
Semua barang-barangku sudah siap, tinggal menunggu pagi untuk besok aku berangkat ke Amerika mengenyam pendidikan ku disana. Di sekolah Mafia agar aku dapat tumbuh menjadi seorang mafia yang hebat.
Sembari menunggu rasa kantuk itu tiba ku putuskan untuk membaca buku-buku tentang dunia hitam. Aku sudah membaca buku itu setengahnya dalam beberapa hari terakhir.
Tok tok tok. Suara ketukan pintu itu dapat menghentikan ku yang tengah asik membaca buku.
"Masuklah" ucapku
Aku masih melanjutkan membaca bukuku, tak melihat siapa yang datang ke kamarku. Karena buku ini terlalu asik untuk aku sekedar menghentikan membaca.
"Yuri"
Aku segera menoleh dan betapa kagetnya aku disaat orang yang di hadapanku adalah Leo, aku segera berdiri dan menatap Leo.
"Maaf aku tidak memperhatikanmu Leo"
Leo terkekeh. "Duduklah, hari ini aku bukan gurumu anggaplah aku sebagai kawanmu" ucap Leo
Aku duduk bersama Leo, kenapa Leo tiba-tiba datang ke kamarku. Dan kenapa dia bilang untuk hari ini aku boleh menganggapnya sebagai kawanku. Ada apa dengan Leo ?.
"Leo, ada apa tidak biasanya kau menyuruhku menganggapmu sebagai kawanku ?"
"Kau akan segera berangkat ke sekolah mafiamu Yuri, aku hanya ingin memberitahumu sesuatu"
"Katankanlah Leo"
"Sejak aku di perintahkan tuan Agra untuk mengawasi gadis kecil berusia 10 tahun saat 5 tahun lalu entah kenapa memori kenanganku yang telah aku kubur susah payah kembali bangkit"
"Tunggu Leo, kenangan apa yang kau maksud dan siapa gadis kecil itu ?"
Leo menatapku sejenak. "Anak kecil itu kau Yuri dan kenangan yang aku bicarakan adalah disaat aku memikili putri seusiamu saat itu tapi dia harus gugur karena lawanku sendiri"
Aku tersentak. Leo menceritakan dengab suara yang bergetar seakan semuanya begitu menyakitkan hatinya. Aku tahu Leo kuat tapi ternyata dia Rapuh.
"Kenapa, apa yang terjadi Leo?" Ucapky khawatir
"Disaat keluarga Agra menguasai beberapa kota di negara asia, banyak yang tidak suka akan kemajuan keluarga kita. Mereka mencoba terus-terusan menjatuhkan keluarga kita, meneror dan menghancurkan tapi ingat kita adalah keluarga mafia yang hebat sepanjang masa seberat apapun musuhnya semuanya tetap takluk di tangan kita" ucap Leo
Aku masih memperhatikan Leo, matanya begitu berkaca-kaca aku tau tidak mudah menceritakan hal yang sudah dia ikhlaskan bertahun-tahun yang lalu.
"Lalu, kenapa putrimu bisa gugur ?"
"Disaat aku di perintahkan tuan Agra menguasi salah satu kota di negara China ada satu keluarga yang masih tidak terima dengan kekalahan yang mereka dapatkan. Mereka begitu pengecut karena mereka menyerang istri dan anakku disaat aku tidak ada disana. Mereka menyimpan gas beracun di dalam rumahku dan aku tidak tau akan hal itu dan saat aku kembali ke rumah anak dan istriku telah pergi meninggalkanku selamanya" ucap Leo dengan suara yang begitu gemetar.
Leo meneteskan air matanya, ini memang begitu membuatnya terpukul.
"Lalu apa yang kau lakukan dengan orang-orang yang sudah membunuh anak dan istrimu ?"
Leo menatapku dengan air mata yang mengalir di wajahnya. "Tak lama setelah itu 2 jam setelah kepergian mereka aku langsung menghabisi mereka dengan semua pasukan yang di berikan oleh ayahmu sudah ku pastikan semua keturunan keluarga itu sudah ku habisi secara brutal"ucap Leo dengan kemarahan yang kembali terpancar di dalam matanya.
