
Pagi ini adalah pagi yang berbeda. Zaira bangun dengan tubuh lebih segar. Dia berhasil menghindar dari suaminya dengan tidur di kamar yang berbeda.
Sejak pulang dari honeymoon yang di atur kedua orang tua dan mertuanya. Mace dan Zaira meminta untuk tinggal di rumah yang sudah Mace beli sebulan sebelum pernikahan nya. Karena mereka tinggal berdua di rumah itu. Zaira jelas langsung memilih untuk tidur terpisah dari suaminya.
Mace? tentunya dia tidak menerima hal itu dengan mudah. Pria itu menolak usul Zaira untuk pisah kamar. tentunya hal itu tidak bisa membuatnya bebas untuk bisa melakukan apa saja pada istrinya.
Katakan saja dia brengsek. Karena sejak tiga hari tidur di kamar dan kasur yang sama dengan istrinya. Mace jadi terbiasa dengan aroma istrinya yang menenangkan.
Tapi Zaira yang pada dasarnya masih ingin membatasi hatinya supaya sang suami tidak mengetahui perasaannya selama ini tentu tidak akan mengalah. Dia tidak mau semakin jatuh ke dalam pesona suaminya. Meskipun Mace sering sekali berbuat mesum padanya. Zaira tidak pernah menolak di dalam hatinya. Dia tahu jika mereka sah melakukan semua itu dengan status mereka sekarang. Tapi tentunya Zaira tahu Hati Mace bukan dirinya. Jadi Zaira hanya bisa menahannya.
"Masak apa kamu pagi ini?" Suara Mace yang berat dan seksi mengejutkan Zaira yang sejak tadi sibuk di depan kompor.
"Bisa gak jangan ngagetin kalau muncul? udah kayak setan." Sembur Zaira tak menjawab pertanyaan suaminya.
Muka Mace langsung berubah kesal. Ada ada saja istrinya ini. Setiap hari pasti ada saja hal yang membuat mereka bertengkar.
"Kamu bisa lebih manis gak sih? Kita ini suami istri. Setiap hari selalu nyari ribut terus."
Zaira memutar bola matanya. "Kalau kamu tidak menjengkelkan. Aku juga gak akan seperti ini."
"Aku tidak melakukan apapun juga kamu pasti akan mengamuk. Kayaknya kamu itu sensi terus sama aku."
"Berkacalah Mace kalau kamu bicara itu. Aku bukan orang gila yang akan mengamuk jika tidak di ganggu. Buktinya aku dan kakak mu tidak pernah bertengkar. Bahkan dengan Andre dan Teo. Aku tidak pernah bertengkar dengan mereka." Zaira menyebut beberapa nama laki-laki yang dekat dengannya.
"Berhenti menyebut nama laki-laki lain dengan mulut mu, Zaira. Kalau tidak akan aku habiskan bibir indah mu itu." Ancam Mace yang langsung membuat Zaira menutup mulutnya.
"Apasih! Kenapa kamu selalu berbuat seenaknya! memangnya aku cewek murahan!"
"Kamu istriku! Wajar aku mencium istriku! Ada yang salah!" Tantang Mace.
Jadi Zaira masih tidak menerima pernikahan ini?
"Jadi maksud kamu pernikahan ini salah? Kamu ingin menyalahkan orang tua kita? Begitu Zaira?"
"Jika bisa. Aku juga ingin menolak."
"Lalu kamu lebih memilih Kendra? Iya?"
"..." Gak nyambung! Dasar Mace bodoh!
"Jawab aku, Za! Kamu lebih memilih Kendra yang jadi suami mu? Iya?!" Mace menarik tangan Zaira hingga menghadap ke arahnya.
"Kenapa? kamu cemburu kalau aku ingin lebih memilih menikah dengan Kendra?" Tantang Zaira ketika tatapannya bertemu dengan Mace.
Mace yang seolah tersadar dengan pertanyaan istrinya kini melepaskan pegangan tangan istrinya.
"Hahaha... lucu sekali pertanyaan mu! Tentu saja tidak. Kamu pikir aku bisa memiliki perasaan itu? Jangan lupa jika aku adalah seorang Casanova. Aku tidak pernah mengurusi perasaan remeh seperti itu."
Bodoh! Terus aja begitu Mace. Sampai nanti perasaan ini hilang. Aku sudah biasa sakit hati dengan penolakan kamu secara tidak langsung ini.
"Baguslah. Karena jika memang pernikahan ini tidak bertahan lama. Aku bisa meminta Kendra untuk menggantikan mu menjadi suamiku. Karena aku tidak akan pernah mau hidup sendiri dan kesepian. Karena wajah dan usia mu akan berubah dan bertambah setiap saat. Teruslah bersikap seperti itu. Jadi aku tidak akan merasa bersalah mengakhiri pernikahan ini." Ucapan Zaira membuat Mace terpaku. Karena tidak ada jawaban dari suaminya. Zaira segera menyelesaikan masakannya. Meletakkannya di meja makan dan menyiapkan peralatan makan untuk suaminya yang masih mematung.
"Makan. Kamu bisa sendiri kan? Kehadiran ku gak akan kamu butuhkan. Jadi, aku langsung pamit untuk bekerja." Setelah itu, Zaira langsung meninggalkan Mace sendirian di dalam kesunyian yang diam-diam muncul di hati pria tampan itu.
...***...