
*Gadis bertanya tanya mengapa dia menangis. Memangnya Galih siapanya dia. Berkali-kali dia berkata Galih bukan siapa-siapa jadi tidak ada alasan dia untuk sakit hati. Tapi hatinya tidak bisa berkompromi.
Sejak kejadian itu Gadis mengurung dirinya di kamar. Keluar kamar jika pergi sekolah dan makan saja. Selain itu jika tidak penting dia tidak keluar kamar.
Kejadian itu sampai ke telinga sang ayah. Sang ayah mengetuk pintu kamar putrinya. Tok Tok Tok
"Siapa?" Tanya Gadis
" Ini papa nak."
Gadis bergegas turun dari ranjangnya dan membukakan pintu untuk ayahnya. Dia mengernyit bingung tumben ayahnya berkunjung ke kamarnya.
"Ada apa Pa. Tidak biasanya papa berkunjung ke kamar Acha." Tanyanya
Acha adalah panggilan Gadis sejak kecil. Hanya beberapa orang yang tahu nama panggilannya di rumah. Bahkan sahabatnya saja tidak ada yang tahu. Kecuali Galih.
"Papa dengar kamu nggak keluar-keluar dari kamar sudah seminggu ini, apa kamu ada masalah?" tanya ayahnya khawatir.
" Ehh pa masuk yuk nggak enak ngobrol di depan pintu kayak gini." Ajak Gadis
" Baiklah."
Setelah sang ayah masuk Gadis menutup pintu kamarnya.
" Dari mana papa tahu Acha nggak keluar dari kamar seminggu ini?" Tanya Gadis. Kan nggak mungkin ibu tirinya dan saudara tirinya memberitahu sang ayah.
" Bi Lis yang memberi tahu papa."
Bi Lilis pembantu rumah tangga yang sudah sejak ibu Lilis kecil mengabdi di keluarga ibunya. Waktu ibu Gadis - Ratna - menikah nenek Gadis meminta bi Lilis ikut membantu ibu Gadis. Jadi, Bu Lilis sudah dekat dengan Gadis begitu pun dengan Gadis. Dia berani curhat dengan bi Lilis yang tidak pernah dia ceritakan kepada orang tuanya*.
Apa yang harus aku katakan. Apa aku harus memberitahu yang sebenarnya? Tapi aku belum siap**.
"Tidak ada apa-apa pa. Cha hanya mau istirahat saja." Ucapnya menenangkan sang papa. Dia belum siap menceritakan kebenarannya kepada sang papa.
Hendri hanya menghela nafas. "Benarkah tidak apa-apa? Wajahmu pucat." Dia mengkhawatirkan putrinya
" Iya, Acha baik-baik saja pa. Acha hanya kelelahan." Ucapnya meyakinkan sang papa.
"Baiklah jika kamu belum siap untuk menceritakan kepada papa. Sekarang kamu istirahat jangan main hp dulu. Sini papa bacain dongeng." Hendri mencoba menerima bahwa putrinya tidak mau menceritakan masalahnya.
"Aku bukan anak-anak lagi pa. Aku tidak main hp lagi, aku langsung istirahat."
"Baiklah. Selamat tidur my princess. Kapanpun kamu siap bercerita, papa siap menjadi pendengarmu. Papa pergi dulu."
" Iya pa. Selamat tidur."
Pintu perlahan menutup. Hanya dia sendiri di sini. Dalam gelap dia terdiam, merenungi hidupnya. Gadis bertanya-tanya apakah dia akan seperti ini selamanya.
Gadis bertekad besok dia tidak akan mengurung dirinya lagi. Dia berfikir apa yang akan dilakukannya. Sudahlah lihat besok saja.
Gadis perlahan menutup matanya. Mengistirahatkan tubuhnya. Bersiap menjemput hari esok yang lebih baik.
Pagi harinya, Gadis telah siap dengan seragam sekolahnya. Dia telah siap memulai hari.
Gadis menghampiri meja makan. Disana sudah ada papanya, ibu tirinya, dan saudara tirinya.
Adalah bi Lis yang pertama melihat putri majikannya.
"Eh neng Acha sudah turun. Ayo sarapan dulu neng."
Semua orang di meja makan sontak menoleh, melihat Acha. Acha tersenyum menyapa semuanya. Yang dibalas papanya dengan gembira. Sedangkan ibu tiri dan saudara tirinya hanya membalas sekedarnya.
Gadis duduk di samping saudara tirinya. Memulai sarapannya tanpa banyak bicara. Dan berangkat sekolah diantar papanya. Sedangkan saudara tirinya naik mobil dengan sopir pribadi.
