The Altar's Vow

The Altar's Vow
Part 7



Acara pernikahan antara Mace dan Zaira pun berakhir tepat pukul sembilan malam. Orang tua keduanya kini juga sudah kembali ke kamar hotel masing-masing. Bahkan Kendra juga. Kini, hanya tinggal Zaira dan Mace yang masih berdiri di depan pintu kamar hotel mereka. Karena menunggu kesadaran Zaira dari lamunannya yang cukup lama. Mace tergerak untuk membuka pintu lebih dulu.


"Jangan jadi patung tiba-tiba! Kamu bisa di gosipin tamu hotel yang lewat." Celetukan Mace membuat Zaira tersadar. Wanita itu mendengus kesal mendengar ucapan pria yang kini sudah menjadi suaminya ini.


Kaki Zaira melangkah masuk kedalam kamar. Melihat dekorasi kamar yang di hias sedemikian rupa. Membuat bulu kuduk Zaira berdiri. Wanita itu bahkan menatap horor gaun malam yang seolah sengaja di pajang di atas kasur dengan begitu indahnya.


Sementara Mace, pria itu memilih untuk tidak memperdulikan hiasan kamar pengantin yang akan di tinggalinya untuk beberapa hari kedepan. Dia bahkan dengan santainya merebahkan tubuhnya di atas kasur dan membuat beberapa dekorasi indah dan romantis itu hancur seketika.


Tatapan Mace kini mengarah ke wajah Zaira yang kembali terpaku. "Oy! Kalau kamu mau kita melakukannya malam ini. Sebaiknya jangan kasih pandangan seperti itu." Ucap Mace dengan santai.


Zaira hanya bisa mendengus kesal. Mace dan segala ucapan anehnya. Bukanlah hal baru untuk Zaira.


"Jangan pernah bermimpi tuan muda! Aku tidak akan semudah itu suka sama kamu!" Elak Zaira yang penuh kepalsuan.


Mace tersenyum kecil. Dia sedikit tertantang dengan segala pertahanan teman kecilnya ini. Sejak dulu, pesonanya tidak pernah kalah. Dan akan Mace buktikan jika Zaira tak lebih sama seperti wanita yang selama ini memujanya.


"Huh! Kita lihat saja nona manis. Kamu tidak akan bisa menghindari pesona ku."


Zaira memutar bola matanya. "Teruslah bermimpi!" Setelah mengatakan itu, Zaira memilih untuk membersihkan tubuhnya. Gaun dan make up yang melekat di tubuhnya ini sungguh membuatnya lelah.


"Jangan lupa bawa lingerie mu! Ini hadiah dari mama!" Teriak Mace dari luar kamar mandi yang tak di hiraukan Zaira.


Gila saja dia harus menggunakan baju itu disaat hubungannya dengan Mace seperti ini.


Dia tidak akan pernah membuat Mace merendahkan dirinya. Zaira akan membuat Mace yang jatuh dalam pesonanya. Itulah tujuan Zaira di awal pernikahannya ini. Dan dia tidak akan membuat siapapun tahu tujuannya itu. Termasuk kedua orangtuanya.


...^^^ ...


Pagi hari menyapa kedua pasangan yang kini sudah sah secara hukum dan agama sebagai suami dan istri. Jangan terlalu mengharapkan adanya sambutan mesra dan pelukan hangat dalam hubungan yang baru dibilang sebentar ini.


Kenyataannya, Mace kini justru terbangun dengan tubuh yang pegal-pegal karena semalaman harus terpaksa tidur di atas sofa yang kecil. Tubuh tingginya ternyata tidak cukup untuk ukuran sofa di hotel ini.


Sedangkan Zaira, wanita itu terbangun dengan wajah berseri-seri penuh senyuman hangat. Tenaganya yang kemarin terlalu terkuras. Seolah kembali lagi dan membuat tubuhnya sekarang terasa bugar.


"CK! wanita menyebalkan!" Gerutuan Mace yang kini menatapnya dengan wajah kesal tak sama sekali di hiraukan Zaira. Wanita itu justru tersenyum mengejek suaminya.


Semalam, adalah malam yang buruk untuk Mace. Ketika dirinya sudah tertidur lelap di atas kasur sambil menunggu Zaira selesai. mandi. Mace justru bukan bangun dengan cara yang baik. Pria itu terbangun dengan tubuh penuh rasa sakit akibat dorongan yang diberikan Zaira. Wanita itu seolah tidak merasa bersalah setelah mendorong Mace dari kasur. Tubuh besarnya menghantam lantai dengan cara tidak elit.


Ketika Mace ingin membalas perbuatan Zaira. Wanita itu justru mengancamnya dengan cara akan mengadukan tingkah Mace kepada sang ayah mertua dan kakek Mace. Jelas saja mendengar itu Mace tidak berani ambil tindakan lebih. Zaira memegang kartu AS nya. Dengan tak berperasaan Zaira menyuruh Mace untuk tidur di sofa atau kalau tidak. Zaira akan mengadukan Mace ke ayah mertuanya. Mace hanya bisa mengutuk Zaira sepanjang malam. Sampai dia kelelahan dan memilih tidur di atas sofa yang kecil itu.


Pagi ini, melihat wajah Zaira yang tersenyum mengejek. Membuat Mace kesal setengah mati. Lihat saja nanti. Wanita itu akan di kerjai balik.


Mace memilih tidak mau menanggapi ejekan Zaira. Dia lebih memilih untuk ke kamar mandi dan segera sarapan di restoran hotel. Paginya ini sudah sangat berantakan. Mungkin bertemu dengan beberapa teman wanitanya akan membuat mood Mace kembali baik.


...^^^...