannya berfikir bahwa apa yang dikatakan ibu guru itu, kemungkinan besar adalah kebenaran. 


"Wait... kenapa ibu bisa tahu semua hal ini, yang mana kita aja temennya ga tahu." Tanya fahri yang membuat semua orang menatap bu guru dengan tatapan penuh selidik.


"Aura kalian sangat mencolok." Tak banyak bicara lagi, bu guru pun pergi menaiki tangga menuju lantai 3.


Didi kembali meyakinkan teman-temannya kalau dia tidak seperti yang apa dikatakan oleh bu guru tadi. Tetapi teman-teman yang terlanjur kecewa tidak mau mendengarkan perkataan Didi. Sejak saat ini Didi dan Nita dijauhi oleh teman-teman yang lain. Bu guru juga, sejak saat itu tidak pernah mengajar di kelas mereka lgi. Merasa ini tidak akan berjalan dengan baik, Didi mengajak Nita untuk mencari bukti-bukti kebohongan bu guru.


...-----...


...Bersambung...


...-----...