
Tak dapat dipungkiri, sorot mata Lina memang menatap lurus ke arah layar lebar, namun pikirannya penuh. Ternyata kali ini dia salah memilih film, awalnya Lina memilih film itu karena sedang ramai diperbincangkan. Namun kini, menontonnya dengan suasana hati yang tidak baik, ternyata benar-benar memengaruhi cara pandangnya. Saat alur film mencapai puncak, Lina tanpa sadar menitikkan air matanya. Dia pun tak menyangka Barra akan mengusapnya, jadi Lina memang terkejut.
"Filmnya sedih." ujar Lina beralasan sambil mengusap pipinya yang sudah kering. Dia tahu Barra masih memandanginya, namun Lina memilih untuk tidak membalas tatapan pria itu. Karena semakin dia menatap Barra, rasanya dia ingin menangis sejadi-jadinya.
Acara menonton kini selesai setelah hampir dua jam mereka duduk menatap layar lebar. Popcorn berukuran besar itu masih tersisa setengah, jadi Barra membawanya ke mana-mana, padahal mereka juga tidak punya tujuan. Mau makan siang juga tidak, keduanya sudah kenyang dengan popcorn dan lagi tidak punya selera makan. Dari pada berputar mengelilingi mall sembari menenteng sisa popcorn, akhirnya mereka memutuskan untuk pulang saja. Namun, melihat Lina yang tampak bersedih, sebenarnya Barra enggan berpisah.
"Mau mampir gak?" tanya Barra.
"Ke mana?"
"Taman kota."
Lina tidak bereaksi saat mendengar ucapan Barra, dia juga tidak bisa menolak. Sejujurnya, Lina juga tidak ingin berpisah. Ada sesuatu dalam lubuk hatinya yang memberontak ingin ke luar, namun Lima tidak tahu harus mulai dari mana. Dia hanya merasa perlu berbicara dengan Barra, tapi entah bagaimana.
Hari itu, siang sudah hampir menjelang sore. Suasana Minggu terlihat jelas dari ramainya taman kota. Ada yang berolah raga, bersepeda, jalan-jalan, atau sekedar bercengkrama dengan keluarga. Barra dan Lina memilih jalan kaki mengitari taman kota, sembari mengingat kebersamaan mereka di sana, beberapa tahun lalu, saat mereka masih saling menatap sambil tersipu.
"Kamu udah lancar naik sepeda?" tanya Barra, yang mensejajarkan dengan langkah lamban Lina.
Wanita itu menggeleng, "Aku gak pernah naik sepeda lagi." ujarnya.
"Sama sekali? Setelah belajar naik sepeda sama aku?"
Lina kembali menggeleng. Wanita itu hanya menatap lurus ke dapan, tidak menoleh pada Barra sama sekali. Padahal pria itu sudah menoleh padanya, tiap kali wanita itu bersuara.
"Kalau gitu, mau naik sepeda lagi? Coba lihat, kamu ada perkembangan atau enggak."
Kali ini wanita itu terkekeh kecil, lalu mendongak menatap langit yang tampak membingungkan. Tidak biru, atau pun kelabu, hanya putih tanpa sinar matahari yang menyengat. Tidak terlalu dingin, hanya cuaca sejuk yang menenangkan. Kemudian wanita itu berkata, "Kayaknya mau hujan."
Barra ikut menatap langit, lalu menyangkal. "Enggak kok. Aku udah cek ramalan cuaca."
"Ramalan cuaca gak pernah tepat."
"Masa?"
Akhirnya wanita itu menatap pria di samping, yang ternyata juga sedang menatapnya. Lina menghentikan langkah sejenak, hingga Barra mengikuti. Dia menatap lurus ke arah manik indah Barra yang selalu memancarkan ketulusan. Raut wajah Lina datar. Seperti langit yang tak pasti, Lina menimbang perasaannya sendiri. Terkait kalimat yang terhenti di ujung lidah, haruskah dia luapkan saja? Lina mungkin tidak bisa menahannya lagi, atau yang terburuk, dia bisa kehilangan kesempatan. Sepertinya mereka sudah berjalan terlalu jauh dari kerumunan. Suasana yang sepi membuat pikiran Lina semakin berat.
