The Altar's Vow

The Altar's Vow
Part 4



"Gila! Dasar laki-laki gila! Berani-beraninya dia mencium ku lagi!" Zaira menghapus bekas Mace yang masih tertinggal di bibirnya dengan kasar. Lipstiknya sudah hilang karena Mace begitu memaksanya.


Menatap punggung Mace dengan tajam. Zaira mengumpati pria yang sialnya sudah menjadi suaminya beberapa jam yang lalu dengan penuh amarah.


"Kenapa bisa aku menyukai kamu dari dulu? Seharusnya perasaan ini tidak ada. Sial! Aku harus terjebak dengan perasaan dan status sialan ini! Ada apa dengan hidup ku! Kenapa aku jadi sial!" Zaira menendang gaunnya dengan kasar untuk melampiaskan emosinya.


"Argh! Gila! Kenapa situasinya jadi semakin rumit!" Memikirkan semua kejadian ini entah kenapa membuat kepala Zaira semakin panas. Dia tidak memilih cara ini untuk mendapatkan Mace. Bahkan sama sekali tidak terpikirkan di kepala Zaira bisa menikah dengan seorang Mace. Meskipun sudah menyukai Mace lebih dari lima belas tahun. Zaira tidak pernah menyangka akan bisa menikah dengan Mace.


Melihat sepak terjang Mace dengan banyak wanita. Membuat Zaira tak percaya diri jika Mace mau dengannya. Bahkan pria itu setelah semakin dewasa. Begitu menjaga jarak dengan Zaira. Melihat Zaira yang terlalu kaku dan tidak bisa bersosialisasi dengan baik. Membuat Mace mencari teman lain. Itulah yang membuat keduanya sedikit berjarak setelah menginjak usia dewasa.


Meskipun dulu keduanya sangat akrab. Mace seolah menjaga jarak dari Zaira. Dan Zaira tahu itu sejak lama. Mace bahkan pernah membahas dirinya didepan teman-temannya. Meskipun Mace tidak menjelekkannya secara langsung. Tapi, melihat Mace diam saja waktu Zaira dijelekkan bahkan dipermalukan. Membuat Zaira sadar diri jika Mace memang sangat jijik padanya.


"Kita lihat saja Mace. Kamu atau aku yang akan menyerah dalam hubungan ini. Aku pastikan kamu akan menyesal memperlakukan ku seperti ini." Zaira memilih pergi menuju ruangan istirahat dimana orang tuanya sedang berada sekarang. Tidak terlalu peduli lagi dengan pesta pernikahannya sendiri. Toh pengantin prianya juga sedang sibuk dengan beberapa perempuan liar di luar sana yang seolah sengaja menggoda suaminya. Zaira memilih untuk tidak peduli. Terserah Mace saja mau bertingkah seperti apa. Zaira sudah kebal akan tingkah Mace yang sering membuatnya sakit hati.


...^^^...


Kedua orang tua Mace yang baru saja kembali dari ruangan istirahat. Melihat anaknya sedang asik berbicara dengan perempuan liar yang pakaiannya kurang bahan. Kedua menggeleng tidak habis pikir. Anaknya ini tidak pernah berubah. Tingkah lakunya selalu membuat keduanya malu di hadapan orang tua Zaira.


"Mace!" Teriakan Adira, ibu Mace membuat pria itu terkejut. Tapi, wajahnya kembali seperti semula seolah tidak terjadi apa-apa.


"Apasih ma! Kenapa teriak-teriak didepan tamu ku." Balas Mace santai.


Kemarahan Adira meradang. "Kamu gila! Ini acara pernikahan kamu! Dimana otak mu! Kenapa kamu justru disini dengan para wanita kurang bahan ini!" Adira menatap sinis tamu undangan Mace yang seolah sengaja datang menggoda anaknya.


"Kalian! Apa tidak tahu adab! Ini acara pernikahan! Bukan club malam!" Tegur Adira dengan wajah memerah penuh amarah. Para wanita itu terlihat biasa saja. Tidak ada rasa takut sama sekali.


"Ma! Mereka tamu ku! Hak mereka mau pakai pakaian seperti apa." Bela Mace yang membuat para wanita itu tersenyum senang.