"Papa senang kamu udah keluar kamar lagi. Kamu udah ceria lagi." Ucap sang papa memulai percakapan ketika lampu merah.
"Iya" Balas Gadis singkat.
"Masih lama pa. Kan masih 1 tahun lagi" Balasnya
" Kan berencana nggak apa-apa sayang."
"Iya deh nanti Acha pikir-pikir lagi mau lanjut kemana."
Tak lama mobil sudah sampai di parkiran sekolah Gadis.
" Acha pamit sekolah pa." pamitnya
"Iya. Belajar yang benar ya."
Gadis berjalan perlahan menuju kelasnya.
"Hai. Selamat pagi." sapa seseorang, yang ternyata teman sekelasnya. Tepatnya teman sebangku Gadis. Keysha Dwi Putri.
"Hai. Selamat pagi juga." Balas Gadis tersenyum.
" Tumben Gadis datang pagi-pagi nih. Ada apa?" Tanya Keysha penasaran.
" Hmm ada apa ya?"
"Ihh Gadis nyebelin."
Gadis tertawa melihat temannya, "Nggak ada apa-apa kok key. Aku pengen berangkat pagi aja. Pengen berubah jadi lebih baik aja. Just it" Ucapnya pelan.
"Iya deh key percaya. Ayo kita ke kelas." Ucap Keysha tersenyum.
Keysha tahu temannya ada masalah. Tapi temannya itu belum siap untuk bercerita. Jadi Keysha tidak akan bertanya sekarang
Mereka bercanda hingga tempat duduk mereka.
Di ujung sana Galih memerhatikan Gadis yang kembali ceria. Dia lega Gadis tidak murung lagi. Walaupun Gadis ceria kembali bukan karena dirinya.
Ada keinginan untuk menghampiri Gadis, tapi coba ditahannya. Dia tidak ingin Gadis seperti kemarin lagi. Entah kenapa dia merasa Gadis murung karena dirinya. Dia yakin.
Bel istirahat telah berbunyi sejak tadi. Tapi Galih tidak berniat untuk pergi ke kantin. Aska sudah mengajaknya tadi. Tapi dia menolak. Dia tidak berselera makan sekarang.
Gadis masuk kelas, menuju tempat duduknya. Dia terkejut ketika melihat hanya Galih di dalam kelas. Dia mencoba menenangkan hatinya. "Lo bisa. Lo pasti bisa Gadis." Dia mencoba mensugesti dirinya.
Gadis menghampiri meja Galih. Dia berdehem ketika sampai di depan temannya itu. " Boleh bicara sebentar?"
Galih terkejut sekaligus senang mendapati Gadis ada di depannya. Tapi dia mencoba menutupinya. "Kenapa harus minta izin? Biasanya kan langsung ngomong aja."
"Mulai sekarang kita nggak usah dekat lagi ya. Gue nggak akan sering-sering main ke rumah lo. Dan lo nggak usah sering-sering main sama gue juga. Anggap aja lo nggak kenal sama gue. Anggap aja kita nggak pernah berteman. Nggak usah perduli sama gue lagi." Ucap Gadis panjang lebar.
Galih terdiam mendengar ucapan Gadis. Seseorang yang ada di pikirannya sebelum tidur. Orang yang selalu dia rindukan. Dan sekarang orang itu memintanya untuk pergi. Sakit. "Kenapa?" Satu kata itu yang mampu dia ucapkan.
" Kenapa gue harus jauhin lo? Kenapa gue harus pergi dari hidup lo? Kenapa Cha? Kenapa?" Kata-kata itu hanya bisa diucapkannya di dalam hati. Dia tidak sanggup mengucapkannya.
" Entahlah Gal. Gue juga nggak tahu. Maaf Gal."
Galih mendengus "Ok jika itu mau lo. Gue pergi Cha jangan panggil gue lagi kalau lo butuh apa-apa."
"Maaf Gal. Maafin gue."
Galih bangkit pergi ke luar kelas. Gadis diam menahan sesak. Dia tidak ingin menangis. Perlahan dia kembali ke tempat duduknya. Menunggu bel berbunyi.
Galih tidak masuk ke kelas sampai pulang sekolah.
Sejak saat itu Gadis dan Galih tidak saling bertegur sapa jika bertemu. Benar-benar seperti orang yang tidak saling kenal.
Awalnya Keysha bertanya tapi tidak mendapat tanggapan dari Gadis membuat dia tidak ingin lagi bertanya apapun hingga mereka lulus SMP dan masuk SMA yang sama.
Karena Keysha tahu jika Gadis ingin bercerita dia pasti bercerita. Jika dia tidak ingin maka dia tidak akan bercerita walaupun diancam di bunuh. Begitulah Gadis yang Keysha kenal.