"Mau duduk?" tanya Barra, seakan bisa membaca pikiran Lina.
Memilih pasrah, akhirnya Lina mengikuti Barra untuk duduk pada salah satu kursi panjang di dekat mereka. Hal itu membuat keduanya kembali mengingat masa lalu, di mana mereka duduk saling berdampingan pada kursi panjang yang mirip. Saat itu, setelah Lina terjatuh dari sepeda, Barra yang tampak sangat panik, barlarian mencari apotek. Lina ingat bagaimana raut wajah Barra saat itu, sehingga kini tanpa sadar dia tersenyum kecil tanpa suara.
Barra yang sejak tadi menatap Lina, menangkap senyum kecil wanita itu. Kemudian dia ikut tersenyum dan berkata, "Jadi ingat masa lalu gak sih?"
Lina tersenyum lagi, matanya memandang jauh ke depan.
Kemudian tanpa aba-aba, Barra meraih tangan kiri Lina untuk melihat telapak tangan wanita itu, membuat sang empunya tercekat saking kagetnya. Barra mengusap telapak tangan Lina yang dulu sepat luka karena jatuh dari sepeda. Pria itu mana peduli pada Lina yang sudah merasa jantungnya hampir meledak. Melihat Barra dari jarak sedekat itu, mengingatkannya pada masa lalu, saat Barra mengobati lukanya dengan sangat hati-hati dan penuh perhatian. Perasan itu muncul lagi, bagaimana ratusan kupu-kupu beterbangan diperutnya, gugup sampai waktu terasa berjalan sangat lambat. Lina tidak dapat berpaling dari Barra.
"Bekas lukanya hilang ya?" tanya Barra, masih menggenggam tangan Lina.
Lina segera menarik tangannya, tak mau membuat dadanya semakin nyeri saking gugupnya. "Udah lama banget. Gak mungkin gak hilang." ujarnya.
"Baguslah." Barra tersenyum, menatap Lina yang menunduk. "Gak ada luka lainnya, 'kan?" lanjutnya, bertanya.
Wanita itu sempat tercekat, mendengar pertanyaan pria di sampingnya. Entah apa maksud Barra bertanya seperti itu, tapi Lina merasa dia harus menggunakan kesempatan ini untuk bicara. Namun, lagi-lagi lidah Lina kelu, sampai dia harus membuat jeda panjang di antara mereka. Selama jeda tersebut, Barra bahkan tidak mengatakan sepatah kata pun. Pria itu hanya menatap Lina, menunggunya lebih dulu berbicara.
"Ada." suara Lina pelan, namun cukup untuk didengar Barra.
"Aku gak baik-baik aja, Bar."
Barra hanya menatap Lina dalam diam. Dia berusaha sekuat tenaga untuk tidak menarik wanita itu dalam pelukannya.
"Aku cuma menyibukkan diri. Ngelakuin apa aja yang bisa mengurangi rasa bersalah ku. Aku ke sana kemari, berusaha sibuk dengan diriku sendiri. Aku kira, aku udah baik-baik aja. Tapi balik ke sini, dan liat kamu lagi, rasanya duniaku berhenti. Pikiranku tiba-tiba kosong, sampai gak sadar jatuhin gelas yang ada ditanganku."
"Kamu mungkin gak tau, tapi aku lebih dulu liat kamu. Hari itu, kamu duduk sama ketiga temanmu, aku liat kamu." lanjut Lina.
Mendengar ucapan wanita itu, Barra lantas mengernyitkan dahinya, memikirkan kapan kira-kira hal itu terjadi.
