
"Saya Mace Joshiah Ambrose, dengan senantiasa akan menjaga, merawat dan mencintai mu, Zaira Kailani dengan sepenuh hati dalam sehat dan sakit, kaya dan miskin, muda atau tua. I do."
"Ms. Zaira, maukah kamu menerima Mace Joshiah Ambrose sebagai suamimu?"
Zaira menatap pria yang sudah dicintainya diam-diam selama lebih dari lima belas tahun lamanya dengan tatapan kosong. Kenapa kami bisa berada di situasi ini? kakinya bahkan tidak bisa melangkah pergi.
"Ms. Zaira?" panggilan pendeta untuk yang kesekian kalinya membuat Zaira tersadar dari lamunan. Tatapan mata pria itu tanpa sengaja menatap kearahnya dengan tajam.
"I do." Jawab Zaira tanpa sadar.
Oh tuhan! Aku tidak sadar baru saja menyetujui menikah dengannya! Kini aku jadi istrinya? Bisakah seseorang menampar ku?
"Baiklah. kini aku tetapkan kalian sebagai pasangan suami istri. Mr. Ambrose, anda boleh mencium pasangan anda." Kata pendeta itu yang membuat Zaira semakin gugup.
Dia tidak akan sungguh-sungguh mencium ku kan?
Tatapan mata Zaira terpaku. Ketika wajah pria yang sudah dia sukai diam-diam kini semakin mendekat. Tanpa sadar Zaira mulai menutup matanya.
Oh ayolah! ini adalah ciuman pertama ku! Dan lagipula, pria ini adalah cinta pertama ku selama lima belas tahun, for God damn sake! kuatkan lah aku!
"Bernafaslah! Lagipula aku tidak akan sungguh-sungguh mencium mu!" Suara beratnya yang terkesan dingin membuat Zaira terluka tanpa sadar. Benar, ini hanyalah pernikahan yang secara tidak sengaja terjadi. Dan sudah jelas pria ini tidak akan menerimanya dengan baik. Apa yang bisa diharapkan dalam hubungan ini?
Kini kedua mata Zaira terbuka. Dia menatap mata laki-laki yang sudah menjadi suaminya dengan berani. Dia tahu jika mata itu sudah membuatnya terpana selama lima belas tahun. Tapi mulut pedasnya memang harus segera dibalas. Pria itu tidak boleh tahu jika Zaira memiliki perasaan padanya. Jika dua tau, sudah jelas pria itu akan semakin mengolok-oloknya.
"Bersikaplah santai. Kamu terlalu terlihat mengharapkan ciuman dariku." ucapnya lagi seolah terdengar mengejek Zaira. Jika bisa dibayangkan, kepala Zaira rasanya sudah panas. Ingin sekali dia membenturkan kepala pria itu dengan kepalanya sekuat mungkin. Sayangnya, saat ini mereka sedang di tonton banyak orang. Terlebih orang tuanya.
"Bisakah kamu percepat saja? aku tidak ingin ada di situasi ini lebih lama." Balas Zaira tak kalah ketus.
Zaira melihat kedua alis Mace yang terlihat naik ke atas. Dia pikir aku takut padanya? huh! jangan mimpi!
Ada senyuman kecil di sudut bibir Mace yang tak terlihat Zaira. Hingga kini tangannya mulai menarik wajah Zaira untuk lebih dekat dengan nya.
Sial, nafasnya terlalu dekat dengan ku! Tapi aku tidak boleh takut. dia tidak akan menci...
"Aku yakin kamu akan mimpi indah setelah mendapatkan ciuman dariku." Ucap Mace dengan santai setelah berhasil mencuri ciuman pertama milik Zaira.
Kedua mata Zaira membola. "Kamu bilang kamu tidak akan..."
"Mencium mu?" Balasnya yang membuat kepala Zaira mengangguk. "Aku hanya ingin membuat orang-orang itu percaya jika aku bersungguh-sungguh di atas altar ini."
Sial! dia mengerjai ku?
"Tapi sepertinya kamu menyukainya? Apa aku harus memberikan mu lagi agar kamu senang?" tantangnya dengan mata genit.
"Kamu berharap!" Balas Zaira sengit. Zaira menatapnya dengan penuh kesal. Meskipun dia mencintai Mace selama lima belas tahun, dia tidak akan pernah rela memberikan ciuman pertamanya pada pria itu. Pria yang tidak mungkin mencintai nya kembali.
"Tersenyumlah!" perintah nya. "Kedua orang tuamu terlihat bahagia. Jangan membuat mereka sedih." Mace menarik pinggul Zaira dengan sedikit paksaan.
Sial! Kenapa situasinya jadi serumit ini!
...°°°...