The Altar's Vow

The Altar's Vow
Part 5



"Sayang." Panggilan Seri, ibunda Zaira begitu lembut menyambut anak kesayangannya. Dia melihat Zaira datang ke ruangan tempat istirahat mereka.


"Hai, ma, pa! Kalian udah makan?" Zaira langsung memeluk lengan ibunya dengan manja. Hal yang selalu dia lakukan. Ayahnya, Samuel, mengusap kepalanya dengan penuh kasih sayang.


"Kami sudah makan. Kamu kenapa datang kesini? Kalian adalah pasangan raja dan ratu hari ini. Kenapa justru meninggalkan acara?" Tanya Samuel dengan sangat lembut.


"Aku sedikit lelah pa. Dan juga kaki ku sakit pakai sepatu hak tinggi ini. Jadi aku mau istirahat dulu." Zaira pun melihatkan kakinya yang sedikit lecet karena memakai sepatu hak tinggi berwarna putih dengan pernak-pernik permata di atasnya.


Samuel langsung membantu anaknya melepaskan sepatunya. "Mau papa ambilkan sendal saja? kaki mu luka begini." Samuel memanggil pelayan untuk membawakannya sandal, obat dan plester luka.


"Boleh?"


"Tentu sayang. Ini juga demi kenyamanan kamu." Sahut Seri. Wanita itu juga turut melihat luka di kaki putri kecilnya. "Kenapa kamu gak bilang mama sejak tadi? Lukanya tidak terlihat parah seperti ini." Seri membantu Zaira mengangkat gaunnya sedikit. Ketika obat datang, Samuel langsung membantu Zaira untuk mengobati kakinya.


Kedua orang tuanya sungguh sangat memanjakan Zaira. Anak perempuan mereka ini adalah harta berharga di keluarga kecil ini. Meskipun Zaira telah menikah. Samuel dan Seri tidak akan melepas putrinya begitu saja. Apalagi setelah mereka tahu bagaimana sifat dan tabiat Mace. Samuel adalah orang yang paling menentang pernikahan ini. Hanya saja, ayahnya begitu memaksa untuk menikahkan keduanya karena kejadian tak terduga beberapa malam sebelumnya.


Mau menolak pun, suara Samuel tidak akan di dengar oleh para tetuah itu. Dia hanya bisa pasrah. Tapi tentunya Mace tidak akan pernah dia lepaskan begitu saja dari pandangannya. Sepak terjang Mace membuat Samuel waspada. Dia tidak akan membiarkan Mace menyakiti hati anaknya.


"Terima kasih pa." Begitu Samuel selesai mengobati anaknya. Pria itu kini merapatkan anaknya supaya bisa bersandar padanya. "Anak papa ini ternyata sudah besar ya ma." Kata Samuel sambil tersenyum hangat pada istrinya.


"Iya pa. Mama juga gak nyangka ternyata sekarang anak mama sudah menjadi istri orang."


"Apa menurut papa aku bisa menjalani status ini?"


"Bisa. Kenapa kamu tidak bisa? Apa kamu meragukan diri kamu sendiri?" Tanya Samuel kembali.


"Aku tidak meragukan diri ku sendiri pa. Hanya saja, ini terlalu tiba-tiba. Aku belum siap jika ternyata harus menjadi istri secepat ini." Jelas Zaira yang mau tak mau jujur akan perasaannya.


"Kamu takut sayang?" Kini pertanyaan Seri membuat Zaira terpaku. Takut? apa mungkin?


"Apa Mace menyakiti mu?" Kembali Seri menanyakan hal yang membuatnya tidak bisa menjawab secara gamblang.


"Zaira." Hingga panggilan Samuel mengejutkannya. "Apa yang kamu takutkan? Kasih tau mama dan papa. Jangan pernah merasa takut untuk mengatakan perasaan mu sayang. Kalau kamu sakit, terluka, atau menderita. Mama dan papa akan selalu ada untuk kamu." Tambah Samuel.


"Aku hanya merasa jika semua ini terlalu cepat saja pa. Aku tidak takut. Dan Mace tidak menyakiti ku. Aku hanya takut pada diri ku sendiri karena hal ini sangat baru untuk ku." Zaira akhirnya berkilah supaya tidak membuat orang tuanya khawatir.


"Tidak akan terjadi apa-apa padamu. Selama kalian yakin dan saling bekerjasama untuk membuat hubungan pernikahan kalian berjalan. Tidak ada rumah tangga yang baik-baik saja. Pasti akan ada halangan dan rintangan. Kalian harus bisa menyelesaikannya berdua. Dengan pikiran dewasa dan tidak mementingkan ego masing-masing. Berkomunikasi lah dengan suami mu jika ada keluhan atau apapun itu. Karena jika kamu menyimpan sesuatu. Semakin lama, akan menjadi bumerang untuk hubungan kalian." Saran ibu Zaira itu dengan penuh ketulusan. Zaira mencoba tersenyum. Dia tahu orang tuanya sangat menyayanginya. Semoga saja dia tidak membuat keduanya kecewa di masa depan nanti.


"Terima kasih ma, pa. Tanpa kalian mungkin aku tidak akan sampai di posisi ini. Aku akan mencoba memberikan yang terbaik untuk kalian." Itu janji Zaira. Meskipun tidak memiliki keyakinan bahkan satu persen pun. Zaira hanya berharap yang sedikit hal baik akan terjadi. Setidaknya nol koma satu persen itu akan ada dalam hubungannya dan Mace nanti.


...^^^...