"Cara kamu bicara, senyum, ketawa, semuanya masih sama seperti dulu. Dalam waktu yang singkat itu, aku jadi hilang akal. Mungkin kamu gak sadar, tapi orang yang buat keributan di restoran Jepang itu aku. Aku harus ganti rugi gelas yang pecah, cuma karena liat kamu lagi di depan mataku."
Saat itu, barulah Barra ingat saat dia dan rekan timnya makan malam bersama di sebuah restoran Jepang. Ternyata Barra tidak salah dengar. Suara yang terdengar akrab itu, ternyata memang benar milik Lina. Bodohnya Barra tidak menyadari itu selama ini.
Lina hany terkekeh kecil, kemudian kembali berbicara, "Dari sana aku tau, kalau aku gak baik-baik aja. Hatiku masih sakit waktu liat kamu. Entah senang atau apa, aku gak tau. Setengahnya aku ingin sekali lari ke arahmu, nyapa kamu, peluk kamu, apa pun. Setengahnya lagi, aku berharap hilang aja dari dunia. Aku gak bisa muncul di hadapanmu setelah apa yang aku perbuat di masa lalu."
Barra mulai merasa nyeri dari dalam dadanya. Firasatnya benar, Lina juga masih menyimpan rasa itu. Yang membuatnya sedih adalah, mengatahui bahwa Lina memendam semua perasaan itu sendirian. Membayangkan betapa beratnya hal itu bagi Lina, membuat Barra juga merasakan sakit yang sama. Tak dapat dipungkiri, sakitnya Lina adalah kehancuran bagi Barra.
"Semakin aku liat kamu, semakin aku benci diriku sendiri. Aku gak bisa lupa sama dosa-dosaku sama kamu. Aku merasa gak pantas buat kamu. Aku terlalu jahat buat kamu yang tulus. Aku tau, aku gak pantas buat kamu, Bar."
Kini pria yang hanya mendengar itu, mulai mengusap wajahnya gelisah. Dia sudah sangat berusaha menahan diri untuk tidak berhamburan memeluk Lina. Sementara itu, Lina mulai merasa matanya panas, pandangannya kabur oleh air mata yang menggenang. Nyeri di dadanya bahkan menyebar ke sekujur tubuh, hingga sedikit bergetar.
"Selama ini ternyata aku cuma pura-pura baik-baik aja, atau mungkin aku cuma mengabaikan perasaanku aja. Ternyata enggak. Luka itu masih ada. Aku belum sembuh. Aku gak baik-baik aja, Barra." di akhir kalimat, air mata Lina berhasil lolos dari pertahanannya.
Menyadari hal itu, Barra segera turun untuk berlutut di hadapan Lina, mencari sorot mata wanita itu. Tangannya mengusap air mata Lina, lalu menaikkan dagu wanita itu agar keduanya saling bertatapan. Namun wanita itu menjauh untuk menggeleng pelan, air matanya kembali tertahan.
"Aku gak pantas buat kamu, Barra. Aku udah jahat sama kamu." ujar Lina, suaranya bergetar.
Barra menggenggam kedua tangan Lina, matanya menatap lurus pada wanita itu dengan yakin. "Aku gak peduli Lina. Aku gak peduli sama masa lalumu, apa pun itu. Aku cuma mau kamu. Gimana pun kamu, aku bakal selalu jatuh buat kamu."
"Kamu tau? Gak ada yang bisa bahagia selamanya, Na. Aku sedih, kecewa, sakit, semua itu bagian dari kehidupan. Aku bahkan gak bisa janji buat bikin kamu bahagia. Aku cuma bisa janji, aku akan selalu ada buat kamu. Aku cuma butuh itu. Aku cuma butuh kamu ada di sampingku. Itu aja."
