
Mace melihat Zaira dan kedua orangtuanya yang sedang bercengkerama. Meski tidak menyukai ide pernikahan ini. Mace sejak kecil sudah menjadi teman dekat Zaira. Melihat Zaira bisa tersenyum lebar dan bercengkrama hangat dengan kedua orangtuanya membuat Mace sedikit bahagia. Sudah lama Mace tidak melihat Zaira tertawa begitu lebar. Apakah memang Zaira sudah berubah? Tapi kenapa hanya padanya? Sedangkan pada Kendra, Zaira masih bisa tertawa lebar. Padahal Mace adalah teman kecilnya. Mengingat itu, membuat Mace kesal. Setidaknya, meskipun tidak ada cinta dalam hubungan pernikahan ini. Zaira masih bisa berteman dengannya seperti dulu. Bercanda dan tertawa bersamanya. Tapi wanita itu justru malah semakin menjaga jarak dengannya. Mungkin Mace merasakan ini sejak dia duduk di bangku kuliah. Iya. Dia ingat. Zaira tidak lagi bersikap ramah dan impulsif ketika zaman mereka kuliah. Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa Zaira terkesan menjaga jarak darinya?
"Wanita itu! kenapa dia bisa tersenyum lebar seperti itu pada orang lain?" Mace masih memandang kegiatan Zaira dan kedua orangtuanya. Sampai-sampai dia tidak tahu jika Samuel kini melihatnya dan memanggilnya untuk datang mendekat.
"Kamu ingin menjemput Zaira?" Tanya Samuel dengan ramah. Meskipun dia tidak menyukai sifat playboy Mace. Samuel tidak akan begitu saja membenci suami anaknya ini. Belum sekarang. Setidaknya dia harus memastikan anaknya bisa bahagia hidup bersama Mace. Jika Mace sampai menyakiti Zaira. Samuel jelas tidak akan tinggal diam.
"Iya pa. Soalnya beberapa tamu ada yang ingin berpamitan." Balas Mace dengan santai.
"Baiklah. Kamu bisa kembali sayang." Pinta Samuel pada anaknya. "Lebih baik kamu jangan memakai sepatu ini dulu. Gaun mu bisa menutupi sandal ini. Kaki mu masih sakit. Orang-orang tidak akan sadar juga kalau kamu pakai sandal." Saran Samuel begitu dia melihat anaknya ingin memakai kembali sepatunya.
Mace melihat ke arah kaki Zaira ketika ayah mertuanya mengatakan jika kaki wanita itu terluka. Kenapa dia tidak bilang jika kakinya terluka? Dasar gadis bodoh!
"Iya Pa. Kalau gitu aku kembali dulu ke depan. Papa dan mama jangan lupa juga menyusul. Kita akan photo keluarga sebentar lagi."
"Baiklah. Setelah ini papa dan mama akan kembali kesana."
"Ayo! berikan tangan mu." Mace memerintahkan Zaira untuk menggandeng tangannya. Hal ini untuk menutupi hubungan mereka yang palsu di depan kedua orang tua Zaira. Dengan sangat terpaksa Zaira membalas uluran tangan Mace.
Pria labil!
Mace membantu Zaira berdiri dan merapikan kembali gaunnya supaya sandal yang di pakai Zaira tidak terlihat. "Masih sakit kakinya?" Tanya Mace yang sedikit khawatir karena melihat Zaira yang meringis ketika dia berdiri tadi.
"Tidak lagi." Bohongnya. Mace hanya bisa tersenyum kecil. Ujung bibirnya sedikit naik. Wanita ini pandai sekali menutupi sesuatu. Mace cukup kagum padanya.
Hati, kenapa kamu begitu murahan sekali! Hanya melihat senyumnya saja sudah terpesona! Zaira meruntuki dirinya yang terkadang masih saja terbawa perasaan. Mace hanyalah pria yang penuh muslihat. Jangan pernah jatuh dalam pesonanya.
Tubuh Zaira mematung begitu Mace merangkul pinggang rampingnya. Sentuhan ini tidak baik untuk jantungnya. Tapi, demi membuat orang tuanya tidak khawatir dengan hubungan nya dan Mace. Zaira mengikuti saja akting suaminya ini.
"Terimakasih sayang. Kamu sangat baik." Ucapan tiba-tiba dari Zaira membuat kuping Mace memerah. Mace tidak menyangka akan mendapat ucapan lembut itu dari Zaira.
Boleh juga aktingnya! Baiklah. Kamu pasti tidak akan kaget jika aku melakukan hal yang lebih dari ini.
Karena ingin membuat akting ini makin sempurna. Baru beberapa langkah menjauhi orang tuanya. Mace kembali menarik pinggang Zaira dan mendekatkan tubuh Zaira ke arahnya. Muach!
Hingga satu kecupan hangat menempel di pipi Zaira yang kini mulai memerah. "Kamu sangat cantik istriku!" bisik Mace di kuping istrinya. Tak lupa juga dia meniup kuping Zaira dengan pelan. "Akting mu semakin baik saja."
Wajah yang semula memerah kini berubah datar. Zaira sempat terbawa suasana karena tingkah Mace. Dia selalu lupa siapa suaminya ini. Hingga mendengar kalimat Mace membuat Zaira sadar.
"Aku belajar dari mu, Suami ku!" Ledek Zaira yang juga berbisik di kuping Mace. Dia mencoba menggoda Mace seperti apa yang pria itu lakukan padanya tadi. "Akting mu cukup buruk hari ini." Senyuman mengejek Zaira berikan pada suaminya. Setelah membuat suaminya membeku karena terkejut. Zaira pergi meninggalkan Mace. Wanita itu berjalan dengan anggun didepannya seolah mengejek Mace karena pria itu tidak berhasil untuk menggodanya.
Dibalik punggung Zaira. Mace tersenyum penuh makna. "Boleh juga nyali mu, Ra. Kita lihat saja malam ini. Apa kamu bisa kabur dari ku atau tidak." Tak mau kalah dari istrinya. Mace berlari mengejar Zaira dan menarik pinggang istrinya sekali lagi untuk berjalan sampingan dengannya. Aksinya sempat membuat Zaira terkejut. Tapi, ketika para tamu undangan melihat keduanya keluar dari ruang istirahat. Pasangan suami istri itu bisa kembali tersenyum palsu kepada para tamunya. Akting yang sungguh luar biasa.
...^^^...