
Ku tempelkan keningku ke jendela yang dingin. Di luar sedang hujan deras. Rintik-rintiknya mengenai jendela kamarku di lantai dua.
Ku letakkan telapak tanganku di jendela membiarkan rasa dingin yang terasa di kulit. Sembari memikirkan banyak hal yang telah aku lalui selama ini.
Tiba-tiba aku teringat ucapan Galih tadi. Galih bertanya alasan mengapa aku menjauhinya. Apa kesalahan yang telah dilakukannya.
Aku tidak bisa memberitahu alasannya. Biarlah hanya aku yang tahu apa alasannya.
Lelah menanti yang tak kunjung mendapatkan jawaban. Dia melajukan motor kembali ke rumahnya. Tepatnya di seberang rumahku.
Aku menghela nafas jika mengingat kejadian tadi. Itu percakapan panjang pertama kami semenjak aku meminta dia untuk menjauhiku.
Aku pernah berpikir apakah aku terlalu egois. Apakah keputusanku salah? Banyak sekali pertanyaan yang berkeliaran di kepalaku. Tapi aku belum menemukan jawabannya.
Sudahlah besok saja aku memikirkan jawabannya. Sekarang tidur saja dulu, agar tetap kuat menjalani hari esok.
Sedangkan di rumah Galih, dia tidak bisa tidur. Galih berdiri diam di balkon kamarnya. Menatap lurus ke arah kamar Gadis. Dari balkon kamarnya ini dia dapat menatap kamar Gadis. Walaupun di sini dingin. Dia tetap berdiri memandang ke depan tidak bergeser menoleh ke kiri maupun ke kanan.
Dia melihat lampu kamar Gadis telah padam. 'Ternyata kamu sudah tidur ya Cha' gumam Galih pelan.
Sampai sekarang dia masih memikirkan apa yang membuat Gadis menjauhinya. Kesalahan apa yang telah dilakukannya sehingga Gadis berubah.
Tok tok tok
Pintu kamarnya di ketuk dari luar kemudian muncul seorang pemuda yang mukanya mirip dengan Galih namun beda usia.
"Ada apa Lang? Nggak biasanya lo masuk kamar gue" Tanya Galih menutup pintu balkon kamarnya dan berjalan menuju ranjangnya.
"Nggak ada apa-apa kok bang. Gue cuma pengen nanya sesuatu aja nih" Jawab Gilang
"Nanya apaan tuh?"
"Gue mau nanya pr gue nih nggak bisa jawab gue"
"Makanya belajar biar bisa jawab"
"Iya deh yang pintar bisa jawab semua pertanyaan"
"Nggak semua pertanyaan bisa gue jawab kok"
"Iya pertanyaan tentang mbak Gadis. Iya kan? Bener gue"
"Udah deh nggak usah sok tahu. Mana soal yang ngerti gue bantu jawab sini"
Galih membantu Gilang menjawab soal latihan yang diberikan oleh guru adiknya.
Tak terasa sudah satu jam Galih mengajari adiknya. Ketika Galih bertanya apakah sudah paham adiknya menjawab sudah. Maka dari itu Galih memberi soal untuk dikerjakannya untuk mengukur sejauh mana Gilang paham.
"Lang udah belum lama banget sih cuma satu soal juga" Tanya Galih
"Belum bang bentar lagi" jawab Gilang masih fokus.dengan bukunya.
"Sebenarnya lo paham nggak sih sama penjelasan gue tadi?" Tanya Galih mulai kesal.
"Paham bang" jawab Gilang
"Kok ngerjainnya lama banget? Kalau lo paham sebentar juga siap jawabnya." Galih mencoba menahan kesal kepada adiknya.
"Ya elah bang gue tuh bukan elo jawab soal cepet amat. Nih udah siap" Gilang menjawab dengan santai walaupun dia cukup kesal dengan abangnya ini.
"Coba dari tadi" ujar Galih.
"Jawabannya salah semua Lang. Ini yang kata lo paham?" geram Galih melihat jawaban Gilang yang salah semua.
