
Menghabiskan waktu tiga malam tak membuat keadaan Zaira dan Mace berbeda sejak hari pertama mereka menginap. Bahkan keduanya justru selalu perang setiap malam. Ada saja ulah Mace yang membuat Zaira mengamuk. Dan Zaira tentu tidak akan membuat Mace bisa tidur tenang setelah membuat emosinya bergejolak. Keduanya seperti anjing dan kucing yang akan selalu bertengkar di setiap waktu.
Pagi ini, ketika akan check out dari hotel. Zaira kembali bertengkar dengan Mace karena pria itu tiba-tiba tidur disebelahnya dan mengambil kesempatan untuk melecehkannya. Mace tahu jika Zaira seperti orang mati ketika tidur. Zaira tidak akan bangun meski gempa bumi sekalipun. Karena tahu kebiasaan kecil Zaira itu. Mace mengambil keuntungan untuk bisa menghukum wanita yang selalu bisa membalas kata-katanya.
Dengan wajah masih penuh dengan emosi. Zaira berjalan di belakang Mace dan memilih untuk tidak mengeluarkan satu kata sekalipun.
"Kamu masih akan tetap diam?" Mace sedikit menengok ke belakang dimana Zaira yang tidak menghiraukan ucapannya sama sekali.
"Ya...Ya... lakukan terus seperti itu sampai rumah mama. Biar mereka tahu kalau pernikahan ini adalah pernikahan palsu." Ucap Mace dengan penuh kesal. Zaira dan diamnya sungguh mengganggu suasana hati Mace. Dia lebih memilih Zaira yang terus melawannya dari pada mendiamkannya seperti ini.
Ting!
Bunyi pintu lift yang terbuka membawa keduanya memasuki kotak berjalan itu. Zaira memilih berdiri dipojokan dan menjauhi suaminya. Sedangkan pria itu justru terlihat semakin kesal.
"Zaira! Bicara! Kamu akan terus diam seperti ini sampai rumah, huh!"
"..."
"Ck! sepertinya kamu selalu bisa menantang ku. Kamu tau aku orang yang tidak sabaran. Apa kamu yakin akan terus begini." Desak Mace yang kini sudah membalikkan tubuhnya menghadap istirnya. Tidak ada hari tanpa pertengkaran selama hidup Mace dan Zaira. Pasti akan ada selalu perang mulut di setiap momen.
"Aku lebih suka mulut mu yang selalu membalas ku. Tapi, jika mulutmu tertutup seperti ini. Maka jangan salahkan aku kalau aku akan membukanya dengan paksa." Setelah mengatakan kalimat penuh ancaman itu. Zaira tentu langsung menatap Mace dengan raut terkejut.
apa yang pria ini mau?
Zaira sudah akan memasang ancang-ancang untuk menghindar jika Mace berbuat macam-macam padanya. Tapi sepertinya gerakan Mace yang lincah tidak di perkirakan oleh Zaira. Sampai dia kini berada dalam rengkuhan suaminya.
Di depannya, Mace menatap Zaira dengan wajah menantang. "Jangan salahkan aku jika aku melakukan sesuatu yang tidak kamu sukai. Karena ini semua salah mu sendiri yang tidak ingin membuka mulut."
Setelah itu, dengan penuh paksaan, Mace ******* habis bibir istrinya yang entah sejak kapan sudah menjadi candu. Mace mengakui, meskipun Zaira kaku dalam berciuman. Tapi sensasi yang didapat Mace ketika mencium bibir Zaira seolah membuatnya mabuk. Rasa minuman yang biasanya dia sukai. Kalah oleh bibir istrinya yang kaku ini. Tapi, tentunya Mace tidak akan mengakui segampang itu pada Zaira. Bisa besar kepala wanita yang sudah menjadi istrinya ini nanti.
Zaira yang masih terkejut dengan aksi Mace tak dapat menghindar dengan mudah. Mace mengunci pergerakannya. Bahkan pria itu kini mendorongnya hingga menyentuh dinding lift. Mace terus ******* habis bibirnya hingga Zaira merasa kekurangan oksigen. Tangannya yang sejak tadi tergantung kini memukul tubuh suaminya.
"Enghhh.. Ma....Mace!" Zaira mencoba menjauh dari Mace tapi tekanan yang diberikan Mace padanya tidak bisa dilepas Zaira begitu saja.
Sialan kamu, Mace. Kalau begini terus, gimana caranya aku bisa menghilangkan perasaan sialan ini!
...***...