Thanks For You

Thanks For You
KENANGAN 1



Sesampainya di gerbang sekolah Gadis dikejutkan oleh suara motor yang berhenti di depannya. Walaupun belum melihat siapa orangnya, Gadis tahu pasti dia Galih. Soalnya anak lain sudah lama pulang dari sekolah. Sedangkan hari ini tidak ada jadwal ekstrakurikuler.


"Naik" Satu kata yang menyebalkan bagi Gadis.


" Gue?" Tanyanya memastikan.


" Bukan, hantu.Ya iyalah siapa lagi memangnya kalau bukan lo?" jawabnya sewot.


" Oh gue ya." Balas Gadis datar.


" Buruan bentar lagi hujan nih." Desak Galih lagi.


" Ehh iya. Makasih deh gue dijemput nanti." Tolak Gadis halus.


" Serius Lo dijemput?" Tanya Galih tidak percaya.


Anggukan kepala Gadis sudah cukup sebagai jawaban dari pertanyaannya tadi. Walaupun Galih tahu Gadis bohong, dia tetap melajukan kendaraannya meninggalkan Gadis sendirian.


" Ya udah gue pergi dulu. Hati-hati lo di sini." Pamitnya.


Suara deru motor membuat Gadis menghela napas lega. Dia bohong kalau dia nanti dijemput. Dengan langkah pelan Gadis meninggalkan gerbang sekolahnya. Dia mengabaikan tatapan orang-orang yang menatapnya aneh.


Gadis sibuk dengan pikirannya sendiri, sibuk memikirkan mengapa semua ini terjadi padanya, menyalahkan takdir atas yang telah terjadi selama ini kepadanya. Tapi dia melupakan bahwa Tuhan sedang menguji dirinya. Dia sungguh melupakannya.


Tak lama tetes gerimis jatuh satu-persatu membasahi bumi yang kering. Tapi Gadis tidak perduli. Dia tetap melanjutkan jalannya. Berharap dia dapat menghilang dari dunia ini.


Tetes hujan semakin deras, memaksa sebagian orang untuk berteduh. Sementara sebagian lagi memilih melanjutkan perjalanan, walau harus rela basah kuyup.


Sebuah motor berhenti di depan Gadis, menarik dirinya berlari ke arah depan ruko tutup yang sepi. Gadis hanya diam tidak memberikan respon apapun. Sangat terlihat berbeda dengan dirinya yang di sekolah.


Seseorang memasangkan jaket ke tubuh Gadis.


" Kan gue pernah bilang jangan perduli sama gue lagi. Jangan pernah nolong gue lagi. Anggap aja lo nggak kenal sama gue." Lirihnya.


" Gimana caranya supaya gue nggak usah perduli lagi sama lo? Beritahu sama gue gimana caranya? Gue nggak bisa pura-pura nggak perduli, pura-pura nggak liat lo. Gue nggak bisa cha." Jawabnya pelan.


Acha adalah panggilan Galih untuk Gadis. Dulu mereka sangat dekat, saling berbagi suka dan duka. Sejak kejadian yang menyakitkan itu Gadis berusaha untuk menjauhi Galih, walau hatinya sakit. Gadis bisa apa.


" Jangan pernah melihat gue lagi Gal, dengan begitu lo nggak bakal ngelakuinnya. Anggap aja gue tuh batu yang menghalangi jalan lo. Iya batu yang perlu lo lewati aja." Jawab Gadis menahan sesak.


"Lo bodoh banget ya. Nggak pernah berubah dari dulu. Lo rela sakit kayak gini demi siapa sih?" Galih menanggapi ucapan Gadis dengan kesal


Dia kembali menarik Gadis dengan paksa. Karena hujan tinggal rintik-rintik kecil, membuat Galih kembali melanjutkan perjalanan.


Hujan kali ini kembali menorehkan luka di hati kedua insan itu. Luka yang tidak ada yang tahu apa obatnya.


Tidak ada yang tahu bahwa hati mereka menjerit sakit di atas kebahagiaan di wajah mereka, di atas senyuman mereka. Kadang hidup semenyedihkan itu bagi beberapa orang.


Galih hanya diam tidak lagi mencoba bicara. Dia merasa kosong sejak gadis itu memutuskan untuk pergi dari kehidupannya. Memutuskan tidak lagi perduli atas apa yang menimpa dirinya. Sejak saat itu Galih tidak pernah lagi bersungguh sungguh dalam berteman. Dia tidak terlalu mempercayai kata sahabat lagi. Dia benar-benar tidak mau terjerat dengan perasaan kehilangan lagi.


