
"Gadis, Keysha, Utari, Sarah. Kalian berempat maju ke depan sekarang", perintah bu guru Ningsih yang membuat keempat siswa tersebut terkejut.
Satu persatu maju ke depan kelas menuruti perintah guru mereka. Sesampainya di depan sang guru mereka saling sikut menyuruh salah satu untuk bicara. Bu Ningsih hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah keempat siswanya itu.
"Apa yang kalian bicarakan tadi sehingga kalian tidak mengetahui Ibu sudah ada di dalam kelas?", tanya Bu Ningsih.
Tapi diantara siswanya belum juga terdengar jawaban. Akhirnya Bu Ningsih kembali mengajukan pertanyaan yang ditujukan kepada Gadis.
"Gadis Ibu tanya, apa yang kalian obrolkan tadi?", tanya Bu Ningsih tegas kepada Gadis.
"Ehh i...itu buk anu buk tentang... tentang", jawab gadis terbata.
"Yang benar jawabnya gadis apa yang itu. Jelaskan yang benar", ucap Bu Ningsih.
"Aduh buk tadi Sarah curhat buk masa isi curhatan Sarah Gadis beri tahu kepada Ibu, nanti semua orang tahu dong rahasianya Sarah. Mending Ibu tanyakan langsung saja kepada yang bersangkutan", jelas Gadis.
"Benar Sarah kamu curhat kepada mereka tadi?", tanya Bu Ningsih kepada Sarah.
"Benar bu tadi Sarah curhat sama mereka", Sarah membenarkan pernyataan Bu Ningsih.
"Kalau begitu apa isi curhatan mu kepada mereka tadi Sarah?", tanya Bu Ningsih kembali.
"Ehh itu buk itu aduh masalah tentang", ragu Sarah menjawab pertanyaan Bu Ningsih. Masalahnya masa beri tahu sama Bu Ningsih Sarah bahas tentang kak Ferdi sih. Kan nggak mungkin ya mau ditaruh di mana muka Sarah.
"Tentang apa Sarah?", tanya Bu Ningsih.
"Kasih tau aja sar, daripada kita dihukum sama Bu Ningsih", bisik Tari.
"Iya sar kan lo tau kalau Bu Ningsih menghukum gimana", tambah gadis sambil berbisik.
Bu Ningsih sedikit kesal melihat siswanya berbisik-bisik. Bukannya menjawab pertanyaannya tadi malah berbisik. Soalnya jam pelajaran sudah terpakai setengah jam hanya untuk mengurus mereka.
Tiba-tiba Sarah dapat ide yang lebih baik daripada menceritakan curhatan dia tadi kepada Bu Ningsih.
"Itu buk tentang kakak saya yang suka sama Keysha buk", jawab Sarah.
"Kok jadi key sih Sarah?", bisik Keysha.
"Maaf ya key cuma itu yang terlintas dalam pikiran gue." batin Sarah
"Kok kamu tahu kalau kakak kamu suka sama Keysha?", tanya Bu Ningsih tak percaya pasalnya Sarah ini suka ngeles kalau ditanya.
"Ya iyalah saya tau buk, kan saya adeknya. Jadi kakak curhat malam tadi ke saya dia bilang suka sama teman saya yang namanya Keysha bu. Tapi dia bilang jangan bilang-bilang sama orangnya. Gitu buk ceritanya", jelas Sarah.
Bu Ningsih masih belum sepenuhnya percaya pada ucapan Sarah. Tapi dilihatnya mimik wajah siswanya itu serius sekali.
"Begitu ceritanya, benar Keysha begitu ceritanya?", tanyanya kepada Keysha.
"Iy... iya bu begitu ceritanya", jawab Keysha.
"Awas ya Sarah liat nanti key bakal siksa Sarah sampai Sarah minta ampun kalau perlu sampai Sarah cium kaki key" , batin key sambil cengengesan.
Bu Ningsih menghela nafasnya baiklah kali ini dia akan percaya dengan siswanya itu.
"Baiklah kali ini Ibu tidak akan menghukum kalian. Tapi jangan diulangi lagi ya. Silahkan kembali ke tempat duduk kalian masing-masing", putus Bu Ningsih.
"Baik Bu makasih Ibu cantik", kata Sarah.