"Hak? Dimana otak kamu Mace! Mau taruh dimana muka mama dan papa di depan orang tua Zaira! Mereka akan marah kalau suami anaknya bertingkah murahan seperti ini."


"Oh ayolah! Toh mereka sudah tau aku bagaimana. Bukan masalah lagi."


Adira geleng-geleng kepala melihat tingkah anaknya yang otaknya setengah ini.


Oh astaga! Apa dosaku sampai mendapat anak seperti ini.


"Mama tidak peduli! Sekarang kamu cari Zaira! Jangan membuat mama dan papa malu! Ini masih hari pernikahan mu. Jangan sampai kakek mu tahu tingkah lakumu seperti ini." Ancam Adira yang membuat Mace berdecak kesal.


Wanita itu merepotkan ku!


"Ma! kenapa tamuku diusir?"


Adira memilih bersikap bodo amat. "Terserah mama! Teman-teman mu itu mengganggu pemandangan mama! Dan merusak suasana!"


"Mama!" Amukan Mace terhenti begitu dia melihat ayahnya berjalan mendekat.


"Aku melihat sejak tadi kamu selalu membentak istriku, Mace! Apa kamu ingin aku buang kamu di tengah laut, huh!" Ancaman dengan nada santai itu membuat bulu kuduk Mace berdiri. Meskipun ayahnya mengatakan itu sambil tersenyum. Tapi Mace tahu jika ayahnya sedang menahan amarah.


"Aku tidak membentak mama. Ayah salah lihat!" Elak Mace.


"Apa kamu yakin? Karena aku tidak melihatnya seperti itu." Suami Adira yang bernama Daniel merangkul bahu istrinya dengan lembut. "Ada apa sayang? Apa dia membentak mu?" Daniel menatap Adira dengan lembut. Pria berumur itu tak pernah berkurang rasa cintanya pada sang istri.


"Aku mengusir teman-teman Mace yang datang kesini dengan baju yang kekurangan bahan, Pa. Tapi Mace malah memarahi ku." Adu Adira dengan sengaja. Wajah Mace sudah sangat pucat karena takut.


Daniel tersenyum kecil. "Kamu memarahi istri ku, Mace?"


"Enggak pa! Aku hanya menegur mama yang mengusir tamuku." Mace langsung mengetuk mulutnya karena merasa kata-katanya salah. Kalimatnya barusan justru membuat wajah ayahnya berubah.


"Maaf pa."


"Minta maaf pada istri ku! Jika aku tahu sekali lagi kamu membentak istriku! Aku hancurkan semua hobi mu! Dengar itu Mace!" Tekan ayahnya yang tidak pernah main-main dengan ancamannya.


"Maafkan aku, Ma. Aku salah karena sudah membentak mama. Aku tidak akan mengulanginya lagi." Mace mengacungkan kedua jari telunjuk dan jari tengahnya bersamaan hingga membentuk angkat dua. Hal yang sejak kecil dia lakukan ketika sedang membuat janji.


"Mama maafkan. Sekarang lebih baik kamu mencari istri mu. Tidak baik acara pernikahan tanpa ada pengantinnya." Wajah Mace terlihat tidak mau. Tapi begitu dia bertemu tatap dengan ayahnya. Mace tidak berani menolak.


"Jangan buat malu keluarga kita, Mace! Samuel adalah teman baik ku. Zaira sudah ku anggap sebagai putri ku. Jika aku tahu kamu menyakiti anak ku. Habis kamu di tangan ku!" Ancam Daniel yang membuat Mace menganggukkan kepalanya.


"Iya pa."


"Sekarang lebih baik kamu lakukan perintah mama mu. Jangan menghilang lagi!" Setelah mendengar mandat dari ayahnya. Mace segera pergi untuk mencari Zaira.


Sial! Awas saja kamu Zaira? Karena kamu semua ini jadi kacau! Lihat saja apa yang akan aku lakukan padamu nanti!" Dengan langkah kasar Mace menuju ruang tunggu dimana mertuanya dan Zaira berada saat ini.


...^^^...