Mendengar kalimat panjang yang keluar dari mulut Barra, membuat pertahanan Lina runtuh. Air mata wanita itu tumpah ruah membasahi pipinya, isakannya terdengar, bahkan tubuh mungilnya bergetar. Barra sibuk mengusap air mata wanita itu dengan sabar. Lalu, Lina membawa tangan kiri Barra turun dari pipinya untuk dia amati di atas pangkuan. Gelang tali pemberiannya masih melingkar di sana.
"Kamu masih pakai gelangnya." ujar Lina sambil terisak.
"Gak pernah aku lepas."
Air mata Lina menetes untuk kesekian kali, dan Barra mengusapnya untuk kesekian kali juga.
"Aku boleh egois?" Lina menatap lurus pada Barra dengan matanya yang sembab. "Aku mau kamu. Aku mau bareng kamu lagi."
Langit berubah mendung, air mata Lina tertahan di kelopaknya, namun Barra tak mampu menahan senyum di bibirnya. Dia tersenyum lebar seperti orang paling bahagia di muka bumi. Sebelah tangannya mengusap pipi Lina lembut. "Gak perlu tanya. Aku selalu buat kamu. Aku sayang kamu, Na!"
Barra masih bertumpu pada lututnya, saat dia mendekat pada Lina, lalu mengecup bibir wanita itu sekali. Barra tidak bisa menahan senyumnya saat sepasang manik mereka bertemu dalam perasaan yang saling memeluk. Bahkan air mata Lina terhenti saat itu juga. Isakan wanita itu mengecil saat dia cemberut seraya berkata, "I miss you..." yang mana membuat Barra tertawa.
"Aku lebih." ujar Barra singkat.
Kemudian dengan berani, pria itu kembali mendekat pada wanitanya, membawa bibir mereka untuk saling bertemu menuntaskan rindu. Perasaan gugup yang menyenangkan, menuntun keduanya saling mencium lebih dalam satu sama lain. Sang pria memimpin, membawa ciuman mereka semakin dan semakin dalam. Seakan dunia milik berdua, tak ada yang bisa menghentikan keduanya. Kecuali tetesan air yang jatuh membasahi pipi Lina, sehingga wanita itu menjauh lebih dulu.
Tanda tanya besar terlihat jelas dari air muka Barra, saat Lina mengusap pipinya yang basah. Tak perlu menunggu lama, tetesan air hujan mulai turun tanpa ampun, membasahi keduanya dengan tiba-tiba.
"Hujan!" Lina berseru.
"Sial!" Barra menatap kesal ke arah langit. "Kata ramalan cuaca gak bakal hujan!"
"Aku bilang ramalan cuaca gak pernah tepat!"
Barra buru-buru memayungi Lina dengan kedua telapak tangannya yang terbentang di atas kepala wanita itu. "Ayo cari tempat teduh yang dekat ya? Biar aku yang ambil mobil." suara Barra meninggi, seiring dengan suara hujan yang semakin bising.
"Udahlah! Lagian udah basah semua!"
"Kalau gitu, lari!" Barra bangun, tangannya masih memayungi Lina, walaupun percuma.
Senyum Lina merekah lebar. Kemudian wanita itu bangun, dengan jarak keduanya yang terlampau dekat, Lina mengecup sekali bibir pria di hadapannya, lalu berlari meninggalkan Barra yang masih terkejut.
"Loh? Mana bisa kayak gitu!" protes Barra seraya mengejar Lina, berusaha memayungi wanita itu.
"Kenapa gak bisa?"
"Curang!"
Tawa keduanya terdengar di sela-sela rintik hujan yang semakin deras, seirama dengan langkah mereka yang berlari menjauh. Hujan hari ini bukan hanya menghapus air mata Lina yang sempat mengalir. Namun juga menjadi saksi, bagaimana keduanya saling memeluk perasaan satu sama lain. Saling menuntaskan rindu. Saling memiliki.
Lima tahun penantian mereka berakhir di sini. Dan kisah mereka, kembali belanjut di sini.
•••
•End•
•••