Mereka berempat pun kembali ke tempat duduk mereka yang saling bersisian sambil menghela nafas lega.
"Huh kenapa mereka tidak dihukum saja sih?", ucap Siska kesal.
"Udahlah sis nggak usah ngurusin mereka deh entar yang ada lo lagi yang bakal kena hukum. Udah deh diam aja", balas Kania.
"Baiklah anak-anak kita mulai pelajaran kita. Sampai di mana kita Minggu kemarin?", Kata Bu Ningsih memulai pelajaran hari ini.
"Baiklah berarti hari ini kita akan membahas mengenai tumbuhan-tumbuhan langka di dunia. Sekarang buka buku kalian halaman 93", ucap Bu Ningsih.
Siswa di kelas mulai grasak grusuk membuka halaman yang diperintahkan oleh guru mereka tadi.
"Oh iya Ibu lupa, karena materi kita telah selesai 1 bab kita akan mengadakan ulangan harian minggu depan ya. Persiapkan diri kalian sebaik-baiknya", terang Bu Ningsih.
Sontak seluruh siswa di kelas bersorak kecewa. Soalnya kalau Bu Ningsih membuat soal ulangan susahnya minta ampun padahal hanya soal teori belum lagi kalau soal tentang rumus tambah pusing kepala ketika selesai ujian. Bisa-bisa keriting otak mengerjakan soal-soalnya.
"Yah buk ujian lagi aduhh", ujar salah satu siswa.
"Buk soalnya jangan susah-susah ya buk", tambah yang lainnya.
"Kan soalnya nggak susah cuma kalian tuh malas belajar makanya susah jadinya", ucap Bu Ningsih membalas seruan-seruan kecewa siswanya.
"Sudah-sudah kita mulai belajar lagi", suruh Bu Ningsih.
Seruan-seruan kecewa terpaksa berhenti karena pelajaran akan dimulai. Bu Ningsih mulai menerangkan materi yang dibahas hari ini. Dan semuanya menyimak dengan seksama materi yang diterangkan Bu Ningsih agar mengerti jika masuk ujian. Sekali-kali Bu Ningsih akan bertanya kepada siswanya jika ada yang belum mengerti dengan yang diterangkan.
Sementara di sekolah Gadis dan teman-temannya sedang belajar sedangkan nun jauh di sana sedang terjadi kehebohan yang ditimbulkan oleh salah satu siswa sekolah itu. Banyak kerusakan yang terjadi akibat peristiwa itu.
Kring Kring Kring
Telepon ruang kepala sekolah berdering
"Halo assalamu'alaikum", sapa kepala sekolah.
"Waalaikumsalam pak, ada yang ingin berbicara dengan bapak. Saya sambungkan ya pak?", ucap staf TU.
"Siapa ya Bu Mayang yang ingin bicara?", tanya kepala sekolah.
"Katanya dari Kapolres pak", jawab bu Mayang
"Baiklah Bu Mayang tolong sambungkan", balas kepala sekolah.
"Baiklah pak"
"Kira-kira ada apa ya Kapolres menelfon ku? Apakah ada masalah? batin kepala sekolah
"Halo assalamu'alaikum pak kepala sekolah", sapa orang di seberang sana.
"Waalaikumsalam dengan siapa saya bicara sekarang ya?", tanya kepala sekolah.
"Wah rupanya sudah lupa kau dengan ku ya. Mentang-mentang sudah jadi kepala sekolah sombong kau dengan ku sekarang", gurau orang di seberang yang katanya dari Kapolres itu.
Lama kepala sekolah yang bernama Helmi Yahya itu mengingat, tapi tak juga mengingat siapa nama orang yang diseberang sana.
Karena lelah mengingat tapi tak juga ingat akhirnya diputuskannya untuk bertanya langsung kepada yang bersangkutan.
"Siapakah ini saya sama sekali tidak ingat?", tanya kepala sekolah.
"Tak ingat rupanya kau Helmi. Aku ni teman kau si ceking Rahmad Hidayat", sebut pak Rahmad.
Tapi kepala sekolah tak ingat juga.
"Ahh sudahlah aku menelfon karena ingin memberi tahu sesuatu", ucap pak Rahmad.
💞💞💞
Sampai di sini dulu ya
Maaf kalau jelek 😀😀