Bagi Gadis walau dia mengalami sakit di hatinya, dia tidak perduli asal orang yang dia sayang bahagia.


Sambil mengendarai motor Galih mengingat kenangan-kenangan yang mereka lalui dahulu.


"*Galih kita main ke taman yuk." Ajak seorang gadis kecil kepada seorang temannya.


" Ayok." Jawab bocah itu.


" Kamu nantang aku ya. Ayok siapa yang kalah, pulangnya gendong yang menang. Gimana setuju nggak?" Tawar bocah laki-laki.


" Ayok siapa takut." sambut gadis kecil itu.


Mereka mulai berlomba siapa yang duluan sampai di tujuan.


" Yeay aku menang kamu kalah." Ucap bocah laki-laki


" Yah aku kalah. Nggak apa-apa deh, yok kita main." gadis kecil itu kembali riang


Bocah laki-laki itu tersenyum melihat temannya. Dia berjanji tidak akan membuat gadis kecil ini menangis karena dirinya. Dia berjanji akan menjaga gadis ini.


" Acha pulang lagi yok. Sudah siang nih. Nanti kamu dicariin sama mama kamu." Ajak bocah laki-laki


" Yah padahal baru sebentar. Iya deh kita pulang. Tapi besok main lagi ya."


Tiba-tiba bocah laki-laki itu berjongkok di depan bocah perempuan. Yang membuatnya mengerutkan kening.


" Mengapa kamu jongkok Galih? Kamu sakit perut ya?" Tanyanya bingung bercampur panik.


" Ayo naik biar aku gendong kamu sampai rumah."


Gadis kecil ragu-ragu naik ke atas punggung bocah laki-laki itu.


Sampainya di rumah mereka tertawa bahagia. Berjanji besok kembali bermain. Dan mengucapkan sampai jumpa*.


Galih tersenyum mengingat masa kecilnya itu. Dia menghela napas, andai kejadian itu tidak pernah terjadi.


Sementara itu Gadis juga mengingat masa itu. Masa ketika dia mulai menjauhi Galih.


*Seorang gadis remaja menangis melihat tubuh ibunya yang sebentar lagi akan di kuburkan.


Setahun sejak kematian sang ibu, ayahnya membawa seorang wanita beserta seorang gadis remaja sepantaran dirinya. Ayahnya memberi tau bahwa ia membawa ibu dan saudara baru untuknya.


Gadis tersenyum menyambut mereka. Dia memberi salam namun saudara tirinya bahkan tidak menanggapi dirinya. Sang ibu memarahi anaknya karena sudah bertindak tidak sopan. Dengan ogah-ogahan gadis itu menyambut uluran tangannya. Dia memperkenalkan dirinya namanya Clara.


Sejak hari itu ayah dan calon ibunya itu sibuk menyiapkan acara pernikahan mereka. Sementara calon saudara tirinya, sejak hari itu Gadis belum melihatnya lagi.


Sebenarnya Gadis tidak rela ayahnya menikah lagi, tapi ayahnya bilang dia tidak bisa mengurus Gadis setiap hari, dia sibuk. Maka dengan adanya ibu ayahnya akan tenang meninggalkan Gadis di rumah. Gadis mengangguk patah-patah.


Dia tahu ayahnya mencemaskan dirinya. Jadi dia hanya berdoa semoga saja ibu tirinya tidak sekejam ibu tiri Cinderella. Semoga saja.


Pesta pernikahan itu berjalan meriah. Banyak tamu undangan yang datang. Galih juga datang.


Saat itulah kejadian itu terjadi. Saudara tiri Gadis terpesona melihat Galih pertama kali. Dia mencoba mendekati Galih, tapi Galih tidak menanggapinya.


Clara masih belum menyerah. Dia mencoba mendekati lagi dan lagi. Tapi respon Galih masih tetap sama.


Suatu hari Clara bertanya kenapa Galih selalu menolaknya. Jawaban Galih simpel hatinya sudah ada yang punya. Clara mendesak. Tapi Galih tidak memberitahunya.


Clara terus bertanya hingga membuat Galih muak. Akhirnya dia memberi tahu siapa orangnya.


Ketika mendengar jawaban Galih, Clara sangat kesal. Dengan nekadnya Clara mencium Galih. Galih yang terkejut mendorong Clara menjauh. Tanpa sepengetahuan mereka, Gadis melihat mereka. Dia berlari sejauh-jauhnya. Dadanya sangat sesak dia ingin marah tapi mengapa tidak tahu jawabannya. Akhirnya air matalah yang turun*.