The Altar's Vow

The Altar's Vow
Part 3



Mace menarik tangan Zaira dengan kencang dan membawa ke suatu ruangan tertutup. Pria itu mendorong istrinya dengan kasar ke tembok.


"Apa maksud mu bermesraan dengan kakak ku di depan umum?" Tanya Mace dengan penuh emosi.


"Siapa yang bermesraan. Kamu buta, huh? Kendra hanya menemani ku makan." Balas Zaira tak kalah emosi. Lelah sekali selalu di tuduh dengan hal yang tidak pernah dia lakukan. Zaira selalu mengalah jika Mace melampiaskan amarah laki-laki itu padanya. Tapi tidak dengan menuduhnya seperti ini.


"Kamu! Apa karena sudah berhasil mendapatkan aku sebagai suami, kamu merasa begitu cantik, huh! Jika bukan karena kakek yang memaksa malam itu. Aku tidak sudi bersanding dengan mu hari ini." Kata Mace dengan sangat menyakitkan. Zaira tahu jika Mace selama ini tidak suka padanya. Tapi ini juga bukan ke mauan Zaira. Kakek Mace sendiri yang memaksa mereka untuk menikah.


"Kamu pikir aku terima begitu saja menikah dengan pria arogan seperti kamu ini? Jangan mimpi, Mace! Lebih baik aku menikahi Kendra yang baik hati. Bukan laki-laki pemarah dan arogan seperti mu!" Zaira tidak akan pernah membuat Mace menyadari perasaannya. Tidak akan!


Tapi disamping itu, Mace yang mendengar nama kakaknya disanjung begitu baik oleh Zaira justru semakin marah. Kenapa wanita ini yang sejak kecil berteman dengan justru lebih menyukai kakaknya. Memangnya apa kelebihan Kendra dari pada dirinya? Dia lebih banyak disukai wanita diluar sana dari pada Kendra. Kendra hanya anak pendiam yang tak suka didekati sembarangan orang. Hanya Zaira yang berhasil membuat seorang Kendra tertawa. Dan itu cukup menggangu Mace. Kenapa hanya Zaira.


Kini istrinya justru lebih memilih Kendra dari pada dirinya. Gila!


"Apa kamu bilang? Kendra lebih baik dari pada aku?" Tekan Mace yang kini semakin mendorong Zaira ke tembok. Kedua tangannya menyuling Zaira agar wanita itu tidak bisa pergi kemana-mana.


"Apa tiba-tiba kuping mu bermasalah, Mace?" Merasa terintimidasi, tapi Zaira tidak akan memperlihatkan wajah takutnya.


"Sepertinya kamu terlalu berani untuk menantang ku. Sekarang kamu istri ku. Bukan kah sekarang seluruh tubuh mu adalah hak ku." Ancam Mace dengan seringan kecil.


"Menyingkirlah Mace, aku ingin kembali ke pesta ku." Zaira mencoba lari dari situasi aneh ini. Dia tidak ingin sesuatu terjadi padanya. Mace tidak akan mendapatkan apa-apa dari Zaira tanpa ada rasa cinta dari Mace sendiri.


"Kenapa kabur? Aku tidak akan membiarkan mu kembali dan bertemu dengan Kendra lagi." Tekan Mace. Pria itu perlahan-lahan memajukan wajahnya. Hingga kini hidung keduanya bersentuhan.


"Kamu tidak boleh menolak jika suami mu sedang meminta hak nya, Zaira. Kamu harus tau itu." Tanpa aba-aba, Mace langsung menyambar bibir merah muda Zaira dan ********** dengan cepat. Tidak akan dia biarkan Zaira kembali berdekatan dengan Kendra tanpa memikirkannya. Sebut saja Mace egois. Tapi memang di dalam dunianya, seorang Mace tidak akan pernah kalah dari siapapun.


Mace semakin gencar mencium istrinya. Entah kenapa bibir Zaira terasa jauh lebih manis sejak saat tadi dia mencium wanita itu di altar. Mace bahkan memaksa Zaira untuk membalasnya. Kekakuan Zaira membuat sesuatu di hati Mace merasa tertantang. Pria itu kini bahkan menarik pinggang istrinya supaya lebih merapat padanya. Menarik tengkuk Zaira untuk lebih dalam lagi mengeksplorasi kepemilikannya. Mace semakin semangat.


Dia berhenti ketika merasa Zaira butuh pasokan oksigen. Zaira menarik nafasnya panjang setelah kegiatan panas itu. Kakinya lemas hingga butuh bantuan Mace untuk menyangganya.


Mace menahan tubuh Zaira yang akan jatuh dengan tangannya. pria itu belum menjauhkan tubuhnya sama sekali dari istrinya. Melihat betapa hebat aksi yang baru saja dibuatnya. Membuat sisi gelap Mace semakin terpacu.


"Masih ingin melawan lagi, istri ku? Jika memang kamu masih berani melawan. Jangan salah kan aku jika malam ini kamu akan pingsan karena kelelahan." Setelah mengatakan itu, Mace pergi meninggalkan Zaira sendirian.


Wajah Zaira yang memerah kini muncul. Wanita itu sejak tadi menahan diri untuk tidak bersikap berlebihan. Pria yang dia cintai, menciumnya dengan sangat luar biasa. Pikiran Zaira bahkan kosong saat ini. Ada rasa senang tapi ada juga rasa sedih. Entahlah. Zaira bahkan bingung dengan hatinya. Disatu sisi, dia senang karena ini adalah mimpinya dulu. Tapi, di sisi lain. Zaira merasa kecewa karena dia tidak tahu bagaimana perasaan Mace padanya. Apa Zaira hanya akan menjadi pelampiasan nafsu Mace saja?


...^^^...