The Altar's Vow

The Altar's Vow
Part 2



"Selamat ya, Semoga kalian menjadi keluarga bahagia." Begitu acara pemberkatan selesai, Para tamu undangan dipersilahkan untuk menikmati hidangan. Begitu pun kedua pasangan pengantin ini. Baru saja mereka melangkahkan kakinya meninggalkan altar. Tiba-tiba ada seorang perempuan yang mendatangi mereka dengan pakaian seksi yang cukup terbuka.


Zaira terlihat tidak menunjukkan senyumannya. Tapi berbeda dengan Mace yang menyambut wanita itu dengan ramah.


"Terimakasih Hanna. Aku tidak menyangka kamu akan datang kesini." Mace membiarkan kedua pipinya diciumi oleh wanita dengan baju kurang bahan itu.


"Aku baru saja sampai. Sepertinya aku melewati pemberkatan mu. Jika saja aku datang lebih dulu.. kamu mungkin..."


Zaira yang sudah tahu maksud Hanna hanya bisa mencibir kecil. Sudah lelah mendengar wanita itu membual. Sudah jelas Hanna hanya akan memancing keributan. Zaira memilih pergi meninggalkan kedua pasangan itu.


Langkah kakinya mendekati meja yang sudah disediakan untuk tempatnya makan. Ketika makanan pembuka datang. Zaira langsung melahapnya dengan rakus. Di sela-sela kunyahannya. Zaira kembali memikirkan situasi yang sedang terjadi padanya saat ini.


Kenapa dia harus terjebak dengan status ini? Apa yang membuatnya harus menikahi pria yang sudah diam-diam dia cintai selama lebih lima belas tahun?


Zaira mematung. Kembali mengingat malam di mana yang membuat dirinya kini harus terjebak menjadi istri dari seorang Mace Joshiah Ambrose. Pria tampan yang sudah terkenal karena kekayaannya dan juga berasal dari keluarga konglomerat nomor lima di dunia.


Tuhan! aku tahu ini doaku supaya bisa menikah dengannya. Tapi bukan dengan situasi seperti ini.


Zaira kini mengacak makanannya. Lidahnya jadi tidak berselera. Melihat dari ujung matanya, Mace masih asik berbicara dengan Hanna. Bahkan pria itu seolah tidak peduli Zaira pergi meninggalkannya. Mereka baru saja disahkan sebagai suami istri. Tapi mengapa rasanya seperti orang asing.


Sadarlah Zaira! Dia memang menganggapmu orang asing.


"Hei! Apa yang membuat pengantin wanita yang cantik ini melamun di hari pernikahan nya?" Seseorang menepuk pundak Zaira dan menyadarkannya dari lamunan panjang.


"Hai, Ken! Ada apa?" Tanya Zaira tidak menjawab pertanyaan Kendra.


Kendra tersenyum tipis. Wanita didepannya ini adalah wanita yang ingin dijadikan istri olehnya. Tapi semuanya terlambat. Kendra harus melihatnya bahagia bersama saudaranya.


Kendra menarik kursi disebelah Zaira. Meskipun itu tempat milik Mace. Kendra tidak peduli. Adiknya itu bahkan kini sedang asik berbicara dengan wanita lain. Dia tidak akan membuat Zaira merasa sendirian di hari pernikahannya.


"Apa yang membuat mu melamun di hari bahagia ini, Za?" Tanya Kendra dengan lembut. Zaira hanya tersenyum samar. Dia merasa Kendra pasti mengasihaninya. Melihat Zaira sendiri di meja makan. Sedangkan suaminya sedang asik dengan wanita lain.


"Tidak ada, Ken. Aku hanya sedang menikmati makanan ini. Apa kamu sudah makan?" Zaira mengambil napkin dan mengelap mulutnya dengan pelan.


"Boleh saja." Kendra tersenyum senang karena sudah mendapat ijin. "Terimakasih. kalau begini aku bisa makan banyak." Ucapan Kendra membuat Zaira sedikit terhibur. Kendra pun memanggil pelayan untuk membawakan makanan padanya.


Keduanya asik berbincang tentang apapun. Hingga mereka tidak sadar jika beberapa orang mulai menatap aneh ke arah mereka. Terlebih, kini ada seorang pria yang menatap keduanya dengan wajah marah.


Mace yang sedang asik berbincang dengan Hanna sempat merasa terganggu dengan suara orang-orang yang berbisik-bisik kecil didekatnya. Dia seolah terpanggil ketika para tamu menyebutkan namanya dan Zaira sebagai topik pembicaraan. Karena ingin memastikan apa yang menjadi topik pembicaraan para tamu undangan. Mace mengarahkan tatapannya hingga dia menemukan sosok sang istri.


Wanita yang baru menjadi istrinya itu kini justru terlihat asik berbicara dengan kakaknya. Mereka bukan terlihat seperti seseorang yang sedang bertukar obrolan. Tapi lebih seperti pasangan suami istri yang sedang asik berbincang di hari bahagia mereka.


Sial! apa yang wanita itu lakukan!


Mace menatap tajam dua sosok itu. Kendra yang sadar di tatap tajam oleh Mace. Kini seolah menantang Mace. Dia tidak peduli Mace marah padanya. Tindakan Mace yang meninggalkan Zaira sendirian di hari pernikahannya sudah membuat Kendra marah. Kini biarkan pria itu merasakan bagaimana rasanya.


"Hanna, seperti nya aku harus pergi." Hanna melihat kemana arah tatapan Mace. Wanita itu mendengus kesal. Lihat saja kamu nanti, Zaira.


Mace berjalan dengan penuh emosi ke arah kursi nya dan Zaira. Wanita yang sudah menjadi istrinya itu tidak menyadari keberadaannya. Hanya Kendra yang melihat kedatangan Mace. Pria itu dengan sengaja menunjukkan pada Mace betapa dia lebih perhatian pada Zaira.


"Ada sesuatu di bibir mu." Kata Kendra dengan lembut. Zaira mengarahkan tangannya ke bibirnya. "Bukan disana. Tapi disini." Tangan Kendra kini menyentuh bibir lembut Zaira. Kendra sempat terpaku merasakan kelembutan bibir wanita yang dicintainya. Tapi semua tiba-tiba hilang karena kini Mace menghentakkan tangannya dengan kasar. Hingga membuat Kendra dan Zaira terkejut.


"Aku bisa membersihkan bibir wanita ku sendiri, Kakak!" tekan Mace seolah menyadarkan Kendra atas statusnya yang kini menjadi kakak ipar Zaira.


"Mace! Jangan kasar sama kakak mu." Bela Zaira yang justru semakin membuat Mace panas dingin.


"Diam! Kamu yang harusnya bersikap sopan dan menjaga harga diriku dengan tidak mendekati laki-laki lain." Balas Mace penuh emosi. Kata-katanya menyakiti Zaira. Apa pria itu tidak berkaca sebelum bicara?


"Jangan kasar dengan Zaira!" Kendra berniat menarik Zaira untuk berdiri disisinya. Tapi tangan Mace langsung dengan sigap menahannya. "Jangan sentuh istri ku! Kakak yang harus jaga sikap dan tidak menyetuh milik ku seenaknya!" Setelah mengatakan itu, Mace menarik Zaira pergi.


"Sial!" Kendra menatap Mace dengan wajah marah.


...°°°...