"Masa salah? Lo salah meriksa kali bang. Gue tuh udah ngerjainnya sesuai yang lo bilang tau" Ucap Gilang lesu
"Jadi lo bilang gue nggak becus ngajarin Lo gitu?" Galih sewot mendengar jawaban Gilang
Gilang terdiam melihat abangnya "Kapan gue bilang gitu bang? Yang ada lo sendiri yang bilang gitu"
"Lo tuh kayak cewek lagi pms tau bang" gumamnya tapi hanya dalam hati takut abangnya tambah marah.
"Terserah lo deh sekarang mending lo tidur besok mau sekolah" usir Galih
Gilang masih terdiam di tempatnya, meneliti dimana letak kesalahannya.
"Ngapain lo masih di sini? Kan gue bilang balik ke kamar sana"
"Iya iya gue ke kamar. Emosian banget sih jadi orang. Pantas aja mbak Gadis nggak mau temenan lagi sama bang Galih. Orang galak gini" Omel Gilang sembari membereskan barang-barangnya dan berlari ke luar kamar abangnya sebelum ngamuk.
"Apa lo bilang? Berani lo ya" Galih mengejar Gilang sampai kamarnya namun keburu ditutup Gilang.
Di dalam kamarnya dia tertawa telah berhasil mengerjai Galih.
Di luar Galih yang sadar telah dikerjai oleh sang adik tertawa juga akhirnya "Awas ya Lang nanti gue balas lo?"
Gilang lega akhirnya abangnya telah tersenyum lagi tidak seperti tadi muram saja. Dari dalam kamar dia menjawab "Coba aja kalau abang bisa nanti gue laporin sama mama"
"Udah tidur sana udah malam awas aja besok kalau bangun telat."
Galih menuju ke kamarnya, mengistirahatkan tubuhnya yang lelah setelah seharian beraktivitas.
Di luar sana hujan masih turun dengan deras. Orang-orang mulai beranjak tidur. Malam yang biasanya masih ramai sekarang sepi tidak ada satu orang pun. Malam ini manusia lebih memilih untuk berdiam di dalam rumah. Berkumpul bersama keluarga, menikmati momen yang jarang terjadi walau tinggal serumah. Akibat dari aktivitas yang tiada henti.
Atau ada juga yang tidur lebih awal dari biasanya, mengistirahatkan tubuh yang lelah digunakan tanpa diistirahatkan. Tak apalah sekarang tidur lebih awal, anggap saja mengganti tidur yang kemarin kemarin sekaligus mengisi energi untuk menyambut hari esok yang sibuk lagi.
Pagi telah tiba, hari yang baru telah tiba. Setumpuk pekerjaan telah menanti di atas meja bagi para pekerja. Tugas dan pemahaman baru telah siap diberikan bagi siswa di sekolah. Hari yang sibuk telah dimulai.
Hujan sudah berhenti tadi subuh. Hujan malam tadi adalah anugerah bagi kota ini. Jarang sekali kota ini diguyur hujan selebat malam tadi.
Gadis tersenyum menghirup udara sejuk pagi ini. Bau tanah basah masih tercium di inderanya. Dia selalu suka udara yang sejuk ini. Andai bisa merasakannya setiap hari.
Gadis bersiap-siap untuk berangkat sekolah. Dia menuruni tangga perlahan-lahan menuju meja makan. Di sana sudah berkumpul papa, mama tiri, dan adik tirinya.
Gadis menyapa dengan ramah semua yang ada di meja makan. Yang dijawab dengan ramah oleh papa dan mama tirinya. Kecuali adik tirinya.
Setelah siap sarapan Gadis pamit berangkat sekolah. "pa, ma Acha pamit berangkat sekolah dulu ya"
"Hati-hati Cha belajar yang rajin" pesan papanya.
"Siap pa" balasnya sembari tertawa.
"Hati-hati sayang berangkatnya." pesan mama tirinya.
"Iya ma"
Acha pamit kepada adik tirinya yang dibalas anggukan saja.
Akhirnya Gadis berangkat dengan hati yang gembira pagi ini. Dia siap memulai hari ini.