Aku masih meneteskan air mata begitupun Leo, dunia ini benar-benar kejam rela saling bunuh demi kekuasaan tapi itulah prinsipnya.
"Apa kau merasa puas setelah melakukan itu Leo ?"
"Aku tidak pernah merasa puas Yuri, mau beribu-ribu nyawa pun ku habisi anak dan istriku tidak akan pernah kembali hidup"
"Kau boleh menganggapku sebagai putrimu Leo, aku sangat tidak keberatan"
Leo juga membalas pelukanku, dia mengusap-ngusap rambutku dengan lembut seperti yang dia peluk adalah mendiang putrinya.
"Terimakasih Yuri"
Aku melepaskan pelukan dan menatap Leo. Baru pertama kali aku menyaksikan seorang panglima setia keluarga Agra menangis di hadapanku.
Aku tersenyum ke arah Leo. "Putrimu ini besok akan pergi mengenyam pendidikan mafia di amerika ayah Leo"
Leo terkekeh. "Panggil saja aku Leo, aku tidak mau melihat ayahmu cemburu jika kau memanggilku dengan sebutan ayah Leo"
Aku tertawa bersama Leo. Mungkin ini adalah terakhir kebersamaan kita, aku akan mengenyam pendidikan selama 3 tahun disana.
Leo meninggalkan kamarku, dan aku juga segera tertidur karena besok adalah hari keberangkatanku. Dimana aku tidak akan bertemu lagi Rafka, Leo, ayah, ibu dan semoga orang-orang hebat yang berada di sini.
...|||...
Aku membawa koperku keluar dari kamar, ayah sudah menungguku di parkiran. Kali ini Ayah, Leo dan supir spibadi keluarga Agra yang akan mengantarkanku hingga bandara.
"Kau sudah siap ?" Tanya ayah.
"Aku selalu siap ayah"
Kami melesat pergi menuju ke Bandara milik keluarga kami sendiri. Selama di mobil aku hanya menghabiskam waktu untuk membaca buku karena ayah masih saja sibuk menatap laptopnya.
"Jika ayah sibuk kenapa ayah masih menyempatkan waktu untuk mengantarku ?"
"Aku ingin memastikanmu jika kau akan baik-baik saja dan bisa menjalankan sekolahmu dengan baik"ucap Ayah dengan santai.
Aku mengangguk. Ayah Agra benar-benar mafia yang paling baik menurutku. Dia memperlakukanku dengan sangat baik, bahkan tak pernah membedakan aku dengan Rafka yang jelas anak kandungnya sendiri.
Setibanya di bandara, kita langsung menaiki pesawat yang sudah berada disana. Tidak aku sangka keluarga Agra memiliki segalanya, wajar saja jika ayab terobsesi untuk terus melebarkan sayap kekuasaannya.
Ku penjamkan mata selama di perjalanan. Ini kali pertamanya aku menaiki pesawat. Rasanya aku takut, terlebih aku takut akan ketinggian jadi aku hanya bisa memejamkan mata melewati setiap pemandangan yang begitu indah.
"Kenapa kau terus menatap matamu ? Lihatlah ada banyak pemandangan indah yang kau lewatkan"ayah menegurku.
Aku membuka mataku. "Aku takut akan ketinggian dan ini kali pertama aku naik pesawat"
"Kau ini sekarang takut akan ketinggian waktu itu takut akan kehilangan. Sekolah mafia memang benar-benar harus mengajarmu lebih keras lagi sampai kau lupa akan rasa takutmu terhadap apapun" ucap ayah membari sedikit terkekeh.
"Kau benar tuan, sekolah mafia memang cocok untuk gadis manja sepertinya"timbal leo
Aku menunduk. Semuanya menertawakanku, aku baru 1 bulan berada di keluarga ini wajar saja jika aku belum bisa beradaptasi dengan baik terlebih hatiku ini begitu lembut.
Pemandanganya memang begitu indah tapi rasanya hatiku tidak tenang karena rasa takut itu sudah sepenuhnya menguasai diriku. Dan jalan terbaik adalah tertidur.
...The Dark Side Of The World ...
haii terimakasih sudah klik cerita ini ikutin terus ya. jangan lupa like dan komen nya agar aku dapat terus semangat menulis ceritanya
see you